
Tidak terasa 4 hari berlalu dengan sangat cepat. Kini Rolize dan Megan serta Daris sudah berada di dalam pesawat, dan akan kembali ke negara mereka.
Sepanjang perjalanan, Megan terus memeluk lengan Rolize dengan erat dan tidak mau berpindah sedikit pun. Padahal Rolize sudah merasa pegal, dan ingin sekali menarik kepala wanita itu.
"Hah, untung saja aku orang yang paling sabar."
Daris menutup mulutnya yang hampir saja kelepasan tertawa saat mendengar apa yang Rolize katakan, membuat laki-laki itu langsung melihat ke arahnya dengan tajam.
"Apa saya harus memindahkan nona Megan, Tuan?"
Daris mencoba untuk bertanya walau hanya sekedar basa-basi, dia tahu jika saat ini Rolize pasti sedang marah karena sempat mendengar suara tawanya yang tertahan.
"Urus saja pekerjaanmu sendiri, Daris. Jangan mengurus istriku."
Rolize langsung membuang muka membuat Daris tidak habis pikir, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang tuan yang memang lain dari pada yang lain.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di bandara tujuan. Daris segera menbangunkan Rolize yang masih tidur, begitu juga dengan Megan yang selama perjalanan terus saja memejamkan mata. Tidak tahu apakah wanita itu tidur atau tewas.
Rolize mengerjapkan kedua matanya saat mendengar panggilan Daris. Kemudian dia memperhatikan keluar jendela untuk melihat apakah mereka benar-benar sudah sampai atau belum, lalu melirik ke arah Megan.
"Bangunkan dia, Daris. Jangan-jangan dia mati lagi."
Dasar Rolize. Padahal tadi dia sendiri yang melarang Daris untuk mengurusi istrinya, tapi sekarang dia malah menyuruh laki-laki itu untuk membangunkan Megan.
Daris lalu membangun Megan sampai beberapa kali, dan barulah wanita itu membuka kedua matanya.
"Kita sudah sampai, Sayang?" tanya Megan sambil melihat ke semua tempat.
"Kau ini sebenarnya tidur atau mati?" sembur Rolize membuat Megan mencebikkan bibirnya. "Apa kau tidak tahu jika lenganku hampir patah karena kepalamu, hah?"
Megan langsung menutup mulutnya dan pura-pura tidak tahu, sementara Daris hanya diam dan memilih untuk melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Aku kan tidak tahu jika lenganmu sangat lembut dan juga nyaman, itu sebabnya aku bersandar di lenganmu itu."
Mendadak Rolize jadi diam saat mendengar pujian tentang betapa hebat lengannya itu, hingga membuat kekesalannya menjadi hilang.
"Cih, kau harus memijatku nanti."
Rolize lalu beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah luar, sementara Megan tertawa tanpa suara karena berhasil membuat ocehan laki-laki itu berhenti.
Daris yang sejak tadi mendengarkan tampak tersenyum tipis. Sepertinya sedikit demi sedikit Megan berhasil mengetahui cara untuk meluluhkan hati Rolize, dan dia berharap jika wanita itu tidak sama dengan wanita di masa lalu sang tuan.
Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara menuju rumah. Sepanjang perjalanan Megan terus bercerita panjang lebar tentang bulan madunya dengan Rolize, yang seharusnya tidak perlu sama sekali diceritakan dengan laki-laki itu sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah mewah milik keluarga Rolize. Mereka segera keluar dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kalian sudah sampai?"
Megan langsung menganggukkan kepalanya dan berlari ke arah oma Agni. Dia lalu memeluk tubuh wanita tua itu membuat semua orang yang berada di sana menatap heran.
Oma Agni tersenyum saat mendengar ucapan Megan. "Oma juga merindukanmu, Megan. Bagaimana perjalanan kalian?"
Megan langsung merenggangkan pelukannya dan menceritakan tentang bulan madunya dengan Rolize, sementara Rolize sendiri sudah pergi ke ruang kerjanya bersama dengan Daris.
"Wah, sepertinya kau sangat bahagia sekali ya, Megan. Apa baru pertama kali kau pergi liburan?" tanya Jean dengan nada sindiran dan hinaan yang jelas terdengar di telinga semua orang.
Megan menganggukkan kepalanya. "Ya, selama ini aku memang tidak pernah liburan."
"Kenapa? Bukankah kau dapat banyak uang saat menjual diri?"
Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Megan berangsur surut saat mendengar ucapan Jean, sementara oma Agni sudah menatap wanita itu dengan tajam.
Megan mencoba untuk kembali tersenyum karena apa yang Jean katakan adalah benar. "Aku memang dapat banyak uang pada saat menjual diri, hanya saja dulu aku tidak pernah berpikir tentang liburan."
__ADS_1
Oma Agni tersenyum tipis saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Megan, dan dia tahu jika wanita itu berkata jujur.
"Benarkah? Bukankah para lelaki yang suka memakai wanita malam sering membawa mereka bepergian?"
Jean kembali melayangkan pertanyaannya untuk melumpuhkan mental Megan, agar wanita itu tahu diri dan merasa tidak pantas untuk bersama dengan keluarganya.
"Hanya beberapa saja yang-"
"Bukankah Kakak sudah sangat keterlaluan?"
Untuk pertama kalinya Aura mengeluarkan suara membuat Jean dan juga Falesha menatapnya dengan tajam. Dia merasa jika Jean sudah sangat keterlaluan saat ini.
"Kau bilang apa, Aura?" tanya Jean kembali. Berani sekali adiknya berkata seperti itu padanya.
"Apa pendengaranmu itu bermasalah, Jean? Hingga tidak bisa mendengar ucapan adikmu?"
Jean langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan oma Agni, sementara Megan juga diam karena merasa terharu sudah dibela oleh Aura dan juga oma.
"Seharusnya kau malu dengan adikmu, Jean. Aura saja bisa bersikap dewasa dan tidak merendahkan orang lain, tapi kau? Kau merasa paling hebat dan tinggi dari pada yang lainnya, seharusnya kau fokus saja pada rumah tanggamu dan cobalah untuk mandiri. Agar tidak selalu bergantung pada rumah ini."
Jean benar-benar merasa tersinggung dengan apa yang oma Agni katakan. "Jadi maksudnya, Oma mengusirku?"
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karya baru aku ya 😍
__ADS_1