
Apa sebenarnya alasan Rach menyukai makanan itu hampir setiap hari tidak pernah terlewat dalam menunya.
Tanpa Lina sadari Rach sudah menatapnya dengan tajam sambil mendengus Rach berkata " ada apa? kenapa melihatku seperti itu? "
Jantung Lina langsung berdetak cepat, bagaimana mungkin dia berani jujur untuk bertanya. Dan pada akhirnya Lina hanya menggelengkan kepalanya saja.
Rach kembali mendengus dan dengan sedikit kasar ia meletakkan sendok dan garpu di piringnya, mungkin tiba-tiba saja selera makannya hilang.
Dengan wajah sedikit memerah Rach langsung beranjak dari duduknya, dan langsung berlalu begitu saja, meninggalkan Lina seorang diri di meja makan.
" Ada apa dengannya? "
Keheningan mulai menyapa tidak ada suara gaduh hanya Lina seorang diri di meja makan, tidak terlihat para pelayan yang berlalu lalang, sepertinya mereka sudah ada yang istirahat dan di dapur. Sama halnya dengan Rach Lina pun kehilangan nafsu makannya.
Lina terus memandang ke arah bingkisan kecil yang di belikan oleh Rach apa sebenernya isi dari bingkisan tersebut. Rasa penasaran mulai menghantui Lina, Lina pun mulai beranjak dari duduknya dan segera merapikan meja makan.
Dia ingin segera membuka bingkisan tersebut.
Dengan langkah cepat Lina langsung kembali ke kamarnya jantungnya berdetak cepat karena baru kali ini Rach memberikan ia hadiah.
Dengan tangan sedikit gematar Lina perlahan membukanya terlihat ada sebuah kotak berwarna merah di dalam bingkisan tersebut begitu cantik dan imut dengan perasaan tak beraturan Lina pun membukanya secara perlahan.
Dan, mata Lina langsung berkaca-kaca, ia tidak menyangka ada sebuah cincin yang menempel di kotak tersebut, cincin yang berhiaskan permata begitu cantik, tapi dengan ukiran sederhana.
Dengan gemetar dan berusaha menahan Isak tangis Lina mengambil cincin tersebut dengan gemetar ia memasangkan cincin tersebut di jari manisnya.
Ukurannya pas, dan sangat cocok saat Lina kenakan begitu manis saat di pandang.
Terselip sebuah surat kecil di dalamnya, dengan kalimat. ( Kenakanlah jangan di lepaskan. )
Lina pun tersenyum tapi entah kenapa senyuman nya seperti terpaksa.
" Entah harus bahagia atau bersedih semua bercampur, aku senang tapi kenapa hatiku begitu sakit. "
\=\=\=\=
Siapapun pasti akan bahagia saat di berikan hadiah oleh suaminya, begitupun diriku. Tapi apakah aku sudah mulai egois dan serakah, rasanya tidak rela dan terima dengan kenyataan bahwa aku masih tetap istri yang di sembunyikan dari orang lain. Di mana kehadiranku tidak boleh di ketahui.
Hatiku mulai goyah aku jatuh cinta kepadanya, perasaanku pun turut ambil di dalamnya, di mana semakin hari hatiku terus was-was seiring berkembangnya janin yang ada di perutku.
__ADS_1
Mengingat kembali perjanjian kami, semakin sakit hatiku. Bukan aku tidak menginginkan kehadiran anakku hanya saja aku belum siap bila harus berpisah dengan suamiku.
Malam ini, dengan gemetar aku menggenggam cincin pemberian mas, di mana aku harus kembali menerima kenyataan bahwa dia lebih memilih mengasingkan diriku dari pada harus bertemu dengan orang-orang ataupun teman-temannya.
Begitu hening dan sepi, mataku terus tertuju ke arah pintu berharap mas mau menemuiku malam ini, aku ingin menatapnya sekali lagi, begitu jauh status kita sampai membuat aku tidak pantas di sisimu.
\=\=
Malam semakin larut, Lina masih terjaga, beberapa kali dia mondar-mandir begitu gelisah. Sampai kelelahan, dan akhirnya Lina tertidur di sofa.
Ironis memang wanita yang begitu kuat kini begitu rapuh.
Malam yang sangat panjang tubuh mungil Lina sesekali ia menggigil kedinginan, angin di luar menghembus kencang seolah akan ada badai datang.
Kreekkkk... ( Bunyi pintu kebuka )
Samar-samar sosok laki-laki membuka pintu kamar, Lina yang tertidur lelap walaupun sedikit gelisah. Dia mulai menghampiri Lina sampai akhirnya dia berhenti di depan sofa dan melihat Lina yang sedang tertidur pulas.
Wajah yang lusuh mulai menatap Lina, ada kecemasan dan khawatir di wajahnya.
Sosok itu adalah Rach suaminya yang diam-diam peduli kepadanya.
Rach sangat berhati-hati agar Lina tidak terbangun dari tidurnya. Menyelimuti tubuh Lina dan mengusap perutnya.
" Maafkan papa nak. " Lirih Rach sambil kembali berlalu meninggalkan Lina.
Pagipun mulai menyapa, mentari pagi mulai mengintip dari celah awan yang menutupi.
Lina yang masih tertidur pulas terlihat ia malah menarik selimutnya kembali.
Tok, tok , tok.
Beberapa kali terdengar bunyi ketukan pintu, tapi Lina tidurnya begitu pulas sambil beberapa kali menarik selimutnya.
" Tumben nona belum bangun, apa lagi mandi ya? " Lirih Silvi dia masih berdiri di depan pintu kamar Lina.
" Ada apa? Kenapa kamu berdiri di situ? " Ujar Rach dari arah belakang Silvi.
Silvi yang terkejut dia menahan ekspresinya dengan sangat aneh. " Ahh, tuan. "
__ADS_1
" Ada apa?! " Dengan tatapan dinginnya.
" Ini, nona sepertinya belum bangun tuan biasanya kan nona sudah bangun pagi-pagi sekali. " Ujar Silvi dengan gugup hampir keringat dingin keluar.
" Biarkan saja, mungkin dia lelah. " Ujar Rach sambil berlalu begitu saja.
" Duhhh tuan ini, kalau lagi menakutkan seremnya minta ampun, pagi-pagi udah kayak di sapa hantu saja. " Ujar Silvi sambil menghembuskan nafas lega.
Silvipun berlalu pergi, ia kembali ke dapur berniat menyiapkan roti dan susu untuk Lina.
Selang beberapa saat Silvi kembali lagi ke kamar Lina, kini ia hanya mengetuk pintu dua kali dan menunggu sesaat tapi tidak ada Jawaban. Mentari pagi sudah tidak malu-malu lagi keluar kalau tidak segera di bangunkan bisa-bisa nanti Lina kesiangan di jalan.
Silvi Kembali mengetuk pintu. Tapi kini ia langsung masuk ke dalam kamar.
" Ya ampun nona, tumben banget masih tertidur pulas jam segini. " Gumamnya sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Langkah Silvipun segera menghampiri Lina yang masih terbalut selimut tebal.
" Nona, sudah pagi bukankah nona hari ini mau pulang? " Ujar Silvi sambil duduk di samping kaki Lina.
Lina hanya terbangun sesaat lantas tidur kembali.
Ada apa dengan nona tidak biasanya dia tidur pulas seperti ini!!
" Nona. " Sambil menaikkan sedikit nada suaranya.
" Hmmm.. "
Akhirnya bangun juga.
" Sudah pagi, sarapan sudah siap. " Ujar kembali Silvi Lina hanya mengangguk kecil dan kembali narik selimut.
Sambil menghembuskan nafasnya silvipun bangun dari duduknya dan pamit pergi menyiapkan beberapa barang bawaan Lina nanti.
Suasana kamar Lina kembali hening, Lina pun mengeluarkan kepalanya dari selimut, dan mendengus.
" Ternyata tiba juga, aku tidak ingin pulang. " Jerit batin Lina
mau tidak mau Lina harus bangun dari tidurnya dan bersiap-siap. walaupun dengan rasa malas dan enggan Lina tetap melangkahkan kakinya ke kamar mandi, dan segera bersiap.
__ADS_1