
Daris yang mendengar suara keributan dari kamar Rolize bergegas keluar dari kamarnya, dia segera mengetuk pintu kamar laki-laki itu dengan penuh khawatir.
"Apa saya boleh masuk, Tuan?" tanya Daris yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Rolize.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pagi-pagi gini tuan Rolize sudah berteriak?" Daris memutuskan untuk menunggu di depan kamar itu, dan untung saja dia sudah mandi tadi.
Rolize yang sudah memakai pakaian lengkap segera berlalu keluar dari kamar itu, tetapi mulutnya masih menggerutu kesal dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Daris yang dijawab dengan anggukkan kepala lelaki itu. "Apa Tuan mau sarapan?" tawarnya kemudian.
Rolize terdiam sambil duduk di atas sofa, sampai seketika bibirnya membentuk sebuah senyum tipis membuat Daris menatap bingung. "Siapkan sarapan yang super pedas untuk wanita itu."
Daris semakin mengernyitkan keningnya saat mendengar perintah dari Rolize. "Maaf, Tuan.
Maksudnya untuk Nona Megan?"
Rolize menganggukkan kepalanya. "Rasa pedas bisa membuat orang semangat, dan aku mau membuat wanita itu bersemangat."
Daris semakin bingung saja dengan apa yang Rolize katakan, tetapi dia menganggukkan kepalanya untuk melaksanakan apa yang laki-laki itu inginkan. Dia segera beranjak pergi dari tempat itu menuju restoran untuk menyiapkan sarapan tuan dan nona mudanya.
Rolize tersenyum senang dengan rencana yang sedang dia lakukan. "Rasakan kau. Bubuk cabai itu pasti bisa menghilangkan semua pikiran kotor dari kepalamu."
Megan yang saat itu baru selesai mandi merasa benar-benar segar. Energi yang semula habis kini terisi penuh, membuat api semangat berkobar dahsyat.
Setelah memakai pakaian yang ada di dalam lemari, Megan segera keluar dari kamar itu karena cacing-cacing yang ada dalam perutnya sudah memberontak minta dikasi makan.
"Tuan."
Rolize yang sedang bermain ponsel melirik ke arah Megan, dia lalu kembali fokus pada benda pipih itu tanpa memperdulikan keberadaan sang istri.
__ADS_1
Megan yang melihatnya tentu saja langsung cemberut. "Kenapa pernikahanku sama sekali tidak berkesan, sih? Walaupun ini cuma pernikahan kontrak, tapi kan harusnya ada sesuatu yang istimewa." Entah kenapa semangatnya langsung hilang seketika.
"Sarapan sudah, siap, Tuan."
Megan dan Rolize langsung beralih melihat ke arah pintu di mana Daris berada. Rolize langsung beranjak bangun dan melangkahkan kakinya dengan diikuti oleh Daris, sementara Megan masih diam di tempat.
"Baiklah. Lupakan semua ini, yang penting aku hidup nyaman dan aman. Sekarang saatnya aku mengisi kampung tengah." Dia bergegas menyusul langkah kedua lelaki itu yang sudah masuk ke dalam lift.
Sesampainya di restoran yang ada di hotel itu, mereka langsung di sambut oleh beberapa pelayan. Megan merasa seperti seorang ratu saja saat ini, tetapi dia tidak merasa heran karena dia sudah menikah dengan seorang raja.
Para pelayan segera menyajikan makanan dan minuman ke atas meja membuat Megan langsung ngiler seketika, perutnya kian keroncongan karena tidak sabar untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji.
"Tunggu."
Megan yang sudah bersiap memegang sendok langsung mendonggakkan kepalanya ke arah Rolize dengan bingung. "Ada apa, Tuan? Anda tidak berniat untuk melarang saya makan, 'kan?" Dia menatap lelaki itu dengan curiga.
Rolize menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi kau harus makan dengan perlahan, dan jangan membuatku malu."
Mereka lalu mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di meja itu. Terlihat Megan menikmati makanannya dengan lahap, tanpa merasa ada yang aneh atau tidak nyaman.
Rolize terus memperhatikan Megan dengan tajam, dia merasa bingung kenapa wanita itu tidak merasakan apa-apa saat ini. "Tunggu, jangan-jangan Daris lupa melakukan apa yang aku perintahkan?" Dia langsung melirik ke arah Daris yang duduk tepat di sampingnya.
Daris yang tau maksud dari lirikan sang tuan hanya menundukkan kepalanya saja. Dia sendiri bingung kenapa wanita itu tidak merasa pedas, padahal tadi dia sempat mencicipi makanan itu dan rasanya seperti memakan cabai.
Megan sendiri sangat menikmati makanan yang sedang dia makan saat ini. Sudah sangat lama dia tidak makan makanan yang pedas seperti ini, dan itu membuat moodnya benar-benar baik. "Aah makanan ini sangat lezat, tapi kenapa mereka bisa tau ya kalau aku suka makanan pedas?" Dia mengusap keringat yang menetes dari kepalanya.
Setelah menikmati sarapan, mereka segara pergi dari hotel itu menuju rumah keluarga Rolize. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu membuat Megan benar-benar merasa tidak nyaman.
"Em ... Tuan, kita mau ke mana?" Akhirnya dia memilih untuk bertanya sekedar menghilangkan kesunyian yang terjadi.
__ADS_1
"Rumah," jawab Rolize singkat, padat dan juga tepat.
Megan menganggukkan kepalanya, dia yang ingin bertanya lagi tiba-tiba mengurungkan niatnya itu saat merasa perutnya sangat sakit. "Tunggu, ada apa dengan perutku? Kenapa rasanya melilit seperti ini?" Dia meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Nona?" Daris yang melihat raut wajah Megan dari kaca depan langsung bertanya membuat Rolize mengalihkan pandangan ke arah wanita itu.
"Ada apa, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Rolize dengan panik, dia bahkan bisa melihat keringat yang mengucur deras di kepala wanita itu.
"Ti-tidak tau. Perutku rasanya sangat sakit sekali, sssh." Megan mendesis sakit membuat Rolize langsung memegangi tubuhnya.
"Kita harus segera ke rumah sakit, Daris,"
"Baik, Tuan."
Akhirnya mereka semua berbalik arah untuk menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Megan terus meringis kesakitan membuat Rolize benar-benar bingung.
"Di-di mana yang sakit?" tanyanya sambil merebahkan kepala Megan ke atas pangkuannya.
Megan langsung melihat ke arah perutnya sendiri seolah-olah sedang menunjukkan di area mana dia merasakan sakit, membuat Rolize langsung menaikkan kemeja yang dia pakai dan mengusap perut itu dengan lembut.
Deg.
Jantung Megan dan Rolize sama-sama berdegup kencang saat tangan laki-laki itu berhasil menyentuh perut sang istri.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.