Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 15. Kedatangan Tamu Tidak diundang.


__ADS_3

Megan berlalu pergi dari ruangan itu menuju kamar tanpa menghiraukan umpatan dari mereka semua. "Cih, cuma segitu saja tidak akan mempan padaku." Dia lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


Oma Agni yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran antara Megan dengan keluarga Rolize, tampak menyunggingkan senyum tipis. "Wanita yang tangguh. Dia pasti bisa menghadapi kejamnya dunia ini." Dia lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan sesuatu.


Megan yang sudah berendam di dalam bathtub dengan air hangat benar-benar merasa segar dan nyaman, apalagi di tambah dengan aroma terapi yang benar-benar sangat menenangkan.


"Abis ini, aku mau ngapain ya?" Megan merasa bingung sendiri. Tidak ada yang bisa dia lakukan di dalam rumah ini, apa lagi saat melihat penunggunya yang selalu saja memancing keributan.


"Sepertinya aku harus segera mencari kesibukan, atau aku akan mati kaku karena emosi di dalam rumah ini terus." Megan lalu beranjak keluar dari bathtub dan segera membilas tubuhnya, setelah itu dia keluar dari sana dan bergegas untuk memakai pakaian.


Pada saat yang sama, di perusahaan Light group. Terlihat Rolize sedang sibuk berkutat dengan segudang pekerjaannya, sambil ditemani secangkir kopi yang baru saja di hidangkan oleh Daris.


"Hah." Rolize merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dia lalu menyandarkan tubuhnya sambil mendongakkan kepala, melihat langit-langit ruangan itu.


Brak.


Rolize terjingkat kaget saat tiba-tiba pintu ruangannya di buka paksa oleh seseorang, dan terlihat Daris berdiri sambil memegang tangan seorang wanita.


"Lepaskan aku, Daris!" bentak seorang wanita yang sangat dikenal oleh Rolize membuat laki-laki itu menatap mereka dengan tajam.


"Keluar dari sini sekarang juga, atau saya akan menyeret Anda secara paksa!"


Tubuh Eve bergetar saat mendengar apa yang Daris katakan, tetapi semua itu tidak akan membuatnya gentar. Dia lalu melihat ke arah Rolize yang juga sedang melihatnya.


"Roli, tolong aku." Dia menatap Rolize dengan sendu membuat laki-laki itu menghela napas kasar.


"Lepaskan dia, Daris."

__ADS_1


Daris langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar membuat Eve meringis sakit, dia lalu beranjak mendekati Rolize dan berdiri tepat di samping laki-laki itu.


"Ada apa, Eve? Kenapa kau datang ke sini?" tanya Rolize dengan pandangan tidak suka, tetapi wanita itu merasa tidak peduli dan terus berjalan untuk mendekatinya.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua saja denganmu, Roli." Eve melirik ke arah Daris yang tetap diam tidak bergeming, padahal dia sedang mengusir laki-laki itu secara halus.


"Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, Eve."


Rolize kembali mendudukkan tubuhnya ke atas kursi, karena tadi dia memang sempat berdiri sangking kagetnya.


"Aku mohon, Roli. Tolong kasi kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya." Eve menangkupkan kedua tangannya di depan dada penuh harap, tentu saja dengan berlinang air mata membuat Daris langsung berdecak kesal.


"Cih. Dia pasti ingin kembali lagi dengan tuan muda." Daris memalingkan wajahnya karena enggan untuk bersitatap mata dengan wanita itu. Lebih baik dia melihat patung, dari pada Eve.


Eve yang mendengar Daris berdecak kesal langsung menatap laki-laki itu dengan tajam. "Kenapa dia terlihat lebih kesal dari pada Rolize, sih? Memangnya apa yang aku lakukan padanya?" Dia merasa bingung sekaligus kesal.


"Ba-baik. Tapi, bisakah dia keluar dari sini? Aku hanya ingin bicara berdua saja denganmu." Eve lagi-lagi mengusir Daris dari ruangan itu, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli.


"Kenapa dia tidak punya malu sama sekali sih? Untuk apa dia menguping pembicaraan orang lain?"


"Jangan hiraukan dia, anggap saja dia itu sebuah patung," ucap Rolize.


"Patung? Bagaimana aku bisa menganggapnya patung kalau matanya terus menatapku dengan tajam seperti itu?"


"Jika kau tidak mau bicara, maka aku akan menyuruh Daris untuk-"


"Tu-tunggu sebentar, Roli. Aku, aku akan mengatakannya."

__ADS_1


Rolize tersenyum sinis lalu menarik napas panjang, entah kenapa saat ini jantungnya tidak berdegup kencang seperti biasanya.


"Aku, aku mohon maafkan aku, Roli." Eve bersimpuh di hadapan Rolize membuat laki-laki itu tersentak kaget. "Aku tau kalau selama ini aku telah berbuat salah dan menyakitimu, Roli. Tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, aku, aku terpaksa melakukannya,"


"Heh." Daris mengejek apa yang saat ini Eve katakan, membuat wanita itu mengepalkan tangannya.


Namun Eve tetap tidak bergeming dan tidak menyudahi apa yang dia lakukan saat ini. Dia harus kembali mendapatkan Rolize bagaimana pun caranya, walaupun dia harus bersujud dikaki laki-laki itu.


"Apa kau sudah selesai, Eve?"


Eve mendongakkan kepalanya dan memandang Rolize dengan sendu. Bagaimana mungkin laki-laki itu tidak tersentuh sama sekali dengan apa yang dia lakukan? Padahal dulu jika dia menangis sedikit saja, maka Rolize akan langsung meminta maaf walaupun laki-laki itu tidak melakukan kesalahan.


"Sekarang kau sudah bisa pergi, Eve. Karna aku sudah mendengar-"


"Aku mohon, Roli. Aku mohon." Eve kembali membujuk Rolize, tetapi sepertinya laki-laki itu tidak akan terpengaruh sama sekali.


"Kenapa, kenapa kau setega ini padaku, Roli?"


"Kenapa kau bilang?" Rolize beranjak bangun dari duduknya dan mendekati wanita itu. "Aku seperti ini karena mu, Eve. Hatiku menjadi mati seperti ini karena pengkhianatan yang telah kau lakukan."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2