Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 46. Kesadaran Hati.


__ADS_3

Semua orang tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka semua melihat ke arah pintu di mana oma Agni dan yang lainnya sudah berdiri di tempat itu.


"O-oma, Mama?" Jean terkesiap saat melihat keberadaan keluarganya, sementara oma Agni tersenyum dengan hangat.


"Oma ingin melihat-"


Jean tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba tubuhnya dipeluk dengan erat oleh oma Agni. Dia tersentak kaget dengan apa yang omanya lakukan. Tidak tahu kapan terakhir kali tubuhnya di peluk oleh sang oma, hingga membuat matanya menjadi basah.


"Oma sangat mengkhawatirkan kalian, syukurlah kalian baik-baik saja," ucap oma sambil melerai pelukannya.


Jean terdiam dengan menundukkan kepala. Dadanya berdegup kencang hingga membuat tubuhnya bergetar diiringi dengan isak tangis yang terdengar lirih.


"Maaf, aku mohon maafkan aku."


Semua orang terdiam dengan tatapan sendu, dan juga bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya Jean kembali seperti dulu.


"Aku telah banyak berbuat salah, Oma. Aku mohon maafkan aku."


Oma tersenyum dengan mata berkaca-kaca saat mendengar ucapan Jean, dia lalu menggenggam tangan cucu sulungnya itu dengan erat.


"Tidak apa-apa, Jean. Oma bahagia karena kau sudah sadar dan mengakui kesalahanmu, tapi enggak seharusnya kau minta maaf dengan oma. Karna orang-orang yang kau sakiti bukan oma, tapi adikmu dan juga adik iparmu," ucap oma Agni sambil melihat ke arah Rolize dan juga Megan.


Jean menganggukkan kepalanya sambil mengusap wajahnya yang sudah basah terkena air mata. Dia lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Rolize dengan sendu.


"Rolize, aku, aku-"

__ADS_1


"Kemarilah, Kak."


Rolize menyuruh Jean untuk mendekat membuat wanita itu mengangguk, dan mulai berjalan untuk mendekatinya.


"Rolize, aku ingin-"


Jean kembali tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Rolize memeluk tubuhnya dengan erat. Tidak, ini rasanya sangat sakit sekali. Dadanya terasa seperti sedang dihantam oleh batu besar, yang membuat napasnya sesak seakan tercekat ditenggorokan.


"Aku sudah memaafkan kakak, tapi aku mohon jangan ulangi lagi. Apa kakak tidak tau, betapa sakitnya hatiku saat bertengkar dengan kakak?"


Tangisan Jean langsung pecah di ruangan itu saat mendengar ucapan sang adik. Selama ini mereka selalu berselisih paham, baik tentang pekerjaan maupun tentang Rangga karena sejak awal Rolize tidak terlalu menyukai laki-laki itu.


Lalu hubungan mereka semakin memanas saat kedatangan Megan, hingga akhirnya memunculkan percikan api yang sama-sama membakar hati mereka masing-masing.


"Aku menyayangi kakak, sangat menyayangi. Kakak yang telah merawatku dan menemaniku bermain saat aku kecil sampai dewasa, bagaimana mungkin hatiku tidak sakit saat bertengkar denganmu?"


"Hatiku sangat sakit, apalagi saat harus bertengkar karena orang yang aku cintai. Aku kira kakak adalah orang pertama yang akan bahagia dan mendukungku saat aku menikah dengan Megan, aku kira kakak akan menjadi penguat kami dan juga menyayangi istriku sebagaimana kakak menyayangiku. Tapi ternyata aku salah, dan aku terluka karenanya."


Ucapan Rolize benar-benar menampar hati Jean hingga dia tidak bisa mengendalikan diri, semua kata-kata kasar yang kerap kali dia ucapkan pada Megan menari-nari dalam pikirannya.


"Tapi sekarang tidak lagi." Rolize melerai pelukannya dan memegang kedua bahu sang Kakak. "Sekarang Kakakku akan menjadi penguatku saat aku terjatuh, dia akan selalu mendukung apapun keputusan yang aku buat. Dan Kakakku juga akan menjaga dan menyayangi istriku lebih dari kasih sayang yang orang lain berikan. Apa Kakak akan melakukan semua itu?" Dia menatap sang kakak dengan sendu.


Jean menatap Rolize dengan getir. Matanya membengkak dengan wajah sembab karena terlalu banyak menangis. Dia lalu menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


"Tentu saja, tentu saja kakak akan melakukannya, Rolize. Kakak, kakak akan selalu mendukungmu."

__ADS_1


Rolize kembali memeluk sang kakak dengan erat, membuat semua orang yang di sana ikut menangis bahagia. Suasana terasa sangat menyedihkan sekali, bahkan Falesha beberapa kali mengusap air mata yang membanjiri wajah saat melihat anak-anaknya saling berpelukan.


Falesha lalu melihat ke arah Megan yang ikut menangis dengan apa yang terjadi saat ini. Dia lalu melangkah ke arah ranjang di mana menantunya itu berada.


Megan yang menyadari kedatangan sang mertua langsung menoleh ke arah samping kiri, dan tersenyum tipis saat bersitatap mata dengan orang tua Rolize.


"Bagaimana keadaanmu, Megan?"


Megan tersenyum. "Aku baik-baik saja, Ma."


"Baguslah," ucap Falesha sambil mengulas senyum tipis membuat Megan ikut tersenyum.


Semua orang lalu melirik ke arah mereka saat mendengar suara Falesha, termasuk Rolize dan juga Jean yang sudah melepaskan pelukan mereka.


"Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan, tapi aku akan memulai semuanya dari awal," ucap Falesha membuat semua orang menatapnya dengan heran.


Untuk beberapa saat Falesha terdiam. Pertama kalinya dalam hidup melakukan hal seperti ini, dia harus melupakan kebencian dan ketidak sukaan terhadap Megan karena wanita itu telah menyelamatkan putrinya.


Bukan hanya itu saja, bahkan saat ini Megan layak untuk menjadi menantunya walau masa lalu wanita itu sangat kelam.


"Aku adalah mamanya Rolize, Megan. Jadi kau harus menemani, menjaga, dan juga merawatku. Apa kau bisa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2