Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
serasa sepi


__ADS_3

Selesai sarapan Rach pamit kepada Lina, tidak lupa ia mencium kening Lina dengan lembut.


" Baik-baik,, di rumah tunggu aku. " Bisik Rach ketelinga Lina.


Lina mengangguk dengan pipi memerah, " baik.. "


Rach pun menaiki mobilnya dan pergi bersama Rio, meninggalkan Lina di rumah sendiri, Rach sesungguhnya ia sangat berat untuk meninggalkan Lina seorang diri di rumahnya apa lagi ia masih takut kalau ibunya melakukan sesuatu kepada Lina, maka dari itu ia mengizinkan Lina untuk ke rumah ibunya di kampung.


Lina kembali ke kamarnya dan mandi besok ia akan ke tempat ibunya hatinya sangat senang, dia ingin segera mengemasi baju yang akan ia bawa besok, Lina sebenernya ia ingin membeli barang untuk ibunya tapi Lina tidak ingin terus-menerus menggunakan uang Rach walaupun Rach sudah menyuruh Lina untuk membeli yang ia suka.


Saat di kamar Lina langsung mengemas baju yang akan ia bawa walaupun cuma dua hari tapi ia sudah sangat gembira, kapan lagi kesempatan ini datang. Sambil mengambil beberapa baju ia menaruhnya di tas ransel karena cuma sedikit.


Lina kembali turun kebawah ia ingin waktu segera berputar dengan cepat agar hari esok segera datang.


Para pelayan ada yang sedang menyapu, mencuci baju, rumah Rach memang besar jadi butuh banyak pelayan di rumahnya.


Terlihat Silvi membawa barang begitu banyak dan menghampiri Lina yang sedang membersihkan pajangan yang ada di lemari kaca tersebut. Ada banyak piagam dan penghargaan milik Rach.


" Nona.. " sambil menghampiri Lina.


Lina yang terkejut dengan barang bawaan Silvi ia mengkerutkan halisnya, sambil bertanya kepada Silvi " apa yang kamu bawa kenapa banyak sekali. ? " Tanya Lina.


Silvi pun tersenyum kepada Lina.


" Ini yang tuan suruh untuk besok buat ibu nona. " Jawab Silvi sambil menaruh nya di meja.


" Rach,, " sampai terkejut ia menjatuhkan kain lap yang ia bawa.


" Iya nona,, sebab tuan bilang nona pasti tidak ingin beli dengan uang tuan kalau tidak di pinta oleh tuan ia tidak akan membeli apapun. " Silvi berbicara menirukan suara Rach.


Yang membuat Lina tidak bisa menahan ketawanya, dia sangat lucu saat menirukan nya.


Linapun membawa barang yang Silvi bawa mau tidak mau lagi itu pemberian Rach kalau menolaknya malah akan menjadi masalah baru.


Lina dan Silvi membawa barang bawaannya ke kamar Lina, Lina menaruhnya di kursi dan Silvi pun izin untuk turun kembali. Lina tidak berani membuka isi dari semua barang tersebut karena itu di tujukan kepada ibunya.

__ADS_1


Lina mengirim pesan kepada Rach, di kontak Lina hanya ada lima nomer telepon yaitu, Rach tentunya, ibunya Lina, Silvi terus Rio, dan telepon rumah. Selain nomer tersebut Lina tidak di izinkan untuk menghubungi nomor lain.


{ Terimakasih atas barang-barang belanjaan yang banyak banget, tapi itu terlalu banyak. Tapi sekali lagi terimakasih. } Isi pesan tersebut.


Lalu Lina kembali meletakkan di meja, tapi ia sadar bahwa dia belum telepon ibunya, dari tadi pagi Lina kembali mengambil HP nya dan mencari nomer ibunya, dan mulai menekan tombol untuk menelepon.


Tutt,, tutt,, tutt,, ( bunyi tersambung )


Tak menunggu beberapa lama terdengar suara Tut.. tanda sudah di angkat.


" Hallo assalamualaikum mah,, " ucap Lina


" Waalaikum salam nak, apa kabar sayang? kamu di sana baik-baik saja kan? mama kangen sama kamu nak, kenapa kamu tidak menghubungi mama nak ? "


Pertanyaan demi pertanyaan di berikan kepada Lina, suara yang sangat Lina rindukan tanpa sadar Lina meneteskan air matanya ia sangat merindukan sosok suara yang kini sedang memantul di telepon nya.


Lina menjawab satu persatu dengan suara yang getir, semakin mendengar suara ibunya ia semakin ingin segera bertemu ibunya.


SELESAI PEMBICARAAN.


Selesai sholat zhuhur mata Lina serasa mengantuk dia pun kini berbaring di kasur yang empuk dalam sekejap Lina sudah tertidur dengan pulas.


Lina sudah memerintahkannya untuk para pelayan agar jangan memasak terlalu banyak untuk dirinya, dia tidak ingin kalau makanannya terbuang sia-sia sebab untuk para pelayan mereka masak sesuai keinginan masing-masing.


Lina juga menyuruh untuk memasak makanan nya seperti yang mereka makan saja agar para pelayan tidak kecapean.


Hari pun sudah sore, Lina yang masih terlelap sepertinya ia semalam tidak tidur dengan puas karena harus melayani Rach.


( Ting,, ) bunyi pesan masuk.


Lina masih tertidur, tapi tangan nya mulai mengucek matanya, walaupun beberapa kali Lina mengusik dan bergulir.


Dua puluh menit kemudian, Lina mulai membuka matanya, sambil menggedip-ngedikan matanya sambil tengkurap di atas guling.


Setelah kesadaran nya mulai terkumpul Lina bangun dari tidurnya, dan meregangkan tubuhnya, ia melihat jam sudah jam 16:00

__ADS_1


" Ternyata sudah sore.. " sambil berjalan ke arah kamar mandi Lina segera mandi.


rasanya baru saja tadi zhuhur sekarang sudah asar lagi aja, habis sholat asar langsung makan dah. Sebenernya males mandi tapi badan terasa lengket. Apa lagi bekas tadi bersih-bersih.


SELESAI MANDI DAN GANTI BAJU


gadis yang mengenakan dress berwarna merah sangat cocok dengan kulit nya yang putih dan mulus, dia mulai turun kebawah sambil melewati anak tangga.


Matanya yang bulat, bibir yang mungil rambut lurus, dia hanya mengenakan jepitan rambut di sisi kiri.


Di tengah menuruni tangga, Lina berhenti sesaat, dan kemudian memandangi seluruh isi rumah Rach yang bagaikan istana, Lina tak habis pikir bahkan tidak pernah bermimpi untuk tinggal di rumah yang mewah dan bagaikan putri.


Dulu Lina hanya berpikir bagaimana caranya keluar dari tangan bapaknya, memiliki hidup yang seperti ini jauh dari bayangan Lina, entah nanti akan berakhir bahagia atau tidak Lina sudah terlanjur jatuh kedalamnya, apa lagi ia sudah mendatangi surat kontrak dengan Rach.


Tapi benarkah setelah aku melahirkan Rach akan melepaskan aku begitu saja, kenapa hatiku rasanya tidak rela, apa aku sudah jatuh cinta kepada Rach, kenapa perasaan yang sangat tabu dan terlarang itu malah muncul di hatiku.


Bagaimana mungkin seekor semut memiliki keinginan untuk mengangkat sebuah gunung. Bahkan memikul makanan saja ia sudah sangat kewalahan.


Bagi Lina perasaan nya ke pada Rach sangat tidak mungkin, walaupun saat ini Rach sangat baik kepada Lina tentu saja ia memiliki keinginan yang jelas dan nyata yaitu ingin mempunyai anak bersama Lina.


Walaupun Lina tidak tau kenapa dia ingin memiliki anak bersamanya, bahkan wanita yang waktu itu sangat cantik dari dirinya dan mencintai Rach malah tidak mau.


Dan memilih Lina untuk menjadi istrinya


" Nona,, nona,, "


Ucapan pelayan kepada Lina membuat Lina tersadar dari lamunannya bahwasanya ia masih berdiri di tengah-tengah tangga.


" Ahh,, iya mba.. " jawab Lina yang merasa malu.


" Makanannya sudah siap nona silahkan makan dulu. " Ucap pelayan tersebut.


Lina pun turun ke bawah dengan pelayan tersebut.


Dia duduk di meja makan seorang diri rasanya sangat sepi tidak ada yang makan bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2