
Keesokan harinya, Megan bangun lebih dulu saat mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat dia mencari benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari seseorang.
"Halo?" ucap Megan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Halo, Megan. Apa kau baik-baik saja?"
Megan mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan dari sang penelepon. "Memangnya aku kenapa?"
"Dasar, ditanya kok malah balik nanyak." Seseorang yang ada disebrang telepon pun menjadi kesal. "Memangnya kau ke mana, kenapa tidak pernah datang ke club?"
Megan beranjak duduk sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya. "Aku baik-baik saja, kok. Em ... kayaknya aku sudah tidak ke sana lagi deh."
"Apa?"
Megan terpaksa menjauhkan benda pipih itu dari telinganya saat mendengar teriakan yang membahana. "Kau mau memecahkan gendang terlingaku?"
"Diam kau! Apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kau bilang tidak bisa ke ke sini?"
Megan mengehela napas berat. Dia memang tidak menceritakan tentang semua yang sudah terjadi pada siapa pun, baik itu orang luar maupun orang-orang dalam lingkup pekerjaannya.
"Megan, apa kau tiba-tiba jadi bisu? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tanya sih penelepon dengan menuntut.
"Begini, Zea. Aku-" Megan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Rolize sudah bangun, bahkan saat ini laki-laki itu sedang menatapnya dengan tajam. "Na-nanti aku telpon lagi, ya."
"Ap-"
Tut.
Megan langsung mematikan panggilan itu sambil meletakkan ponselnya ke atas meja. "Tu-tuan sudah bangun?" Dia mengulas senyum lebar walaupun sangat kaku sekali.
"Ke sini, kau!"
Glek.
Megan menelan salivenya dengan kasar saat mendengar perintah Rolize, sementara laki-laki itu tetap melihat ke arahnya dengan tajam.
__ADS_1
"Megan!"
"Ba-baik, Tuan." Megan terpaksa bangun dan mendekat ke arah laki-laki itu.
Rolize lalu menepuk ranjang yang ada di sampingnya untuk menyuruh Megan duduk di tempat itu, lalu wanita itu duduk tepat di sampingnya dengan mengkerut takut.
"Apa kau tau, kalau aku masih istirahat, Megan?"
Megan langsung menganggukkan kepalanya. "Maaf, sepertinya suara saya membangunkan Anda."
"Aku tidak suka,"
"Ya Tuhan, habislah aku." Megan merasa sudah melakukan kesalahan besar, padahal waktu masih sangat pagi sekali.
"Sekarang bawa ponselmu ke sini,"
"Apa? Ke-kenapa saya harus membawa ponsel ke sini, Tuan?" tanyanya dengan gugup.
"Kau sudah melakukan kesalahan. Beraninya bertanya apa yang aku perintahkan?" ucap Rolize dengan penuh penekanan membuat Megan langsung beranjak mengambil ponsel tersebut.
"Pihak kedua harus selalu mengikuti apa yang pihak pertama inginkan, tanpa ada penolakan."
Tiba-tiba isi dari perjanjian kontrak pernikahan melintas dalam benak Megan, membuat dia hanya bisa diam dan tidak sanggup berkata apa-apa.
Megan lalu menyerahkan ponselnya pada Rolize yang langsung mengambil benda pipih itu.
"Buka!" Rolize menyodorkan ponsel itu kembali pada Megan untuk membuka layar kuncinya, dan terpaksa wanita itu menurutinya.
Megan memperhatikan Rolize dengan gelisah, dia takut kalau ada sesuatu yang aneh di ponselnya. "Tunggu, tidak ada foto telanjangku 'kan di situ?" Tiba-tiba dia ingin sekali merebut ponsel yang saat ini berada dalam genggaman tangan Rolize.
"Kenapa kau masih berdiri di sini?" Rolize mendongakkan kepalanya dengan tatapan tajam. "Aku mau mandi, cepat siapkan air sana!" Dia lalu kembali melihat ke arah ponsel itu membuat Megan benar-benar penasaran.
"Cih. Memangnya apa yang sedang dia lihat, sih? Aku jadi merasa gugup dan penasaran secara bersamaan." Megan lalu beranjak ke kamar mandi sebelum laki-laki itu murka. Terserahlah apa yang ingin Rolize lihat dari ponselnya itu.
Setelah Megan pergi, Rolize langsung tersenyum tipis karena tau kalau wanita itu pasti merasa penasaran dengan apa yang sedang dia lihat. "Megan harus benar-benar lepas dari mereka. Aku tidak mau lagi dia bergaul atau pun dekat dengan mereka, aku tidak mau dia kembali seperti dulu." Dia lalu menghapus atau pun merestart ulang benda pipih itu.
__ADS_1
Setelah selesai menyiapkan air, Megan segera memanggil Rolize untuk segera mandi. Dia lalu menyiapkan pakaian untuk laki-laki itu, tidak lupa segala perlengkapan yang dipakai ditubuh Rolize.
Megan lalu beranjak keluar dari kamar karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan, dia sendiri sudah mandi sebelum Rolize tadi.
Beberapa pembantu terlihat sedang berlalu lalang untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing, dan mereka akan menyapa saat melihat keberadaannya.
"Apa ada yang bisa ku bantu?"
3 orang pembantu yang sedang menyiapkan sarapan tersentak kaget saat mendengar suara Megan. "Se-selamat pagi, Nona." Mereka menundukkan kepala secara serentak.
"Selamat pagi juga. Apa aku bisa membantu kalian?"
Ketiga pembantu itu saling pandang saat mendengar ucapan Megan. Selama bertahun-tahun mereka bekerja di rumah mewah itu, baru pertama kali inilah ada seorang nona yang menawarkan diri untuk membantu.
"Kenapa kalian diam? Apa aku benar-benar tidak bisa membantu?" tanya Megan dengan heran.
"Bu-bukan seperti itu, Nona. Hanya saja-"
"Aku mengerti. Kalian pasti takut kalau aku membuat kesalahan, dan nantinya malah kalian yang kena getahnya."
Ketiga laki-laki itu menggelengkan kepala mereka untuk membantah apa yang wanita itu katakan. "sebenarnya kami-"
"Megan!"
Megan langsung tersentak kagat saat mendengar teriakan Rolize. "Kalau gitu aku permisi dulu, ya." Dia segera berlari ke arah di mana kamar mereka berada.
"Nona muda sangat baik dan juga ramah, ya. Beliau benar-benar cocok dengan tuan."
Kedua pembantu itu mengiyakan ucapan dari temannya. "Benar. Jauh berbeda dari pacar tuan yang dulu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.