
"Lepaskan tanganku!"
Jean memberontak saat Rangga menarik paksa tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu, sementara Rangga merasa tidak peduli dan terus menarik tangan wanita itu.
Rangga berjalan ke arah di mana mobilnya berada, dengan cepat dia membuka pintu mobil itu dan melempar Jean ke dalamnya.
Bruk.
Jean meringis kesakitan saat punggungnya menghantam bagian dalam mobil, dengan cepat dia beranjak bangun sambil memegangi pinggangnya.
Brak.
Tubuh Jean terlonjak kaget saat Rangga masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan kasar.
"Kenapa kau membawaku ke sini, hah? Apa kau takut jika aku- hegh."
Jean tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Rangga mencekiknya dengan kuat.
"Sudah aku katakan jangan ikut campur urusanku!"
Jean memejamkan kedua matanya karena cekikan Rangga semakin kuat. Napasnya terasa sesak, dia bahkan sampai terbatuk-batuk.
"Ra-Rangga. Sa-sakit."
Jean berusaha untuk melepaskan cekikan itu, tetapi Rangga malah semakin menguatkannya untuk beberapa saat.
"Hah, hah, hah."
Jean bernapas dengan tersengal-sengal saat Rangga melepaskan cekikannya. Kemudian laki-laki itu segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju ke jalanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Megan yang ternyata mengikuti mereka jelas melihat semuanya, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang Rangga lakukan. Dengan cepat dia memanggil taksi dan segera mengikuti mobil mereka, dia sangat khawatir jika laki-laki itu melakukan sesuatu pada Jean.
Beberapa saat kemudian, mobil Rangga sudah sampai di depan apartemen. Dengan cepat dia keluar dari mobil dan kembali menarik tangan Jean walaupun wanita itu memberontak.
"Lepaskan aku, Rangga. Kau benar-benar laki-laki gila,"
"Diam!"
Jean langsung terkesiap dan terdiam, sementara Rangga terus menatap lurus ke depan dengan penuh emosi.
Megan yang juga sudah sampai di tempat itu bergegas masuk ke dalam apartemen. Dia mengendap-ngendap bak maling karena takut jika mereka melihatnya.
Dia lalu masuk ke dalam lift dan memencet angka 3, persis seperti yang Rangga lakukan tadi.
Sesampainya di dalam unit apartemen, Rangga langsung menghempaskan tubuh Jean dengan kasar sampai membentur sofa.
"Sudah puas kau, sudah puas kau menghancurkan semuanya, hah?" bentak Rangga. Selama ini dia sudah menahan diri, tetapi sekarang tidak lagi.
Jean menatap laki-laki itu dengan nyalang, dia lalu beranjak bangun sambil menahan sakit di kakinya.
"Puas kau bilang? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Sudah puaskah kau bermain dengan j*a*l*a*ngmu itu?"
__ADS_1
Plak.
Sebuah tamparan langsung melayang ke wajah Jean membuatnya terdiam dengan tidak percaya.
"Jika sekali lagi kau berani mengatainya, maka aku tidak akan segan-segan untuk merobek mulutmu."
Deg.
Jean tersentak saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Kau membela wanita itu?" Dia menatap dengan tidak percaya.
"Ya. Aku bukan hanya membelanya, tapi juga mencintainya."
Dada Jean terasa seperti ditimpa oleh batu besar saat mendengar ucapan Rangga. Bagaimana mungkin laki-laki itu mengatakan hal demikian di hadapannya?
"Kenapa, kau terkejut?"
Rangga memajukan langkahnya dan langsung mencengkram wajah Jean dengan erat. Jean kembali memberontak, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan laki-laki itu.
"Dengarkan aku baik-baik." Rangga berkata tepat di depan wajah Jean. "Aku menikahimu bukan karena cinta, tetapi karena jabatan dan juga hartamu. Jadi jangan merasa sombong dan mengatai wanita yang aku cintai."
Deg.
Bukan hanya Jean saja yang merasa terluka dengan apa yang Rangga katakan, bahkan Megan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu merasa sangat sakit.
Rangga lalu melepaskan cengkraman tangannya membuat Jean langsung memegangi wajahnya yang terasa sakit.
"Kau benar-benar laki-laki brengs*ek, Rangga. Kau bajing*an terkutuk."
Merasa sangat marah dan juga dipermalukan, Jean langsung meludahi wajah Rangga membuat laki-laki itu berkobar marah.
"Beraninya kau!"
Jean segera berlari ke arah pintu, tetapi tangannya langsung dicekal dan kembali di hempaskan ke lantai.
"Aargh!"
Jean mengerrang sakit saat tubuhnya menghantam lantai. Dengan cepat Rangga duduk di atas tubuhnya membuat dia segera memberontak.
Plak.
Plak.
Plak.
Tiga buah tamparan langsung mendarat di pipi Jean membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah, tetapi semua itu belum cukup bagi Rangga.
"Lepaskan aku! Tolong, to- eemp."
Rangga langsung membekap mulut Jean sambil melepaskan ikat pinggang di celananya. Dia harus memberi wanita itu pelajaran agar tidak bersikap kurang ajar.
Jean terus memberontak sambil memukul-mukul lengan Rangga, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
Rangga yang sudah kalap segera mengangkat tangannya yang sedang memegang ikat pinggang, dan bersiap untuk mencambuk tubuh Jean.
Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan ikat pinggang itu membuat Rangga langsung menoleh ke belakang.
Buak.
"Dasar laki-laki gila!"
Megan langsung menendang wajah Rangga membuat laki-laki itu terjungkal ke depan, sementara Jean membulatkan matanya saat melihat wanita itu
"Apa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jean dengan heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Jean, Megan segera membantu wanita itu untuk beranjak bangun.
"F*uck! Beraninya kau ikut campur."
Rangga semakin murka, membuat Megan dan Jean harus segera pergi dari tempat itu. Namun, tangan cepat Rangga kembali mencekal tangan Jean lalu kembali menghempaskannya.
Brak.
"Aargh."
Jean memekik kesakitan saat tubuhnya menghantam meja, kemudian Rangga melihat Megan dengan tajam dan bersiap untuk menangkapnya.
"Lepaskan aku!"
Melihat Megan di tarik oleh Rangga, membuat Jean berusaha bangun untuk menolong wanita itu dengan susah payah.
Rangga terus menarik Megan untuk masuk ke dalam kamar. Sudah lama dia ingin menikmati tubuh wanita itu, dan sekarang saat yang sangat tepat.
"Lepaskan aku brengs*ek!"
Megan menggigit tangan Rangga membuat laki-laki itu menjerit sakit dan melepaskan cekalannya, dengan cepat dia berlari ke arah pintu untuk kabur.
Sangking buru-burunya, kaki Megan tersandung karpet dan membuatnya terjungkal ke lantai.
"Aargh!"
Megan memekik kesakitan sambil menyentuh perutnya, membuat Rangga tersenyum lebar. Dia segera mendekati wanita itu dan bersiap untuk menikmatinya.
Brak.
"Beraninya kau menyakiti istriku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1