Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 12. Terjatuh Dari Gendongan.


__ADS_3

Rolize lalu mengangkat tubuh Megan dan membawanya keluar dari mobil. Namun, baru saja beberapa langkah berjalan. Kedua mata Megan terbuka dan langsung terkejut saat melihat apa yamg sedang Rolize lakukan saat ini.


"Apa yang terjadi? Lepaskan aku!"


Rolize yang fokus berjalan langsung terjingkat kaget mendengar teriakan Megan, sontak kedua tangannya pun melepaskan tubuh wanita itu hingga terjatuh ke atas tanah.


Bruk.


"Aw!" Megan memekik kaget saat tubuhnya terhempas ke tanah, membuat Rolize dan Daris membulatkan mata mereka. "Apa, apa yang Anda lakukan?" Dia lalu berteriak marah saat merasakan sakit di area pantat dan juga pinggangnya.


Rolize segera menjongkokkan tubuhnya di samping Megan. "Aku, aku tidak sengaja." Dia juga terkejut karena menjatuhkan wanita itu.


Megan melirik Rolize dengan kesal, dia lalu mencoba untuk berdiri membuat laki-laki itu langsung membantunya.


"Lepas!" Megan menepis tangan Rolize yang akan membantunya berdiri.


"Beraninya kau menepis tanganku!" teriak Rolize dengan kesal. Dia lalu kembali menggendong Megan walaupun wanita itu memberontak. "Diam atau ku lempar kau." Dia menatap Megan dengan tajam diiringi ancaman yang mematikan.


"Tidak, saya tidak akan diam sebelum Anda menurunkan saya." Megan tetap keukeh untuk minta turun. Cukup sekali dia jatuh, dan jangan sampai terjadi yang kedua kalinya.


Rolize melangkahkan kakinya menuju rumah tanpa memperdulikan ucapan Megan membuat wanita itu sangat kesal.


"Sebenarnya apa sih, yang sedang dia lakukan?" Megan merasa kesal sekaligus heran. "Tapi awas saja kalau sampai dia menjatuhkanku, aku akan memukul kepalanya sampai pingsan!"


Akhirnya Megan memilih untuk diam karena Rolize sama sekali tidak menghiraukannya, sementara Daris tersenyum tipis melihat interaksi antara mereka.


Daris lalu berjalan cepat untuk membukakan pintu rumah itu, dan terlihat Jean sedang duduk di ruang tamu.


Jean yang sedang fokus pada ponselnya, langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu begitu mendengar pintu itu terbuka.

__ADS_1


Sontak kedua mata Jean membulat sempurna saat melihat apa yang Rolize lakukan, bahkan ponsel yang ada dalam genggaman tangannya terjatuh menghantam lantai. "Apa, apa yang sedang terjadi?" Dia tidak percaya kalau saat ini Rolize menggendong Megan.


Rolize tidak menurunkan Megan tepat di hadapan Jean yang melihat mereka dengan mata lebar dan mulut terbuka.


"Te-terima kasih," ucap Megan dengan pelan. Walaupun dia sudah dijatuhkan, tetapi saat ini laki-laki itu benar-benar menggendongnya dengan baik dan benar.


Jean yang baru saja sadar dari lamunannya sontak melihat ke arah Megan dengan tajam. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa Rolize sampai harus menggendongmu seperti itu?" Dia menahan suaranya agar tidak terdengar ketus.


"Ma-maaf, Kak. Aku hanya-"


"Aku sedang ingin menggendong istriku, apa itu salah?" potong Rolize dengan tajam, tepat ke arah sang kakak.


Jean mengepalkan kedua tangannya yang saat ini ada di bawah meja. "Bukan seperti itu, Rolize. Aku hanya sedikit kaget saja saat kau menggendongnya."


"Mulai saat ini, jangan kaget lagi. Karena aku akan selalu melakukannya,"


Jean hanya bisa tersenyum tipis saja untuk menanggapi ucapan Rolize. Dia lalu beranjak pergi dari ruangan itu dan berlalu naik ke lantai 2.


"Cih, kurang ajar sekali wanita itu. Awas saja dia!" Jean merasa tidak suka saat Rolize menggendong Megan, dia bahkan tidak suka dengan keberadaan wanita itu saat ini.


Setelah itu, mereka semua lalu memutuskan untuk segera istirahat karena memang malam sudah semakin larut.


Bruk.


Rolize melemparkan bantal yang ada di atas ranjang ke arah Megan. "Tidur di sofa!"


"Apa?" Megan benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin dia harus tidur disofa sementara ada ranjang yang berukuran king size di dalam kamar itu?


"Aku tidak bisa berbagi tempat tidur dengan orang lain."

__ADS_1


Megan semakin tercengang saat mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan, sementara Rolize langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Matikan lampu, aku mau tidur!"


Dengan menahan kekesalannya, Megan segera mematikan lampu yang ada di kamar itu, dan berbaring dia atas sofa.


"Bahkan pembantu saja tidurnya di atas ranjang, dan bukannya di sofa seperti ini. Ternyata aku lebih rendah pembantu," gumam Megan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


"Kenapa kau tidak mengucapkan selamat malam padaku?" ucap Rolize membuat Megan meliriknya dengan kesal.


"Apa lagi sih, maunya laki-laki gila itu?"


"Apa maksudnya?" tanya Megan kemudian.


"Ucapkan selamat malam padaku sebelum tidur, dan setiap hari," ucap Rolize membuat Megan benar-benar merasa sangat kesal.


"Selamat malam, Tuan." Walaupun begitu, dia tetap mengucapkannya sebelum masalah bertambah panjang. Tentu saja dengan geram dan kedua tangan terkepal.


Setelah itu, tidak terdengar lagi suara Rolize membuat Megan menghela napas lega.


"Bersama dengannya benar-benar menguji kesabaranku. Aku ingin sekali sembah sujud di bawah kaki keluarganya, yang selama ini sudah sangat sabar menghadapi laki-laki jahanam itu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2