Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 19. Ucapan Terima Kasih yang Manis.


__ADS_3

Megan segera masuk ke dalam mobil dengan napas tersengal-sengal karena berlari dari dalam ruangan, dan terlihat Rolize duduk tenang tanpa melihat ke arahnya.


Tidak berselang lama, Daris masuk ke dalam mobil itu dan langsung melajukannya untuk mengantar Megan pulang. Setelah itu, mereka akan kembali ke perusahaan.


Sepanjang perjalanan, Rolize terus melihat ke arah jalanan tanpa melirik ke arah Megan sedikit pun. "Lihat, dia bahkan tidak berusaha untuk membujukku!" Perasaan yang sudah kesal bertambah kesal saja saat ini.


Megan sendiri beberapa kali melirik ke arah Rolize, tetapi dia tidak berani untuk membuka suaranya karena takut terkena amukan dari laki-laki itu.


Daris yang sedang mengemudikan mobil beberapa kali menghembuskan napas kasar saat melibat tuan dan nonanya, entah kenapa dia merasa bingung sekaligus lucu melihat mereka berdua seperti itu.


Tidak berselang lama, sampailah mereka di halaman rumah mewah keluarga Rolize. Megan segera turun dari mobil, sementara Rolize masih duduk diam di kursinya.


"Terima kasih karena sudah mengantarku, Daris," ucap Megan saat sudah keluar dari mobil.


"Ucapkan itu pada tuan muda, Nona. Bukan saya."


Megan langsung menggelengkan kepalanya. "Memangnya aku mau diamuk dia apa?"


"Tuan pasti akan membaik jika Anda mengucapkan terima kasih,"


"Benarkah?" tanya Magen dengan tidak percaya, dan di balas dengan anggukan kepala Daris.


Megan terdiam untuk beberapa saat. "Kau jangan main-main ya, Daris. Kalau dia semakin marah gimana?" Dia merasa takut, resah dan gelisah.


Daris menghela napas kasar, dia yang akan mengatakan sesuatu kalah cepat dengan suara teriakan Rolize.


"Mau sampai kapan kita di sini?"


Nyali Magen semakin menciut saat mendengar suara teriakan itu, sementara Daris segera masuk ke dalam mobil. Namun, Daris masih melihat ke arah Megan dengan harapan kalau wanita itu mau memadamkan api kemarahan yang tidak pernah padam dalam hati Rolize.


Megan yang seolah paham dengan tatapan Daris menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. "Baiklah. Terserah dia mau marah arau bahkan memukulku, aku tidak peduli. Tapi nanti kalau aku babak belur, dia akan aku laporkan dengan kasus KDRT." Dia memutari mobil itu untuk langsung mendekati Rolize.


Daris yang tau tujuan Megan kembali membuka kunci pintu mobil itu yang tadi sudah sempat dia tutup, sementara Rolize menatap Megan dengan heran.


"Apa yang mau wanita ini lakukan?" Rolize sedikit kaget saat Megan kembali membuka pintu mobil itu, tepat berada di sampingnya.

__ADS_1


"Te-terima kasih karna sudah mengajakku makan siang dan juga mengantarku pulang, Sayang. Semangat ya kerjanya, a-aku masuk dulu."


Brak.


Megan langsung menutup pintu mobil itu dan beranjak pergi dari sana, wajahnya memerah karena menahan rasa malu yang teramat dalam. "Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan sih?" Dia merasa malu dan heran dengan diri sendiri.


Rolize yang baru saja mendapat ucapan terima kasih dari Megan, terpaku di tempat itu. Tubuhnya terasa kaku dengan jantung yang berdegup kencang, dan sangking terkejutnya. Dia bahkan tidak bisa bereaksi apa-apa saat ini.


"Tuan!"


Rolize tersentak kaget mendengar panggilan Daris, sontak tangannya terulur memegangi dada yang masih saja berdebar tidak karuan.


"Apa Tuan baik-baik saja?"


Rolize menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sedang tidak baik-baik saja."


"Apa saya harus menghubungi Dokter, Tuan?"


"Kau mau kuhajar?"


"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Daris kemudian membuat Rolize berubah kesal.


"Tutup mulutmu dan jalankan mobil ini!" perintah Rolize yang langsung dilaksanakan oleh Daris.


Rolize lalu mengusap dadanya yang masih saja berdegup kencang. "Tenanglah, jantung. Kalau kau terus berdebar kencang seperti ini, bisa-bisa kau melompat keluar dari rongga dadaku." Dia mencoba untuk menenangkan diri.


Megan yang saat ini sudah masuk ke dalam kamar langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia lalu menenggelamkan wajahnya ke bantal yang masih memerah karena malu.


"Apa yang terjadi denganku, sih? Kenapa aku malu seperti ini?" Megan merasa terheran-heran.


Untuk pertama kalinya Megan merasa malu di hadapan seorang lelaki, padahal dia biasanya tidak akan pernah merasa malu bahkan untuk melayani para lelaki.


"Lupakan saja, Megan. Jangan memikirkannya lagi." Dia lalu memutuskan untuk berendam di air dingin untuk menenangkan pikiran, jiwa dan raga.


Pada saat yang sama, Jean sedang bertemu dengan seseorang di sebuah kafe. Terlihat lelaki dengan pakaian serba hitam sedang duduk tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?"


Lelaki itu menganggukkan kepalanya. "Sudah, Nyonya. Ini datanya." Dia lalu menyerahkan sesuatu pada wanita itu.


"Kerja bagus. Sekarang pergilah." Jean lalu memberikan sejumlah uang pada lelaki itu agar segera pergi dari hadapannya.


Setelah orang suruhannya itu pergi, Jean segera membuka amplop berwarna coklat itu lalu membacanya dengan khusyuk.


Beberapa saat kemudian ...


"Dasar gila! Wanita itu seorang p*e*l*a*c*u*r?" Jean merasa kaget saat mengetahui masa lalu Megan. "Ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisanya Rolize menikah dengan wanita seperti ini. Bukan hanya kampungan dan tidak sederajat, dia bahkan sangat kotor dan juga murahan. Aku harus segera memberitahukannya pada mama."


Jean segera beranjak pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumah, dan menunjukkan apa yang baru saja dia temukan tentang Megan.


15 menit kemudian, Jean sudah sampai di rumahnya dan langsung mencari keberadaan sang mama yang saat itu sedang duduk di taman samping rumah.


"Ma!"


Mama Falesha melihat ke arah belakang saat mendengar panggilan dari Jean. "Ada apa?"


Jean langsung duduk di samping sang mama dan menunjukkan apa yang sedang dia bawa. "Bacalah ini, Ma. Ini benar-benar sangat mengejutkan sekali."


Walaupun merasa bingung, mama Falesha tetap membaca apa yang baru saja diberikan oleh Jean untuknya.


"Apa-apaan ini?" Mama Falesha merasa emosi saat sudah selesai membaca apa yang ada dikertas itu. "Dia, dia seorang j*a*l*a*ng?"


"Benar, Ma. Megan itu seorang wanita malam."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2