Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 44. Kabar Mengejutkan.


__ADS_3

Rangga terkesiap saat pintu kamarnya didobrak paksa oleh seseorang, apalagi saat melihat siapa sosok yang telah membuka pintu tersebut.


"Ro-rolize?"


Rolize mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya memerah penuh emosi, dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas dimatanya.


Rangga segera memundurkan tubuhnya dari tubuh Megan. "Ro-rolize, ini, ini tidak-"


Buak.


Seketika tubuh Rangga terjungkal ke lantai saat mendapat pukulan dari Rolize.


"Beraninya kau menyakiti istriku!"


Rolize berjalan cepat ke arah Rangga yang masih tergeletak di atas lantai, dia lalu menindih tubuh laki-laki itu dan kembali melayangkan pukulan-pukulan ke wajahnya.


Megan yang melihat Rolize langsung tersenyum senang, dia lalu berusaha untuk memanggil laki-laki itu sambil menahan sakit di perutnya.


"Ya Tuhan, kenapa perutku sakit sekali?"


Keringat dingin menjalar ke seluruh tubuh Megan dengan rasa sakit yang teramat dalam. Lalu tiba-tiba dia melihat ke arah bawah saat merasa ada sesuatu yang mengalir di antara kedua kakinya.


"Da-darah?"


Mata Megan membulat sempurna saat melihat darah segar mengalir di kakinya, lalu dia kembali mengernyit kesakitan saat merasa perutnya seperti sedang di remmas-remmas dengan kuat.


Daris yang baru saja masuk ke dalam kamar itu setelah menolong Jean tersentak kaget saat melihat keadaan Megan, dengan cepat dia berjalan ke arah sang tuan yang masih menghajar Rangga dengan brutal.


"Sudah cukup, Tuan,"


"Tidak. Aku harus membunuh bajing*an ini dengan tanganku sendiri."


Rolize terus memukuli Rangga sampai laki-laki itu babak belur dan terlihat sangat mengenaskan.


"Hentikan, Tuan. Tolong lihat kondisi nona Megan."


Tangan yang akan kembali memukul Rangga menggantung diudara saat mendengar nama Megan, sontak Rolize membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah sang istri.


Deg.


Mata Rolize membulat sempurna saat melihat Megan tergeletak tidak sadarkan diri, dengan cepat dia beranjak bangun untuk menghampiri wanita itu.

__ADS_1


"Sa-sayang, apa, apa yang terjadi padamu?"


Rolize menepuk-nepuk pipi Megan membuat wanita itu mengernyitkan kening, tetapi kedua matanya masih terpejam dengan erat.


"Ini aku, Sayang. Aku sudah datang, tolong buka matamu."


Rolize berusaha untuk membangunkan Megan dengan dada berdegup kencang, dia benar-benar menyesal karena terlambat datang ke tempat itu.


"Sayang, ini-"


Deg.


Rolize tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat darah mengalir di kaki Megan, sontak dia mengangkat wanita itu dan membawanya keluar dari sana.


"Sayang, aku mohon bertahanlah."


Rolize segera membawa Megan keluar dari apartemen itu dengen diikuti oleh Daris, sementara anak buah mereka segera membereskan Rangga.


Mereka segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Rolize terus menggenggam tangan Megan dengan perasaan takut dan khawatir.


"Lebih cepat lagi, Daris."


Daris menganggukkan kepalanya dan semakin menekan pedal gasnya, tetapi jalanan yang sedikit ramai membuat mobil mereka tidak bisa melaju dengan kencang.


Untuk pertama kalinya mata Rolize basah karena mengkhawatirkan keadaan sang istri tercinta, apalagi saat melihat darah yang mengalir di kaki wanita itu.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Rolize segera membawa Megan keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat itu.


"Dokter!"


Suara Rolize menggema di tempat itu membuat seorang Dokter dan beberapa perawat menghampiri mereka dengan membawa banker. Rolize segera meletakkan Megan di atas banker itu, lalu mereka membawanya ke ruang IGD.


"Mohon tunggu di luar, Tuan."


Rolize menghentikan langkahnya saat Megan di bawa ke ruang IGD, dia terpaksa menunggu di luar karena tidak diperbolehkan untuk masuk.


"Tenanglah, Tuan. Saya yakin jika nona pasti baik-baik saja," ucap Daris mencoba untuk menenangkan sang tuan.


Rolize mengusap wajahnya dengan kasar. Andai dia tidak datang terlambat, atau andai saja dia bersama dengan Megan, maka semua ini tidak akan terjadi.


"Tidak. Semua ini adalah salahku, seharusnya aku berada di sampingnya dan tidak meninggalkannya di tempat itu."

__ADS_1


Rolize benar-benar sangat menyesal. Beberapa saat yang lalu dia sudah meminta Megan untuk menunggunya, dan jangan masuk ke dalam apartemen Rangga seorang diri. Namun, ternyata wanita itu tidak mendengar apa yang dia katakan hingga akhirnya menjadi seperti ini.


"Anda sudah melakukan hal yang benar, Tuan. Begitu juga dengan nona Megan, dia berusaha untuk menyelamatkan nona Jean."


Rolize mendessah frustasi sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di tempat itu. Saat ini dia hanya bisa berdo'a agar Megan baik-baik saja, dan tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa wanita itu.


Sementara itu, Jean yang juga sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Megan segera beranjak turun dari ranjang. Dia baru saja mendapat kabar dari salah satu anak buah Rolize jika Megan dibawa ke rumah sakit itu juga.


"Aku harus melihat bagaimana keadaannya, semoga dia baik-baik saja."


Dengan perlahan, Jean mencoba untuk berjalan keluar sambil berpegangan pada tiang infus. Lalu ada seorang perawat yang menahan langkahnya.


"Aku ingin melihat keadaan adik iparku."


Tanpa sadar Jean mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Kalau gitu tunggu sebentar, Nona. Saya akan mengambilkan kursi roda untuk Anda."


Jean langsung mengangguk membuat perawat itu segera pergi untuk mengambilkan kursi roda, sementara dia sendiri menunggu di depan ruang perawatannya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu IGD terbuka membuat Rolize dan Daris segera menghampiri Dokter.


"Bagaimana keadaan istriku, dia baik-baik saja kan?" tanya Rolize dengan tajam.


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum lebar. "Syukurlah Anda langsung membawa pasien ke rumah sakit, jadi kami bisa menyelamatkan janin yang sedang beliau kandung."


Rolize menghela napas lega saat mendengar ucapan Dokter, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tertinggal.


"Tu-tunggu, apa, apa yang kau katakan tadi?"


Dokter itu kembali tersenyum, sepertinya laki-laki itu tidak tahu jika saat ini pasiennya sedang mengandung.


"Selamat, Tuan. Saat ini istri Anda sedang hamil."


"A-apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2