Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 41. Undangan Pesta.


__ADS_3

Megan dan Aura langsung menoleh ke samping kanan saat mendengar suara seseorang, dan terlihat Jean sudah berada di tempat itu sambil menatap dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan, Aura?" tanya Jean dengan tajam.


Aura terdiam dengan apa yang kakaknya tanyakan, dia yakin jika wanita itu pasti akan memarahinya karena sudah dekat dengan Megan.


"Aku, aku hanya sedang bicara dengan kakak ipar,"


"Untuk apa? Apa kau ingin menjadi sepertinya?"


Megan menghela napas kasar saat mendengar ucapan Jean. Sebenarnya dia tidak mengerti kenapa wanita itu sangat membencinya, jika karena masa lalunya, maka dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Bukankah tidak ada yang bisa mengubah masa lalu?


"Kakak ngomong apa sih?" Aura merasa tidak suka.


"Kakak ngomong kenyataannya, Aura. Jauhi wanita itu, atau kau juga akan sama sepertinya."


Aura menghela napas berat. "Hentikan, Kak. Setiap orang punya masa lalu, jadi Kakak tidak berhak untuk menghakimi masa lalu orang lain."


"Wah wah, apa ini?" Jean menatap Aura dan Megan secara bergantian dengan takjub. "Kalian sudah sangat dekat ya, sekarang." Jean menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.


"Memangnya kenapa kalau mereka dekat, hah?"


Jean langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan oma Agni, terlihat wanita tua itu menatapnya dengan tajam.


"Apa kau tidak muak dengan semua ini, Jean? Kenapa kau selalu saja memusuhi Megan?"


Oma Agni benar-benar tidak mengerti. Memangnya apa yang salah dengan Megan sehingga Jean sangat membencinya?


"Tidak, Oma. Aku tidak akan muak sebelum wanita itu berpisah dari Rolize dan keluar dari rumah ini!" ucap Jean dengan penuh penekanan. Rasa benci yang ada di dalam hatinya semakin menjadi-jadi.


"Sebenarnya apa masalahmu, Jean? Siapa pun Megan di masa lalu, itu tidak ada hubungannya denganmu. Bahkan dengan Rolize sekali pun. Jadi kenapa kau seperti ini?"

__ADS_1


Jean mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Seorang j*a*l*a*ng tetap lah j*a*l*a*ng, Oma. Mereka sangat hina dan tidak punya harga diri. Bukan hanya menjual diri mereka sendiri, tapi juga merusak rumah tangga orang lain. Seharusnya mereka dibunuh sekalian."


"Jean!" bentak Oma Agni membuat suaranya menggema di tempat itu, tetapi Jean sama sekali tidak peduli dan beranjak pergi dari tempat itu.


"Oma!"


Megan dan juga Aura memekik kaget saat tiba-tiba tubuh oma Agni terhuyung ke belakang. Mereka segera menangkapnya dan membawa wanita itu ke sofa.


Aura segera memanggil pelayan untuk mengambilkan minuman, sementara Megan berusaha untuk menenangkan oma Agni.


"Minum dulu, Oma." Aura segera membantu omanya untuk minum, setelah itu dia meletakkan gelas yang ada di tangannya ke atas meja.


"Oma baik-baik saja, 'kan?" tanya Megan dengan khawatir.


Oma Agni mengangguk. "Oma tidak apa-apa. Oma hanya tidak mengerti kenapa Jean sampai seperti itu." Dia menghela napas kasar.


"Jangan memikirkannya lagi, Oma. Aku tidak masalah jika kak Jean tidak suka dan membenciku. Itu adalah haknya," ucap Megan sambil mengusap punggung tangan oma Agni.


Sejujurnya Megan merasa heran dengan sikap yang Jean tunjukkan. Dia sadar jika sejak awal wanita itu tidak menyukainya, hanya saja akhir-akhir ini kebencian Jean tampak semakin besar.


Lamunan Megan terhenti saat pelayan memberikan minuman dan obat untuk oma Agni. Setelah merasa lebih baik, mereka lalu membawa oma Agni ke dalam kamar.


Megan segera keluar dari kamar saat oma Agni sudah terlelap. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dan merebahkan diri di atas ranjang.


Tiba-tiba ponsel Megan berdering membuatnya beranjak turun dari ranjang, dan mengambil benda pipih itu yang terletak di atas meja.


Ternyata salah satu teman Megan menelepon dan mengundangnya ke acara ulang tahun. Dia lalu mengatakan jika akan berusaha untuk datang walau pun belum pasti.


Setelah sedikit mengobrol, akhirnya panggilan itu selesai.


"Aku harus bicara dengan Rolize dulu, tidak mungkin aku pergi tanpa izinnya." Megan lalu kembali merebahkan tubuhya di atas ranjang.

__ADS_1


Tepat pukul 6 sore, Rolize sudah kembali dari perusahaan dan langsung berjalan ke arah kamar. Terlihat Megan sedang tertawa terbahak-bahak sambil melihat sesuatu di ponselnya.


"Apa yang sedang kau lihat?"


Megan mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Kau sudah pulang, Sayang?" Dia beranjak dari sofa lalu mendekati sang suami.


"Apa yang sedang kau lihat tadi?"


Megan menghembuskan napas kasar, sementara Rolize masih bersikukuh ingin tahu penyebab istrinya tertawa.


"Aku melihat ini." Megan lalu menujukkan video yang ada di ponselnya, yaitu tentang kelucuan dari penghuni kos-kosan rempong.


Rolize menatap ponsel itu dengan wajah kaku. Entah bagian mana yang membuat Megan tertawa, padahal dia sama sekali tidak merasa lucu.


"Oh ya Sayang, ada yang mau aku katakan padamu."


Tiba-tiba Megan ingat dengan undangan ulang tahun dari temannya tadi, dia lalu mengatakan semua itu pada sang suami.


"Apa aku boleh pergi?" tanya Megan kemudian.


Rolize diam sejenak. Kenapa waktunya pas sekali dengan acara yang harus dia hadiri? Padahal dia ingin membawa Megan dan memperkenalkannya pada teman-teman.


"Sayang."


Lamunan Rolize terhenti saat tangannya di tepuk oleh Megan. "Pergilah. Tapi kau tidak boleh dekat dengan laki-laki lain, siapa pun itu."


Megan langsung mengangguk paham. Setelahnya dia menyiapkan air untuk Rolize mandi, dan akhirnya mereka mandi bersama yang menghabiskan waktu berjam-jam.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2