
Ibunya Lina membawa telepon tersebut ke pada Lina yang masih tertidur setelah menangis.
" Nak,, bangun sayang. " Begitu lembut suara ibunya Lina.
Lina mulai mengusik dan terbangun, matanya yang sembab suaranya yang parau, Lina merasa tidak nyaman dengan kedua matanya, pupil matanya serasa menyipit dan membuat Lina kesulitan untuk membuka nya.
" Iya mah,, " jawab Lina.
" Ini sayang, dek Rach ingin berbicara sama kamu. "
Lina Langsung terkejut ia sangat ketakutan, bagaimana tidak, padahal Rach sudah mengijinkan Lina untuk bertemu ibunya tapi Lina malah tidak ingin pulang.
Dan sekarang Lina malah ketakutan untuk berbicara dengan Rach, tangannya bergetar, suaranya tidak mau keluar ia ingin menolak tapi sang ibu terus menyodorkan HP itu kepada Lina.
Dengan berat hati Lina mengambil HP dari tangan Ibunya, dan ibunya Lina pun pergi dari kamar Lina, karena Rach meminta dia ingin berbicara berdua saja dengan Lina.
Perlahan Lina mulai menaruh hp tersebut di telinganya dan mulai berkata walaupun suaranya sangat kecil dan tidak jelas.
" Ha,,halo " Lina begitu ketakutan, sampai suaranya saja tidak mau keluar
" Apakah kamu tidak puas dengan waktu yang sudah aku berikan ? " Tanya Rach kepada Lina.
Belum selesai berkata ia kembali berkata.
" Kenapa sampai harus menangis dan tidak mau kembali? "
Pertanyaan demi pertanyaan terus Rach lontarkan kepada Lina, yang membuat Lina semakin ketakutan, tapi ia ingin membela diri.
" Ti,,dak,, hanya saja aku masih merindukan mama, bisakah kamu memberiku waktu sampai kamu kembali. ? " Tanya Lina entah kenapa mulutnya malah berkata seperti itu
" Apakah kebaikan ku masih tidak cukup?! Aku sudah mengijinkan kamu untuk bertemu ibumu tapi kamu masih berkata itu kurang!! " Rach yang sangat marah ia membentak Lina dengan sangat kencang.
__ADS_1
Badan Lina sampai terkulai lemas untuk pertama kalinya ia mendengar Rach yang begitu marah kepadanya.
Lina tidak berani berkata apa-apa perkataan Rach sudah membuatnya takut, sampai mulutnya pun membungkam.
" Besok kembali!! Kalau tidak jangan harap kamu bisa bertemu dengan ibumu lagi, aku sudah berbaik hati kepadamu, setidaknya untuk membalas kamu cukup menurut saja padaku. " Ucap Rach sambil mematikan telepon nya. Lina langsung terduduk dan terdiam Rach begitu mengerikan saat dia sedang marah.
Sambil terduduk Lina ingin kembali menangis tapi air matanya sudah tidak ada lagi, ia tidak menyangka Rach akan marah sampai segitunya
Sambil mengusap air matanya Lina pun keluar dari kamarnya, ia berusaha untuk ceria di hadapan ibunya
" Nak,, kamu mau pulang sekarang? " Tanya sang ibu.
" Tidak mah,, Rach memberiku izin tidak papa aku pulangnya besok. " Ucap Lina.
" Syukur kalau gitu nak,, " dengan perasaan yang lega.
Silvi sudah mengerti dengan kondisi saat ini, ia tidak banyak berbicara hanya karena sudah paham situasi nya.
Saat malam tiba hati Lina semakin tidak ingin untuk pagi menyapanya karena kalau pagi menyapa dia harus kembali kerumahnya Rach
Lina tertidur dengan terus memeluk sang ibu pelukannya begitu erat sampai sulit sekali untuk di lepas bahkan ibunya Lina ingin ke kamar mandi saja tidak bisa anaknya terus memeluknya dengan sangat erat.
" Nak,, apa kamu bahagia? " Tanya kembali sang ibu kepada anaknya ia merasa aneh dengan sikap Lina yang tidak ingin kembali lagi.
Lina yang memeluk ibunya pura-pura sudah tertidur.
" Nak mama tau kamu belum tidur, kalau begitu diam mu mama anggap kamu memang tidak bahagia, tidak ada rasa cinta di antara kalian, tapi mama sungguh minta maaf kepada mu nak. " Ucap getir sang ibu sambil mengusap rambut Lina.
Lina yang mendengar perkataan ibunya langsung mendenga ke arah ibunya.
" Tidak mah,, aku bahagia hanya saja aku masih merindukan mama, tidak ada yang lain lagi ko mah. " Ucap Lina yang melihat wajah ibunya begitu sedih.
__ADS_1
" Tidak nak,, jangan berbohong sama mama, mama tau semuanya, apa kamu terpaksa menikah? Tapi mama masih tetap bersyukur setidaknya Rach tidak melakukan sesuatu yang tidak senonoh kepadamu atau memperlakukan kasar kepadamu. "
Ucapan ibu Lina mengiris hatinya, bagaimana tidak perasaan yang ia sembunyikan begitu dalam tetap bisa di tembus oleh ibunya.
" Mama tidak bisa melakukan apa-apa Mama ibu yang sangat tidak berguna untuk anaknya sendiri bagaimana tidak, mama tidak dapat mengambil kamu kembali lagi nak, mama tidak mampu mengembalikan uang yang sudah Rach keluar kan untuk membelimu. "
Sambil menangis, ibunya merasa tidak berguna untuk anaknya, bahkan tidak dapat mengambil kembali anaknya yang sudah di jual oleh bapaknya. Bahkan ia untuk makan saja sudah pas-pasan mau cari uang dari mana untuk mengambil kembali Lina.
Lina di jual dengan harga yang sangat tinggi yaitu tiga milliar rupiah, mau dari mana uang sebanyak itu.
" Tidak mah ini bukan salah mama,, semua orang di rumah itu memperlakukan aku dengan baik termasuk Silvi dia sangat baik kepadaku Rach juga sama mah, dia tidak pernah bertindak kasar kepadaku, aku pasti akan terbiasa dengan suasana di sana, mama jangan memikirkan apapun aku sangat bahagia, aku bukannya tidak ingin pulang hanya saja aku masih sangat merindukan mama.. "
Lina berusaha menenangkan ibunya yang menangis untuknya, Lina merasa bersalah karena tidak kembali sesuai yang Rach perintah kan kalau dia pulang hari ini mungkin ibunya tidak akan berpikir macam-macam.
PAGINYA..
Lina sudah bersiap dan rapi ia pagi-pagi sekali sudah siap untuk kembali ke rumah Rach, kalau ia semakin lama berada di rumah ibunya malah akan membuat ibunya sedih karena dirinya.
Sambil memeluk ibunya dengan sangat erat, Lina pun pamit.
" Mah aku berangkat, mama hati-hati di sini ya kalau ada apa-apa Mama telepon aku ataupun Rach! " Ucap Lina sambil mencium tangan sang ibu
" Iya nak, semoga kamu bahagia, hati-hati di jalan. " Ucap sang ibu.
Setelah mereka berdua pamit, Lina langsung masuk kedalam mobil, ia tidak ingin menangis di depan ibunya, dia harus menjadi wanita yang kuat.
Di perjalanan Lina terus terdiam tidak berkata-kata apa-apa ia hanya terus melihat ke arah jendela yang membuat Silvi kebingungan dan suasana sangat canggung.
" nona mau sarapan dulu ? " ucap Silvi untuk mencairkan suasana.
" tidak, nanti saja kalau di siang. " ucap Lina.
__ADS_1
suasana kembali hening, bahkan saat makan siang pun Lina tanpak enggan untuk berbicara padahal itu bukan kesalahan Silvi tapi ia juga ke bawa-bawa.
sesampainya di rumah Rach mobil yang Silvi lajukan akhirnya berhenti di bagasi rumah Rach.