Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)

Simbiosis Mutualisme (Tameng Cinta)
Bab. 33. Malam Unboxing.


__ADS_3

Rolize langsung mendorong tubuh Megan hingga wanita itu terjerembab di atas ranjang. Dengan cepat dia menindih tubuh Megan membuat wanita itu berada dalam kungkungannya.


"Bagaimana jika sudah seperti ini, Megan? Haruskah aku melanjutkannya?" tanya Rolize yang sebenarnya tidak pada tempatnya.


Megan tersenyum simpul. "Terserah kamu, Baby."


Wajah Rolize semakin memerah saat mendengar apa yang Megan katakan. Antara malu dan juga napsu, saat ini pikiran Rolize sangat tidak fokus sekali.


Melihat Rolize diam, Megan berinisiatif mengecup bibir laki-laki itu membuat Rolize tersentak kaget. "Jika kau diam terus, aku akan memimpin permainan, Baby."


"Tidak aku akan biarkan."


Rolize langsung melummat bibir Megan yang sedikit terbuka. Dia langsung memasukkan lidahnya dan mengabsen apa saja yang ada dalam mulut wanita itu.


Megan sendiri membalas ciuman Rolize dengan tidak kalah menggebu-gebu, tetapi dia mencoba untuk menahan diri karena ingin melihat sampai mana keahlian laki-laki itu.


Setelah merasa kehabisan napas, Rolize melepaskan ciumannya. Dia menatap wajah cantik Megan dengan napas tersengal-sengal, dan entah kenapa saat ini wanita itu terlihat 10 kali lebih cantik dari biasanya.


Setelah menikmati bibir ranum nan seksi itu, kini ciuman Rolize mulai turun di leher Megan. Hisapan dan gigitan kecil yang dia lakukan berhasil membuat wanita itu melenguh nikmat, dan dia terus menikmatinya sampai ciuman itu turun ke area inti Megan.


Rolize membuka semua kain yang masih menempel di tubuh Megan, tidak lupa dia juga membuka pakaiannya sendiri hingga mereka sama-sama toples.


Rolize kembali merangkak di atas Megan dan mulai memposisikan diri. Dia mengangkat kedua kaki wanita itu dan membukanya lebar. Senyumnya terbit saat melihat sesuatu di bawah sana yang tampak merah menggoda, bulu halus yang ada disekitarnya berhasil membuat asetnya berkedut sakit.


"Aku akan masuk, Megan."


Megan sendiri mulai merasakan ada sesuatu yang mulai menerobos masuk. Walaupun dia sudah tidak perawan, tapi dia selalu menjaga aset berharganya itu hingga masih terasa sempit dan juga menggigit.


"Ah." Megan memekik sakit saat Rolize menghentak miliknya hingga masuk secara keseluruhan, dan rasanya sungguh sangat sakit dan nikmat

__ADS_1


"Ooh, Rolize. Eemh ...." Megan mulai meracau saat hentakan demi hentakan Rolize berikan, sementara Rolize sendiri semakin bersemangat dan menghunjam tubuh Megan dan semakin memperdalam hentakannya.


Cukup lama mereka melakukannya dengan berbagai gaya. Apalagi Megan juga turut aktif, membuat kegiatan mereka benar-benar menggelora.


Setelah kurang lebih 2 jam saling memberikan kenikmatan, akhirnya mereka memekik kuat saat sama-sama menyemburkan kenikmatan yang sejak tadi tertahan.


Napas mereka tersengal-sengal dengan dada yang naik turun untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tubuh mereka mengkilap karena basah oleh keringatan atas pertempuran malam ini.


Megan beranjak turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi, sementara Rolize masih membaringkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam.


Megan langsung mengisi bathtub dengan air hangat, dia lalu meneteskan aroma terapi yang ada di tempat itu dan masuk ke dalamnya.


"Si*al. Pusaka Rolize benar-benar besar dan nikmat sekali, aku sampai hampir gila saat mengingatnya." Megan menggelengkan kepalanya saat kembali mengingat kembali adegan yang baru saja mereka lakukan.


Selama bekerja sebagai wanita malam, Megan belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini padahal ada beberapa orang yang asetnya sebesar Rolize. Namun, rasanya sangat berbeda. Dasanya terasa hangat, dan setiap sentuhan Rolize membuat hatinya bahagia seperti ada ribuan kupu-kupu yang ada dalam perut ibu.


"Apakah karna dia sudah menjadi suamiku, itu sebabnya berbeda?" Megan merasa bingung sendiri. Tetapi bagus juga jika seperti ini. Bukan hanya Rolize yang puas, tetapi dia juga merasa sangat puas.


Akhirnya kegiatan panas itu kembali terulang di dalam kamar mandi, lebih tepatnya di dalam bathtub.


Tubuh Megan terus saja dihentak oleh Rolize sampai dia kehabisan tenaga, sementara Rolize sendiri tersenyum senang dengan apa yang terjadi.


"Uh. Kau benar-benar menggempurku terus ya, Rolize." Megan memegang pinggangnya yang terasa pegal, tapi bukan hanya pinggang saja, melainkan semua anggota tubuhnya.


Pada saat yang sama, seorang lelaki yang entah kenapa bisa berada di pulau itu juga sedang memandang ke arah lautan luas. Matahari sudah bersiap untuk menenggelamkan diri, itu sebebnya suasana petang hari ini benar-benar sangat indah.


Setelah beberapa saat, Daris kembali masuk ke dalam vila untuk memeriksa menu makanan yang dimasak koki untuk makan malam mereka hari ini. Dia harus memastikan jika makanan itu cocok dilidah Rolize atau nantinya laki-laki itu akan mengamuk.


*

__ADS_1


*


*


Tepat pukul 8 pagi, Daris berjalan menuju kamar Rolize. Sudah sejak satu jam yang lalu dia menunggu, tetapi mereka tidak juga menampakkan batang hidungnya.


Tok


Tok


"Tuan!" Daris mengetuk pintu kamar itu sambil memanggil Rolize, dia lalu menunggu beberapa saat sampai pintu kamar itu berbuka.


Setelah menunggu sampai setengah jam lamanya, Daris memutuskan untuk kembali mengetuk pintu kamar itu, tetapi untuk sekali lagi tidak ada jawaban dari dalam.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sih? Kenapa mereka belum bangun juga?"


Hati Daris mulai gelisah. Rasa khawatir memenuhi jiwa dan tidak bisa lagi menahan diri. "Aku harus mendobraknya.


Namun, belum sempat Daris melakukannya. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan keluarlah Rolize dari sana.


"Apa yang kau lakukan, Daris? Kenapa kau terus mengetuk pintu?" Rolize menatap Daris dengan kesal.


"Maaf, Tuan. Saya hanya khawatir jika terjadi sesuatu dengan Anda, karena sejak tadi Tuan dan juga Nona tidak keluar dari kamar.


"Ya, memang telah terjadi sesuatu, Daris. Dan sesuatu itu sangat menyenangkan."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2