
Megan menggeliatkan tubuh saat sinar matahari pagi menyorot matanya. Perlahan namun pasti, kedua mata itu mulai mengerjap dengan mulut yang menguap lebar.
"Hoam." Megan memiringkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk mengumpulkan nyawa yang seakan-akan masih beterbangan. Dia lalu beranjak duduk sambil memijat tengkuknya yang terasa berat.
"Em ... jam berapa ini?" Mata Megan bergerak ke kanan dan kiri untuk mencari jam, tetapi dia tidak menemukannya dan beralih mencari keberadaan ponselnya.
Deg.
Mata Zeva melotot saat melihat seorang lelaki sedang berbaring di sampingnya. Bukan hanya itu saja, bahkan lelaki itu sedang berada di bawah selimut yang sama dengannya.
"Tunggu, apa, apa yang terjadi semalam?" Megan langsung melihat ke arah tubuhnya sendiri, dia lalu menghembuskan napas lega saat pakaian itu masih menempel sempurna ditubuhnya.
"Ternyata tidak terjadi apa-apa," ucapnya yang ternyata di dengar oleh telinga Rolize.
Rolize yang terbangun akibat gerakan Megan, memilih untuk tetap memejamkan kedua matanya sampai wanita itu turun dari ranjang. Namun bukannya turun, wanita itu malah mengucapkan kata-kata yang menggelitik hatinya.
"Kenapa, apa kau menyesal karna semalam tidak terjadi sesuatu di antara kita?"
Megan tersentak kaget saat mendengar ucapan Rolize, sontak dia langsung melihat ke arah laki-laki itu yang sudah membuka kedua matanya. "Em ... ya, tidak juga sih. Saya kan hanya kaget saja, hehe."
Rolize mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Megan, dia lalu beranjak turun dari ranjang membuat wanita itu juga ikut turun. "Jangan mimpi untuk menghabiskan malam denganku, karna aku sama sekali tidak selera denganmu." Dia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Megan menatap laki-laki itu dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Rolize mengatakan hal seperti itu padanya? Harga dirinya sebagai seorang wanita terluka. Apa dia tidak semenarik itu, sehingga membuat Rolize tidak selera?
"Haih, terserahlah. Syukur deh kalau dia tidak meminta itu, jadi tubuhku bisa benar-benar istirahat dengan baik," gumam Megan. Tapi entah kenapa ada rasa kesal yang bersarang dihatinya karena mendengar ucapan Rolize.
Tidak mau ambil pusing, Megan lalu memilih untuk beranjak ke balkon. Udara pagi ini terasa sangat segar, apalagi dengan hembusan angin yang terasa sangat menyejukkan diri.
Entah kapan terakhir kali Megan menikmati waktu seperti ini. Bisanya dijam segini, dia pasti masih bergelung di bawah selimut dan akan terbangun jika matahari sudah naik ke permukaan.
__ADS_1
"Ternyata tidak buruk juga menerima pernikahan dengannya." Ya, untuk sekarang mungkin semuanya berjalan baik-baik saja. Setidaknya dia merasa jauh lebih baik dari pada bekerja seperti dulu, dan semoga untuk ke depannya juga akan tetap seperti ini.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara teriakan Rolize langsung menghentikan lamunan Megan, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah laki-laki itu.
"Apa kau tidak menyiapkan pakaianku?" ucap Rolize dengan kesal membuat Megan langsung berjalan cepat untuk menghampirinya.
"Ma-maaf, Tuan. Anda kan tidak mengatakannya pada saya, jadi saya tidak-"
"Lalu, apa gunanya kau di sini? Apa aku harus menjelaskan satu persatu padamu?"
Megan mengepalkan tangannya dengan kesal, tetapi sekuat tenaga dia menahan kekesalan itu dengan memasang senyum lebar. "Baik. Maafkan saya, Tuan." Dia langsung membuka lemari untuk memgambilkan pakaian laki-laki si*alan itu.
"Anda ingin memakai pakaian formal, atau yang biasa, Tuan?" tanya Megan tanpa membalikkan tubuh, tangannya sudah menggantung diudara karena ingin mengambilkan pakaian Rolize.
Megan langsung mengambilkan satu set kemeja berlengan pendek motif kuda laut, dengan celana jeans selutut yang pasti akan tampak sangat keren saat dipakai oleh Rolize.
"Ini, Tuan." Dia meletakkan pakaian itu ke atas ranjang dengan tetap tersenyum cerah.
"Dal*am*annya mana?" ucap Rolize dengan ketus.
Megan lalu kembali menghadap lemari dan mengambilkan apa yang laki-laki itu inginkan, walaupun dia sudah merasa kesal setengah mati.
"Baiklah, Tuan. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya Megan. Saat ini posisinya lebih cocok menjadi seorang pelayan, ketimbang seorang istri.
Rolize menggelengkan kepalanya lalu membuka jubah janduk yang sejak tadi membungkus tubuh atletisnya, dan tentu saja semua itu tidak lepas dari kedua mata Megan.
Glek.
__ADS_1
Megan menelan salivenya dengan kasar, sudah lama sekali dia ingin menyentuh bahkan menikmati tubuh sempurna milik Rolize. "Kenapa Tuhan menciptakannya dengan sangat sempurna seperti ini? Tubuhnya benar-benar maha karya yang sangat indah." Dia benar-benar tidak bisa memalingkan wajahnya dari tubuh Rolize, bahkan saat ini dia ingin sekali menyentuh tubuh laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan? Beraninya kau menyentuhku?"
Suara teriakan Rolize berhasil mengembalikan kesadaran Megan, dia tersentak kaget saat melihat tangannya sedang mendarat tepat di perut kotak-kotak milik laki-laki itu.
"Singkirkan tanganmu!"
"Ba-baik, Tuan. Maafkan saya." Megan langsung menjauh sampai beberapa langkah dari Rolize sebelum mendapat amukan dari laki-laki itu.
"Dasar gila. Bisa-bisanya aku benar-benar menyentuh tubuh tuan Rolize. Tapi, aku sama sekali tidak menyesal." Walau mendapat amukan dari Rolize, tetapi Megan tidak menyesal telah menistakan tubuh laki-laki itu.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat keluar dari kamar ini!" teriak Rolize lagi dengan wajah merah padam membuat Megan langsung berlari ke arah kamar mandi.
"Maafkan saya, Tuan."
Rolize masih bisa mendengar permintaan maaf dari wanita itu, tetapi dia malah bertambah kesal saja saat mendengarnya.
"Dasar wanita gila. Apa yang ada dalam pikirannya itu hanya hal kotor aja?" Rolize benar-benar merasa kesal. "Si*alan." Dia bertambah kesal saat menyadari kalau ada sesuatu yang terbangun di bawah sana.
"Awas saja kau, Megan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1