Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 38. Bermain di Mana?


__ADS_3

Sementara itu, Rolize yang masih berada di perusahaan merasa geram dengan apa yang Eve lakukan. Tentu saja dia melihat dan mendengar semua ucapan antara Megan dan juga Eve, karena kepala pelayan merekam apa yang terjadi dan mengirimkannya pada Daris.


"Beraninya dia menemui Megan?" Rolize benar-benar merasa kesal dan juga marah. Padahal dia sudah menolak Eve mentah-mentah, tetapi wanita itu tetap saja mengejarnya. Bahkan kini mengusik Megan juga.


"Tuan!"


Rolize yang sedang sibuk berpikir menoleh ke arah Daris dengan kesal. Bagaimana tidak, laki-laki itu memanggilnya dan menganggu konsentrasinya untuk berpikir.


"Apa?" tanya Rolize dengan ketus dan juga tajam.


"Tuan, saat ini nona Jean sedang sibuk menemui teman-teman nona Megan pada saat bekerja di klub malam. Sepertinya dia ingin mengungkap masa lalu nona Megan pada semua orang."


Rolize menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit. Masalah yang satu belum selesai, tetapi sudah muncul masalah yang lain.


"Bukannya kau sudah membereskan masalah itu?" Rolize baru ingat jika dia pernah memerintahkan Daris untuk mengurus masa lalu Megan.


"Benar, Tuan. Saya sudah membereskan mereka. Hanya saja ada beberapa orang yang tidak suka dengan Nona Megan, pasti mereka akan memanfaatkan nona Jean untuk membuat nona Megan malu," ucap Daris kemudian.


"Itu gampang, Daris. Hancurkan semua keluarga dan bisnis mereka jika berani mengusik Megan,"


"Baik, Tuan." Daris menganggukkan kepalanya lalu pamit keluar untuk mengurus masalah yang akan Jean ciptakan.


Tepat pukul 6 sore, Rolize sudah kembali ke rumah dan bergegas masuk ke dalam kamar. Terlihat Megan sedang duduk di balkon sambil memandang senja.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Megan langsung berbalik dan tersenyum saat melihat Rolize. "Aku hanya sedang menatap senja. Apa kau sudah pulang dari tadi, Sayang?" Dia melangkah cepat mendekati Rolize dan langsung nelingkarkan tangannya dipinggang laki-laki itu.


"Ada apa, kenapa tiba-tiba memelukku?" Rolize merasa heran sekaligus khawatir. Apa saat ini Megan sedang berhasrat padanya?


"Apa aku tidak bisa memeluk suamiku sendiri?"


Megan semakin merapatkan tubuhnya. Dia menghirup aroma tubuh Rolize dalam-dalam, supaya bisa mengingatnya seumur hidup. Dia tidak tahu apakah akan selamanya bersama dengan laki-laki itu, apalagi hubungan mereka hanya sekedar kontrak saja.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis?"


Megan tersentak kaget dengan apa yang Rolize katakan. Dengan cepat dia mengusap wajahnya untuk menghilangkan air mata yang tidak tahu kenapa bisa keluar, dia sendiri bahkan tidak menyadarinya.


"A-aku tidak menangis. Mataku berair karena terkena debu."


Rolize memicingkan matanya saat mendengar apa yang Megan katakan. "Aku tau jika kau sangat menginginkannya, tapi tidak perlu sampai menangis."


"Hah?"


Megan merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Rolize katakan. Memangnya apa yang sedang dia inginkan? Kenapa laki-laki itu berkata demikian?


"Kalau gitu ayo, aku pasti akan menuruti apa yang kau inginkan tanpa air mata."


Rolize langsung menggendong Megan membuat wanita itu terlonjak kaget.


"Tu-tunggu, sebenarnya apa yang kau maksud, Sayang?" Megan benar-benar tidak mengerti.


"Kita akan bermain di kamar mandi,"


"Apa?"


"Kenapa kaget begitu? Bukankah kau sudah berhasrat makanya memelukku? Kau bahkan sampai menangis karena tidak bisa menahannya lagi."


Megan tercengang dengan apa yang Rolize katakan. Ternyata laki-laki itu mengira jika dia sedang bergairah, dan ingin segera mengajaknya untuk bermain yang iya-iya.


"Ayo, kita akan bermain di kamar mandi!" Rolize melangkah cepat ke arah kamar mandi membuat Megan tergelak.


"Tu-tunggu sebentar-"


"Apa lagi? Apa kau tidak mau di kamar mandi?"


Rolize menjadi kesal sendiri. Sepertinya saat ini hasratnya sudah naik sampai ke ubun-ubun, bahkan lebih besar dari gairah Megan.

__ADS_1


"Tentu saja mau. Tapi, di sini saja ya. Jangan dikamar mandi."


Megan ingat betul apa yang terjadi saat mereka bermain di kamar mandi waktu itu. Hampir 3 jam mereka berada di sana, dan tentu saja membuatnya sampai masuk angin dan merasa lemas tidak bertenaga.


"Baiklah. Tapi kau yang di atas."


Rolize langsung melempar tubuh Megan ke atas ranjang. Untung saja lemparannya tepat sasaran, jika tidak maka bisa dipastikan jika wanita itu mengalami patah tulang.


Setelah itu permainan pun di mulai di mana Megan lah yang memimpin. Bak seorang penunggang kuda yang sangat profesional, dia terus menghentakkan sesuatu di bawah sana hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat dan menggema di tempat itu.


Mata Rolize merem melek menahan kenikmatan yang Megan berikan. Tentu saja dia selalu merasa puas dengan pelayanan sang istri, karena istrinya itu sudah sangat ahli sekali dalam urusan ranjang.


Namun, dalam segi tenaga tentu Rolize lah yang menang. Dia pasti akan terus menggempur Megan sampai wanita itu terkapar tidak berdaya, dan semua itu sungguh sangat menggairahkan.


"Sayang, aku akan keluar," ucap Megan dengan terengah-engah. Tubuhnya mengkilap karena dibasahi oleh keringat, bahkan tubuh Rolize juga.


"Setengah jam lagi. Awas kalau kau keluar sebelum aku, maka aku akan membuatmu merintih semalaman."


Megan menggelengkan kepalanya sambil menahan sesuatu yang sudah akan meledak, karena apa yang Rolize katakan pasti akan benar-benar menjadi kenyataan.


Akhirnya pertempuran itu berakhir saat Megan berhasil menahan ledakannya, dan membuat Rolize tersenyum senang.


Setelah selesai, mereka lalu mandi bersama dan segera bersiap untuk makan malam.


Pada saat yang sama, Daris sedang berada di klub tempat di mana Megan dulu bekerja. Dia berhasil mengamankan orang-orang yang sudah dipengaruhi oleh Jean, hingga mereka tidak bisa berkutik.


Setelah pekerjaannya selesai, Daris segera beranjak pergi dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang sangat dia kenali ada di tempat itu juga.


"Apa yang bocah itu lakukan di sini?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2