Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 6. Riwayat Hidup Megan.


__ADS_3

Rolize yang sudah selesai mandi bergegas untuk keluar dari sana, dia melirik ke arah ranjang di mana Megan sudah terlelap dengan nyenyak.


"Ck. Enak sekali dia," gumam Rolize sambil berjalan ke arah lemari. Dia segera mengambil pakaian tidur dan memakainya, setelah itu dia duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan wajah wanita itu.


Rolize tersenyum tipis saat melihat Megan menggeliat dengan mulut seperti sedang mengunyah sesuatu. "Apa dia mimpi sedang makan?" Dia lalu mengelengkan kepalanya dan beranjak keluar dari kamar itu.


Begitu keluar, Rolize dikejutkan oleh keberadaan Daris yang saat itu sedang duduk di depan kamarnya. "Apa yang sedang kau lakukan?" Dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Maaf, Tuan. Saya sedang duduk." Daris beranjak bangun dari duduknya.


Rolize langsung berdecak kesal mendengar jawaban dari lelaki itu. Siapapun juga tau kalau dia sedang duduk. "Aku juga tau. Maksudku, kenapa kau duduk di sini?" Dia merasa kesal sekaligus geram.


"Saya sedang menunggu Anda, mana tau Anda akan keluar kamar lagi."


Rolize menghela napas kasar, dia lalu duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Daris. "Duduklah, ada yang ingin aku katakan."


Daris langsung menganggukkan kepalanya dan duduk di hadapan Rolize. Saat ini, jam sudah menunjuklan pukul 1 malam. Namun, kedua lelaki itu tampaknya sama sekali belum mengantuk.


"Bagaimana, apa kau sudah mencaritau semua informasi tentang wanita itu?" tanya Rolize sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


"Sudah, Tuan." Daris lalu beranjak bangun dan berjalan ke arah tasnya yang ada di atas meja, dia segera mengambil sesuatu dari dalam tas itu dan membawanya ke hadapan Rolize. "Ini, Tuan." Dia menyerahkan beberapa lembar kertas pada sang tuan.


Rolize langsung mengambil kertas itu dan membacanya dengan khusyuk. Beberapa kali dia mengernyitkan kening saat membaca apa yang ada dalam tulisan itu, membuat Daris tegang.

__ADS_1


"Jadi, dia tidak pernah punya kekasih?" tanya Rolize sambil mendonggakkan kepala menatap Daris.


"Tidak, Tuan. Nona Megan tidak pernah punya kekasih, tetapi dia banyak berhubungan dengan para lelaki," jawab Daris.


Jika soal berhubungan dengan lelaki, tentu saja Rolize tahu tentang semua itu. Apalagi dengan pekerjaan Megan, jelas saja setiap hari wanita itu berhubungan dengan para lelaki.


"Tapi Tuan, bolehkah saya menanyakan sesuatu pada Anda?"


"Aku tau apa yang ingin kau tanyakan, Daris. Tapi, kau akan mendapat jawaban atas pertanyaanmu seiring berjalannya waktu."


Daris hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Rolize, memangnya dia bisa apa lagi jika laki-laki itu tidak mau menjawab pertanyaannya. "Baiklah, saya akan menunggu semua itu, tuan. Saya benar-benar penasaran apa alasan Anda menikah dengan Nona Megan."


"Jadi, dia ini sebatang kara?" tanya Rolize kembali yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala Daris.


"Benar, Tuan. Tapi sebenarnya, nona pernah diangkat anak oleh keluarga Monara. Namun, sejak nyonya keluarga itu meninggal. Tidak ada lagi yang mau mengasuh nona, itu sebabnya dia pergi dari rumah."


"Jadi, kenapa dia bisa bekerja sebagai wanita malam?" tanyanya kemudian.


"Saya tidak tau, Tuan. Menurut sumber yang saya dapatkan, dulu nona bekerja sebagai pelayan di klub malam itu. Namun, seiring berjalannya waktu. Nona beralih dari pelayan menjadi wanita pemuas, dan tidak diketahui alasan kenapa nona melakukan itu."


Daris tidak bisa mengetahui alasan dibalik pekerjaan wanita itu, dan mungkin hanya Megan sajalah yang tau kenapa dia bekerja sebagai wanita malam.


Rolize mengangguk-anggukkan kepalanya setelah selesai membaca semua riwayat hidup Megan. "Baiklah, cukup untuk malam ini." Dia beranjak bangun membuat Daris juga ikut berdiri.

__ADS_1


Rolize meletakkan kertas-kertas yang ada di tangannya ke atas meja, lalu berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam kamar.


"Maaf, Tuan. Tadi saya menerima telpon dari-"


Rolize langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Daris. "Aku tau. Aku tau kalau wanita itu sudah kembali ke kota ini, itu sebabnya aku memutuskan untuk langsung menikah."


Daris tersentak kaget mendengar ucapan Rolize. Mungkinkah alasan Rolize menikah dengan Megan karena wanita itu kembali?


"Biarkan saja apa yang ingin dia lakukan, aku ingin melihat apakah wanita itu masih punya malu dan harga diri atau tidak." Rolize melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Baik, Tuan. Selamat malam, selamat beristirahat," ucap Daris sambil menganggukkan kepalanya, terlihat Rolize sudah masuk ke dalam kamar.


"Hah. Aku juga harus segera istirahat, hari ini tenagaku benar-benar terkuras habis." Daris segera beranjak dari tempat itu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sudah cukup pekerjaan hari ini, dan dia harus segera istirahat sebelum matahari kembali terbit.


Rolize yang sudah berada di dalam kamar membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tepat berada di samping Megan. Matanya menatap langit-langit kamar, dengan tangan yang bertengger di atas kepala.


Ingatan demi ingatan melintas dalam kepalanya, membuat dada terasa panas dan juga sesak. "Ku pikir aku sudah baik-baik saja, tapi kenyataannya. Aku jauh dari kata baik." Dia menghembuskan napas frustasi.


Sudah 2 tahun berlalu, tapi sosok wanita yang sangat dia benci tidak bisa lepas dari pikirannya membuat rasa sakit terus menghantam hatinya. "Tidak, semua sudah berubah. Keberadaannya tidak akan bisa lagi mengusik hidupku, dan dia tidak berarti apa-apa lagi bagiku."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2