
Mama Falesha langsung beranjak masuk ke dalam rumah dengan emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubunya, dia berjalan cepat ke arah kamar Rolize dengan diikuti oleh Jean.
Brak.
Megan yang saat itu sedang bermain ponsel di atas ranjang terlonjak kaget saat pintu kamarnya di buka dengan kuat oleh seseorang, sontak dia mendudukkan tubuhnya dan melihat ke arah pintu.
"Mama?" Megan beranjak turun dari ranjang saat melihat mama mertuanya, sementara wanita paruh baya itu menatap tajam dengan rahang mengeras ke arahnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Megan saat sudah berdiri tepat di hadapan mama Falesha dan juga Jean.
Mama Falesha langsung melemparkan kertas yang ada ditangannya ke hadapan Megan, tepat mengenai wajah wanita itu. "Dasar kau wanita j*a*l*a*ng! Beraninya kau menggoda dan menikah dengan putraku." Suaranya menggema di tempat itu.
Megan terpaku di tempat itu dengan apa yang mama Falesha lakukan. Dia lalu melihat ke arah kertas yang tadi dilemparkan oleh wanita paruh baya itu ke wajahnya, yang saat ini sudah tergeletak di atas lantai.
"Apa kau pikir, kami tidak akan tau siapa kau sebenarnya, hah?" ucap Jean sambil berjalan untuk mendekati Megan yang masih menundukkan kepalanya.
"Lancang sekali kau wanita murahan menikah dan masuk ke dalam keluarga kami. Apa kau tidak punya malu sama sekali?"
Megan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Jean dan juga mama Falesha, lalu dia menghela napas kasar dengan apa yang terjadi saat ini.
"Kenapa kau diam, hah? Apa kau tidak bisa mengatakan apa-apa, karena kami sudah tahu siapa kau yang sebenarnya, j*a*l*a*ng?" Jean mencengkram lengan Megan membuat wanita itu mengernyitkan keningnya.
"Bukan seperti itu, kakak ipar. Aku memang terkejut dengan apa yang kau lakukan, tapi aku jauh lebih terkejut karna ternyata kalian baru tahu siapa aku yang sebenarnya. Apa Rolize tidak memberitahukannya padamu?"
"Apa kau bilang?" Jean menatap Megan dengan heran, sementara Megan melepaskan tangan wanita itu yang masih mencengkram lengannya.
"Kau bukan hanya tidak tau malu, tapi juga tidak punya harga diri. Apa kau pikir, wanita kotor sepertimu bisa berubah menjadi berlian, begitu?" ucap mama Falesha dengan tajam membuat Megan terdiam.
__ADS_1
"Lebih baik kau pergi sekarang juga dari rumah ini, sebelum kami terkena musibah karena wanita hina sepertimu," usir mama Falesah yang disetujui oleh Jean.
Megan yang merasa mulai emosi mencoba untuk mengendalikan diri, walaupun dadanya terasa sangat panas.
"Kenapa kau diam? Cepat pergi dari sini atau aku akan memanggil penjaga untuk menyeretmu," ucap Jean yang sudah akan kembali memegang lengan Megan.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukan itu, Ma, Kakak ipar." Megan menggelengkan kepalanya membuat dua wanita itu semakin emosi. "Tidak mungkin aku pergi dari rumah suamiku sendiri, bukannya begitu?"
"Tutup mulutmu! Kau tidak pantas memanggil putraku dengan sebutan suami, karna kau lebih hina dan kotor dari pada seekor binatang."
Kata-kata yang mama Falesah ucapkan benar-benar berhasil menusuk ke dalam hati Megan, membuatnya sekuat tenaga menahan air mata dan juga rasa sakitnya. "Ayolah, Megan! Bukankah yang mereka katakan itu benar? Kenapa kau harus merasa tersinggung dan terpuruk seperti ini?" Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Bukankah kata-kata yang Mama ucapkan barusan itu sudah keterlaluan?"
"Apa, keterlaluan katamu?" Mama Falesha tersenyum sinis, begitu juga dengan Jean yang masih berada di tempat itu. "Semua itu masih kurang untuk p*e*l*a*c*ur sepertimu, kau bahkan tidak pantas untuk hidup bersama dengan manusia dan lebih pantas bersama dengan hewan."
"Hah." Megan menghela napas kasar yang terasa menyesakkan dada. "Baiklah, Ma. Terserah mama dan kakak ipar saja mau mengatakan apa. Dan jika mama dan kakak ipar tidak suka melihatku di sini, silahkan katakan semua itu pada Rolize." Dia tersenyum dengan lebar, padahal terlihat jelas rasa sakit dari sorot matanya.
"Kau benar, Jean. Adikmu itu pasti akan langsung mengusir wanita kotor ini dari rumah, dan bersiaplah untuk kembali ke tempat asalmu yang hina itu." Mama Falesha langsung berjalan meninggalkan tempat itu dengan menabrak bahu Megan, begitu juga dengan Jean yang mendengus sebal.
Brak.
Megan langsung menutup pintu itu dengan rapat dan menguncinya. Lalu tubuhnya tiba-tiba merosot ke atas lantai sambil menyandar di balik pintu.
"Dasar gila. Kenapa aku menangis?" Megan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi, tetapi bukannya berhenti. Air mata itu malah semakin deras keluar.
"Tidak tidak, aku tidak boleh seperti ini. Tapi kenapa hatiku sangat sakit sekali?" Megan menundukkan kepalanya di antara kedua kaki yang terlipat. Tidak berselang lama, terdengarlah isak tangis darinya.
__ADS_1
"Apa yang mereka katakan benar. Aku hanya seorang wanita murahan dan hina, aku bahkan menjajakan tubuhku ini pada setiap laki-laki. Tapi kenapa ? kenapa hatiku sangat sakit sekali?"
Megan tidak tau apa yang terjadi padanya saat ini, di mana dia terus saja menangis dan menumpahkan kesedihannya.
Sementara itu, Rolize yang sedang berada di dalam ruanganmya terus saja tersenyum. Dia senang dengan apa yang Megan ucapkan tadi, hingga tidak sadar kalau bibirnya terus saja tersenyum.
Tok, tok.
"Apa saya boleh masuk, Tuan?"
"Masuklah."
Daris langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Ada sesuatu yang harus dia beritahukan pada Rolize.
"Anda harus melihat ini, Tuan." Daris memberikan ponselnya saat sudah berdiri di hadapan Rolize membuat laki-laki itu menatap bingung.
"Memangnya apa yang harus aku lihat, sih?" Walaupun merasa bingung, Rolize tetap menerima ponsel itu dan segera melihat apa yang ingin Daris tunjukkan padanya.
Deg.
Mata Rolize membulat sempurna saat melihat sebuah rekaman video yang ada di dalam ponsel itu. "Apa, apa yang mereka lakukan?" Matanya memerah penuh emosi dengan rahang mengeras.
"Kita pulang sekarang juga, Daris."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.