Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 29. Tawaran Mama Falesha.


__ADS_3

Rolize yang baru sampai di rumah segera berjalan menuju kamar, dia sudah tidak sabar untuk membersihkan diri juga tidak sabar untuk melihat sang istri.


Namun, langkahnya terhenti di depan pintu saat mendengar suara seseorang yang tidak terlalu jelas. Dia lalu membuka pintu kamar itu dan terkejut melihat keberadaan mamanya.


Apalagi saat mendengar semua yang mama Falesha katakan, serta cek yang mamanya letakkan di atas meja. Tangan Rolize mengepal kuat dengan rahang mengeras, menandakan jika saat ini dia benar-benar murka.


Rolize yang akan masuk ke dalam kamar di tahan oleh seseorang membuat dia melihat ke arah belakang. "Kau? Apa yang kau lakukan, Daris?" Dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Jangan masuk, Tuan,"


"Apa? Kenapa, kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Rolize dengan suara tertahan.


Tanpa menjawab ucapan Rolize, Daris segera menutup pintu itu dan menyisakannya hanya sedikit saja agar Megan dan Mama Falesha tidak menyadari keberadaan mereka.


"Daris!"


"Anda harus tenang, Tuan. Apa Anda tidak penasaran, dengan apa yang nona Megan lakukan setelah ini?"


"Tidak, aku sama sekali tidak penasaran." Rolize hendak kembali membuka pintu itu, tetapi lagi-lagi ditahan oleh Daris membuatnya benar-benar kesal.


Buak.


"Aarrg!" Daris memekik tertahan saat Rolize menendang kakinya dan mengenai tepat ditulang keringnya.


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya sedang kau lakukan. Tapi baiklah, aku akan menahan diri dan tidak masuk ke dalam." Rolize lalu kembali melihat ke arah kamar tanpa merasa bersalah sama sekali.


Daris mengibas-ngibaskan kakinya yang masih terasa sakit, dia lalu berdiri dibelakang Rolize untuk mengawasi sekitaran agar tidak ada yang melihat apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


Megan lalu tersenyum simpul sambil memegang cek yang diberikan oleh mama Falesha, membuat wanita paruh baya itu juga ikut tersenyum.


"Benar. Wanita sepertimu memang gila harta, dan kau menikahi putraku pasti karna menginginkan hartanya."


"Apa aku benar-benar bisa menulis berapa pun yang aku minta?" tanya Megan membuat Rolize ketar-ketir.

__ADS_1


"Tentu saja. Tulis berapa pun uang yang kau inginkan, dan semua itu akan menjadi milikmu."


Megan menganggukkan kepalanya. "Aku merasa senang sekali, Ma. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya." Dia kembali meletakkan cek itu ke atas meja membuat Rolize tersenyum lebar.


"Kenapa, apa kau masih merasa kurang, hah?" tanya mama Falesha dengan heran.


Megan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Itu malah sudah sangat berlebihan untukku. Tapi, aku tidak bisa menukar tuan Rolize dengan uang, karena dia jauh lebih berharga dari berapa pun uang yang ada di dunia ini."


"Kau jangan main-main, Megan! Aku bisa mengusirmu dari rumah ini kapan pun aku mau, dan aku masih kasihan padamu hingga memberikan semua ini. Apa kau pikir kau ini istimewa, hah?" Mama Falesha menjadi murka.


"Tidak, Ma. Aku tidak pernah berpikir kalau aku istimewa atau apapun itu, aku hanya mengatakan betapa penting dan berharganya tuan Rolize," ucapnya dengan tenang.


"Kau lihat saja, tidak lama lagi Rolize pasti akan menceraikanmu dan mengusirmu dari tempat ini!"


"Baiklah, Ma. Aku akan menunggu saat-saat itu."


Mama Falesha mengepalkan tangannya dan beranjak pergi dari tempat itu, membuat Rolize dan juga Daris langsung bersembunyi di ruang kerja yang persis berada di samping kamar.


Mama Falesha menutup pintu kamar itu dengan kasar. "Sombong sekali dia. Tapi lihat saja, tidak lama lagi putraku pasti akan menceraikan dan mengusirnya dari rumah ini!" Kemudian dia berlalu pergi ke kamarnya dengan masih menggerutu kesal.


Setelah kepergian mama Falesha, Megan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar. Dia lalu memandang langit-langit kamar dengan sendu.


"Keluarganya saja tidak bisa menerimaku. Lalu, bagaimana dengan orang lain? Mereka pasti akan menghina dan merendahkan Rolize. Apa dia tidak memikirkan semua itu, saat menawarkan kontrak pernikahan padaku?" Dia mendessah frustasi, sampai tidak sadar kalau saat ini Rolize sudah masuk ke dalam kamar dan menatapnya dengan senyum lebar.


"Tapi sayang juga ya, ceknya tadi. Padahal aku bisa kaya raya sepanjang hidup, jika mengambilnya dan menulis jumlah uang yang aku mau. Ck ck ck." Megan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mendengar ucapan Terakhir Megan, senyum yang ada diwajah Rolize langsung lenyap saat itu juga. "Apa yang sedang kau pikirkan?"


Megan terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang. "Sa-Sayang? Kau, kau membuatku kaget!" Dia memegang dadanya yang berdebar kencang.


Rolize lalu berjalan ke arah ranjang untuk menghampiri Megan. "Makanya jangan suka melamun, kerasukan setan baru tahu!"


Megan mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Rolize, dia lalu membantu laki-laki itu untuk melepaskan jas yang sudah seharian menempel ditubuhnya.

__ADS_1


"Jadi, apa yang sedang kau pikirkan sampai melamun seperti itu?" tanya Rolize kembali. Dia ingin tahu apakah Megan mau menceritakan tentang apa yang mamanya lakukan tadi atau tidak.


Megan terdiam dan sedang berpikir apakah harus mengatakan soal mama Falesha atau tidak pada Rolize. "Tidak. Dia sudah lelah seharian bekerja di perusahaan, jadi aku tidak boleh menambah beban pikirannya lagi."


"Saya hanya sedang mengingat-"


"Jangan pakai bahasa formal!"


Megan mencebikkan bibirnya lalu mengulang apa yang ingin dia katakan. "Aku hanya sedang mengingat pertemuanku dengan teman-teman tadi."


Rolize menganggukkan kepalanya. "Begitu. Apa pertemuan itu menyenangkan?"


"Tentu saja." Megan lalu mulai menceritakan tentang pertemuan tadi dengan teman-temannya. Dia bahkan menyebutkan satu-persatu siapa teman-temannya itu dan sudah berapa lama mengenal mereka.


Rolize duduk di samping Megan sambil mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut wanita itu. Dia merasa senang saat melihat Megan tersenyum dan bersemangat seperti itu, dia tidak ingin kehilangan keceriaan yang tidak pernah terlihat di rumah ini.


"Jadi, kau tidak mengatakan pada mereka tentangku?" tanya Rolize dengan tajam.


"Tentu saja tidak. Aku tidak mau mereka tau bahwa aku menikah dengan lelaki kaya raya dan terkenal sepertimu, lagi pula itu tidak penting."


Jedar.


Megan langsung menutup mulutnya yang sudah kelepasan bicara. Sangking semangatnya cerita, dia sampai tidak sadar jika saat ini sedang bersama dengan Rolize.


"Habislah aku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2