
Gubrak.
Megan tersandung pintu saat berlari masuk ke dalam kamar, dan dia terjatuh tepat di bawah kaki Rolize yang saat itu sedang melihatnya dengan tajam.
"Sepertinya kau suka sekali jatuh, ya?" ucap Rolize membuat Megan langsung berdecak kesal.
Megan beranjak bangun sambil memegangi lututnya yang terasa sakit, dia lalu melihat ke arah laki-laki itu dengan tajam. "Saya kan jatuh karena Anda, Tuan. Sudah 2 kali saya jatuh, kalau sekali lagi jatuh pasti tulang-tulang saya semuanya patah."
"Jadi, kau menyalahkanku atas kelalaianmu sendiri, hah?" teriak Rolize dengan raut kemarahan membuat Megan mengkerut takut. "Jelas-jelas kau jatuh karna tidak memakai matamu dengan baik dan benar, tapi malah menyalahkan aku!"
"Apa, apa katanya? Jelas-jelas aku jatuh karena suara teriakannya itu, ya walaupun aku kesandung pintu karena kakiku sendiri." Megan hanya bisa ngedumel kesal dalam hati saja.
"Kenapa diam? Kau mau menyalahkan aku lagi?" Rolize melangkahkan kakinya sampai berdiri tepat di hadapan Megan, dan hanya menyisakan jarak beberapa senti saja.
"Baiklah. Maaf karna sudah menyalahkan Anda, Tuan." Megan memilih jalan aman saja, karena biar gimana pun laki-laki itu pasti tidak akan mau kalah.
"Jadi, siapa yang salah kalau bukan aku?"
Megan mengepalkan tangannya dengan erat. Tidak disangka berhadapan dengan Rolize benar-benar menguji kesabaran jiwa dan raganya, untung-untung tidak sampai membuatnya gila.
"Saya yang salah, Tuan," ucap Megan dengan suara tertahan karena geram.
Rolize tersenyum tipis lalu menyuruh wanita itu untuk memakaikan dasi dan semua perlengkapannya, tidak lupa kaos kaki dan sepatu juga.
Setelah selesai, mereka berdua beranjak keluar dari kamar menuju dapur untuk menikmati sarapan. Terlihat yang lainnya juga sudah berada di sana, menunggu kedatangan mereka.
"Tumben kau lama, Rolize?" tanya oma Agni yang duduk di kursi ujung.
"Aku lama gara-gara Megan, Oma. Gerakannya lambat sekali, aku jadi tidak bisa keluar."
Hah?
__ADS_1
Semua orang tercengang dengan pikiran yang melanglang buana ke mana-mana saat mendengar ucapan Rolize, terutama Megan yang saat ini menatap laki-laki itu dengan kaku.
"Apa, apa katanya? Apa dia ini sudah gila?"
Rolize yang tidak merasakan apa-apa langsung duduk sambil menarik tangan Megan membuat wanita itu tersentak. "Kenapa tidak duduk? Kau mau makan berdiri?"
Megan langsung mendudukkan tubuhnya di samping Rolize, dia menggelengkan kepalanya untuk menghilang pikiram kotor yang saat ini menari-nari dalam benaknya.
"Ehem. Cepat makan sarapan kalian sebelum dingin." Oma Agni berdehem untuk menyadarkan mereka yang masih terpaku karena ucapan Rolize.
Aura yang tidak tau apapun melihat ke arah Jean sambil menyenggol lengan kakaknya itu. "Kak, kenapa kalian menatap kak Rolize seperti itu? Memangnya apa maksud ucapannya tadi?"
"Hus. Anak kecil tidak boleh tau!"
"Apa? Umurku kan sudah 19 tahun, masih aja dianggap anak kecil." Aura mendengus sebal, dia lalu mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya.
Kemudian mereka semua menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja dalam diam, dan hanya suara sendok saja yang terdengar saling berbenturan.
"Kenapa hari ini kau kerja, Rolize? Bukannya kau baru saja menikah?"
"Baiklah. Tapi jangan lupa istirahat."
Rolize menganggukkan kepalanya dan berlalu dari ruangan itu dengan diikuti oleh Megan, padahal wanita itu belum menyelesaikan makannya.
Megan membawakan tas kerja Rolize lalu mengikuti langkah kaki laki-laki itu untuk keluar rumah, terlihat Daris sudah berdiri menunggu kedatangan Rolize.
"Selamat pagi Tuan, Nona." Daris menundukkan kepalanya untuk menyapa mereka.
"Selamat pagi juga, sekretaris Daris. Apa Anda sudah sarapan?" tanya Megan dengan ramah membuat Rolize langsung melihatnya dengan tajam.
"Sudah, Nona." Daris segera membukakan pintu mobil itu untuk Rolize yang masih fokus melihat Megan.
__ADS_1
Megan yang sadar akan tatapan Rolize segera memalingkan wajah ke arah laki-laki itu. "Ada apa, apa ada yang ketinggalan?"
Tanpa menjawab pertanyaan Megan, Rolize segera masuk ke dalam mobil meninggalkan wanita itu dalam kebingungan. "Cih. Dia bisa perhatian seperti itu pada orang lain, tapi kenapa aku tidak?" Dia menjadi kesal sendiri.
Megan lalu melambaikan tangannya saat mobil yang dinaiki Rolize dan Daris meninggalkan tempat itu. "Hah, akhirnya." Dia merentangkan tangan karena merasa terbebas dari beban berat saat bersama Rolize.
"Ternyata bersama dengannya benar-benar menguras emosi dan tenaga. Aku bahkan merasa sangat lelah padahal masih jam 8 pagi, benar-benar deh." Megan menghembuskan napas kasar. Dia merasa menjadi istri Rolize jauh lebih melelahkan dari pada pekerjaannya dulu.
Megan lalu masuk ke dalam rumah dan hendak kembali ke kamar, tetapi langkahnya langsung dihadang oleh mama Falesha, Jean dan juga Aura.
"Mau ke mana kamu?" tanya Jean dengan ketus sambil bersedakap dada.
"Saya mau ke kamar, Kakak ipar,"
"Cih. Kau tidak pantas memanggilku kakak ipar," cibir Jean dengan tidak suka, begitu juga dengan mama Falesha dan juga Aura.
Megan menghembuskan napas lelah. Tenyata dia bukan hanya harus menghadapi Rolize, tetapi juga keluarga laki-laki itu yang sama menyebalkannya dengan Rolize.
"Lalu, aku harus memanggil apa, Kakak ipar?"
Jean mengepalkan tangannya penuh emosi saat Megan tidak berbicara formal padanya. "Beraninya kau tidak memakai bahasa formal padaku! Memangnya siapa kau? Kau hanya orang luar yang dipungut oleh Rolize." Dia merasa benar-benar kesal.
"Kau benar, Kakak ipar. Aku hanya orang luar yang dipungut oleh adikmu, tapi sayangnya orang luar ini sudah dinikahi olehnya. Yang artinya saat ini aku adalah istri Rolize, dan juga adik iparmu," ucap Megan dengan riang gembira, padahal tangannya sudah gatal karena ingin sekali memukul mulut Jean.
"Kau jangan terlalu bangga, Megan. Karena umur pernikahanmu dan anakku tidak akan panjang," sambung mama Falesha yang sejak tadi diam memperhatikan.
Megan memasang wajah full senyuman. "Terima kasih karena sudah mengatakannya, Ma. Aku akan menunggu saat-saat itu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.