Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 23. Tugas Seorang Istri.


__ADS_3

Rolize beranjak keluar dari ruang kerjanya menuju kamar, sementara Daris tetap berada di ruangan itu untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


Dengan perlahan, Rolize membuka pintu kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu. "Tunggu, kenapa aku jadi merasa gugup seperti ini?" Dia bingung kenapa malah mengendap-ngendap seperti ini, padahal 'kan bisa langsung masuk saja seperti biasa.


"Sayang!"


Rolize terjingkat kaget saat mendengar suara Megan, sontak tubuhnya mundur selangkah ke belakang sangking kagetnya. "K-kau? Kenapa kau mengagetkanku?" Dia menatap Megan dengan tajam.


"Ma-maaf, Sayang. Saya 'kan tidak sengaja, lagian kenapa termenung di pintu seperti ini sih?"


Rolize langsung berdecak kesal dan berlalu masuk ke dalam kamar, jantungnya masih berdebar dengan keras akibat terkejut tadi. "Aku tidak termenung, kamu saja yang datang-datang ngagetin kayak gitu." Dia membuang muka sebal.


Megan hanya diam dan menghela napas kasar. Bisa-bisanya Rolize bilang tidak termenung, sementara dia kaget sampai seperti itu. "Cih. Kalau tidak termenung, kenapa kaget setengah mati kayak gitu?" Dia merasa sebal sendiri.


Rolize memperhatikan Megan yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Pandangannya lalu terpaku pada kedua mata wanita itu yang tampak sembab seperti habis menangis.


"Kau habis menangis?" tanya Rolize membuat Megan melihat ke arahnya.


"Menangis?" Megan cepat-cepat mengusap wajahnya untuk menghilangkan air mata yang mungkin masih membekas di sana.


"Kenapa kau menangis?" tanya Rolize lagi sambil beranjak mendekati wanita itu.


"Aku, aku tidak menangis kok, Tu- eh Sayang." Dia jadi gelagapan sendiri. "Aku tadi liat film, terus enggak sengaja jadi nangis. Soalnya film itu sedih sekali."


Rolize memicingkan matanya menatap Megan. "Benarkah? Apa dia menangis memang karena film, dan bukan karena mama dan kakak?" Dia menatap penuh curiga.


"Apa Sayang mau nonton juga? Dijamin pasti Anda juga nangis,"


"Apa? Kenapa juga aku harus nonton film gak penting itu?" ketus Rolize membuat Megan langsung tersenyum simpul.


"Ternyata dia polos juga, ya. Apa dia percaya dengan ucapanku?"


Rolize lalu mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menyuruh Megan untuk duduk di sampingnya, membuat wanita itu segera mendekat dan duduk di tempat itu.


"Apa mama dan kakak menyakitimu?"

__ADS_1


Megan terdiam saat mendengar pertanyaan Rolize. "Bagaimana ini? Haruskah aku mengadukan semuanya? Tapi, kenapa aku merasa seolah-olah Rolize tau tentang apa yang terjadi tadi?" Dia merasa bingung sendiri.


"Kenapa diam? Apa kau tidak mengerti dengan pertanyaanku?" tanya Rolize kembali membuat lamunan Megan terhenti.


"Mereka, mereka tidak menyakitiku kok. Cuma sekedar mengajak bicara saja," ucap Megan walaupun mengajak bicaranya sangat menyakitkan.


"Jika mereka melakukan sesuatu, kau harus segera mengatakannya padaku. Apa kau mengerti?"


Megan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Sayang. Tapi, kenapa Anda pulang cepat? Bukannya masih ada pekerjaan?" Dia melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, dan menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit.


"Sudah selesai. Sekarang, siapkan air untukku mandi."


Megan langsung mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air, sementara Rolize mengikutinya dari belakang.


****


Tidak terasa, siang sudah berganti dengan malam. Tampak semua keluarga Rolize sudah berada di rumah mewah itu, termasuk suami Jean yang baru saja pulang dari bisnis luar negeri.


Megan yang sudah mulai akrab dengan para pelayan tidak segan untuk membantu menyiapkan makan malam, membuat kepala pelayan tersenyum saat melihatnya.


"Aku sudah banyak menghabiskan waktu bersamanya, Buk Rose. Jadi sekarang, aku mau menghabiskan waktu bersama kalian."


Buk Rose tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika bisa, dia ingin sekali menyeret wanita itu agar keluar dari dapur sebelum yang mulia raja melihatnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?


Deg.


Semua orang mendadak jadi kaku saat mendengar suara Rolize, sontak mereka semua menunduk takut dengan tubuh gemetaran begitu mendengar derap langkah tuan muda mereka yang mendekat.


"Sayang, apa Anda sudah lapar?"


Beberapa pelayan termasuk Buk Rose sangat terkejut mendengar panggilan yang Megan ucapkan untuk Rolize, tetapi mereka tetap menunduk takut dan tidak berani melihat ke arah laki-laki itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rolize kembali, kemudian dia melirik ke arah Buk Rose yang ada di samping Megan.

__ADS_1


"Saya sedang membantu untuk menyiapkan makan-"


"Apa kau menikah denganku untuk membantu pekerjaan para pelayan?"


Glek.


Suara Rolize terdengar sangat dingin dan juga menusuk, membuat tubuh Megan ikut gemetar takut.


"Te-tentu saja tidak, Sayang. Tapi, tapi saya ingin menyajikan makanan dan minuman untuk Anda, suami saya. Begitukan, tugas seorang istri?" ucap Megan dengan tersenyum lebar.


"Tugas seorang istri?" tanya Rolize sambil tersenyum miring.


"Tentu saya, Sayang. Tugas seorang istri itu melayani semua kebutuhan suaminya, termasuk urusan makanan dan minuman. Jadi, saya hanya ingin melayani Anda saja."


Rolize tersenyum tipis mendengar ucapan bijak yang Megan katakan. "Baiklah. Jadi kau ingin melayani suamimu?"


Megan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rolize, sementara para pelayan yang masih ada di ruangan itu langsung beranjak pergi karena diusir oleh tangan laki-laki itu.


"Panggil semua orang untuk makan malam bersama, karna aku sudah tidak sabar ingin dilayani oleh istriku," perintah Rolize yang langsung diiyakan oleh Buk Rose yang masih berada di tempat itu.


Rolize lalu beranjak duduk di kursi makan sambil menyuruh Megan untuk duduk di sampingnya, dengan sigap wanita itu langsung duduk di sana dengan tetap tersenyum manis.


"Baiklah, istriku. Aku sudah tidak sabar menunggu pelayanan darimu." Rolize melihat ke arah Megan dengan tersenyum miring membuat wanita itu menjadi canggung.


"Te-tentu saja. Saya akan melayani anda dengan baik dan benar,"


"Baguslah." Rolize menganggukkan kepalanya sambil terus menatap ke arah sang istri.


Megan lalu terdiam di tempatnya dengan perasaan gelisah, entah kenapa dia merasa seperti akan terjadi sesuatu malam ini. "Kenapa aku jadi gugup seperti ini?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2