
Rolize menatap Megan dengan tajam membuat wanita itu menelan salivenya dengan kasar.
"Jadi, kau merasa bahwa aku tidak penting?"
Megan langsung panik dan berusaha keras untuk mencari alasan. "Bu-bukan seperti itu, sayang. Maksudku kau sama sekali tidak penting untuk mereka, tapi sangat penting untukku. Dan, dan aku tidak mau mengenalkanmu pada mereka karena takut."
"Takut?" Rolize mengenyitkan keningnya dengan bingung.
Megan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku takut kalau nanti kau tertarik pada mereka. Soalnya mereka lebih cantik dan lebih menarik dariku, dan aku tidak mau kehilanganmu."
Seketika wajah Rolize bersemu merah mendengar ucapan Megan, sementara Megan sendiri mengusap dadanya yang berdebar-debar karena panik.
"Apa kau tau, ada berapa banyak wanita yang tertarik padaku, Megan?" tanya Rolize membuat Megan melihat ke arahnya.
"Me-memangnya kenapa?" Kini gilirannya yang tidak mengerti.
"Ada banyak sekali wanita cantik yang tertarik padaku. Jadi, berusaha lah agar aku tidak tertarik pada mereka,"
"Apa?" Megan tersentak kaget, sementara Rolize beranjak turun dari ranjang.
"Apa maksudnya sih? Apa dia ingin mengatakan kalau dia itu idaman para wanita? Kalau itu, aku juga tau!"
"Berhati-hatilah agar aku tidak tertarik pada mereka." Dia berjalan ke arah kamar mandi membuat Megan dilanda kebingungan. "Siapkan air, aku mau mandi."
"Ba-baik." Megan lalu menyusul langkah Rolize dan melupakan apa yang laki-laki itu ucapkan.
Pada saat yang sama, Daris baru saja sampai di apartemen miliknya. Dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam tempat itu.
Keadaan apartemen sangat gelap karena memang hanya Daris sendirilah yang tinggal di sana. Dia segera menekan tombol yang ada di dekat pintu, lalu semua lampu hidup secara otomatis.
Daris meletakkan kunci mobil beserta tas kerjanya ke atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang televisi.
__ADS_1
"Hah, tubuhku lelah sekali." Daris merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Dia lalu membuka jas yang masih terpasang di tubuhnya dan mengambil ponsel yang berada di saku.
Daris mulai masuk ke halaman pencarian dengan kata kunci bulan madu, untuk menentukan tempat serta apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk tuan dan nonanya.
"Tapi, apa tuan benar-benar tidak masalah dengan perbuatan nyonya tadi? Kenapa nyonya selalu membuat masalah sih? Seharusnya dia kasihan dengan tuan yang sudah lelah mengelola perusahaan." Dia merasa kesal sendiri jika keluarga Rolize terus membuat masalah, tanpa mereka ketahui bahwa laki-laki itu sudah sangat dipusingkan dengan urusan perusahaan.
Kemudian Daris fokus untuk membaca artikel-artikel yang sudah tertera dilayar ponselnya untuk menyiapkan bulan madu, dia juga harus segera mengatur ulang jadwal Rolize karena laki-laki itu ingin berangkat dalam minggu ini juga.
Setelah cukup, Daris berjalan masuk ke dalam kamar sambil mematikan lampu yang ada di apartemen dan menyisakan di bagian ruang televisi saja.
Semua kegiatan hari ini berjalan baik, dan cukup membuatnya lelah. Daris lalu segera membersihkan diri dan setelah selesai, dia merebahkan diri di bawah selimut dan langsung terpejam begitu mencium bantal.
****
Beberapa hari telah berlalu sejak Rolize meminta untuk pergi bulan madu, dan akhirnya hari inilah mereka akan berangkat ke salah satu pulau yang sangat cantik dan menjadi favorit bagi semua pasangan untuk bulan madu.
Megan yang kemaren malam baru diberitahu tentang keberangkatan mereka tentu merasa sangat panik, apalagi dia belum menyiapkan apapun untuk dibawa pergi.
"Bagaimana aku tidak panik? Kau baru mengatakannya semalam, dan itu pun sudah sangat malam. Bagaimana aku bisa bersiap?" ucap Megan denga kesal dan juga sebal.
"Jadi kau menyalahkanku?" Yang mulia raja merasa tidak terima.
"Tentu saja. Kalau bukan kau yang salah, lalu siapa lagi?" Ingin sekali Megan mengatakan semua itu.
"Tidak, Sayang. Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, kau kurang cepat untuk memberitahukannya padaku,"
"Itu kan sama saja!" ucap Rolize dengan ketus.
Megan hanya bisa menghela napas kasar saat melihat apa yang terjadi, dan tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini.
"Ya sudah kalau kau tidak suka, aku bisa membatalkan semuanya,"
__ADS_1
"Apa? Siapa yang bilang tidak suka, Sayang? Aku sangat suka. Terima kasih ya, Sayangku." Megan memeluk lengan Rolize untuk menenangkan amarah yang mulia raja.
"Cih. Padahal tidak tau apa yang ingin kau persiapkan."
Megan diam saja saat mendengar apapun yang Rolize katakan, karena dia tidak mau semakin menambah masalah yang akan merugikan diri sendiri.
"Sudah lama sekali aku ingin pergi ke pulau itu, jadi jangan sampai dia membatalkannya. Aah, aku sudah tidak sabar." Ingin sekali Megan berteriak seperti itu, tetapi tentu saja tidak bisa melakukannya karena ada Rolize.
Setelah beberapa persiapan, akhirnya Rolize, Megan dan juga Daris berangkat untuk bulan madu. Dan yang menjadi pertanyaan, kenapa Daris juga ikut bersama mereka?
"Oma, kenapa Kak Daris juga ikut? Apa ada, orang yang pergi bulan madu mengajak sekretarisnya?" tanya Aura yang saat ini sedang bersama oma Agni.
"Kau ini seperti tidak tau kakakmu saja. Dia pasti tidak ingin repot mengurus semua keperluan mereka di sana."
Aura menganggukkan kepalanya. "Tau gitu, aku juga ikut bersama dengan Kak Daris."
"Kau bilang apa?" tanya oma Agni yang tidak terlalu mendengar gumaman Aura.
"Ti-tidak, Oma. Aku cuma bilang lapar, aku makan dulu ya." Aura beranjak pergi dari tempat itu menuju dapur, karena saat ini dia benar-benar merasa lapar.
Lain hal dengan oma Agni yang merasa senang karena Rolize dan Megan bulan madu. Mama Falesha dan juga Jean merasa sangat kesal, bahkan membanting salah satu barang yang ada di dalam kamar.
"Kita harus segera mendekatkan Rolize dengan wanita lain, Ma. Ada temanku yang tau kalau Megan itu seorang wanita malam, dan aku merasa sangat malu," ucap Jean dengan kesal.
"Kau tenang saja. Semalam Eve menelepon mama dan memohon agar kembali diizinkan untuk mendekati Rolize."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.