Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
kembali menemui dokter


__ADS_3

Tanpa terasa waktu terus berlalu Silvi dan supir hanya memperhatikan mereka dari jauh, Lina tanpak senang saat bermain dengan Iki walaupun Lina tidak bisa bergerak bebas seperti mengejar bola dia hanya duduk sambil Iki yang melempar bola ke arah Kayla.


" Hahaha,, Tante kalah sama Iki.. " ujar anak kecil tersebut sambil tertawa


" Habis Iki lempar nya kejauhan jadi Tante gak bisa nangkapnya deh. " Jawab Lina.


Meraka duduk sambil tertawa, dan Silvi memberikan minuman es kelapa muda untuk mereka berdua.


" Wahh makasih Tante.. " sambil tersenyum ke arah Silvi..


" Sama-sama Adek kecil.. " jawab Silvi.


Sambil melihat ke arah Lina Silvi kembali berkata. " Nona ayok kita pulang sudah satu jam. " Sambil melihat ke jam di tangannya.


Lina mengangguk perlahan, dan mengusap rambut anak kecil tersebut. " Ini kan sudah siang, lebih baik Iki juga pulang ke mamah nanti mamanya cariin loh. " Ujar Kayla sambil mengelus pipi anak tersebut yang mungil.


" Iki gak mau pulang, di rumah ngebosenin mama juga gak bakal cariin Iki. " Sambil memasang wajah cemberut.


" Gak boleh gitu Iki harus bobok siang dulu baru nanti sore Iki main lagi ke sini. " Lina terus membujuk anak tersebut.


Dengan terus bujukan dan rayuan Lina akhirnya anak tersebut menuruti perkataan Lina, sambil berjalan ke arah parkiran Lina terlebih dahulu mengantar anak tersebut. " Tante.. Tante sampai di sini saja itu mobil mama Iki Tante gak boleh ikut Iki lagi. " Ujarnya sambil mendorong Lina agar tidak mendekat ke arah mobil tersebut.


Dan anak itu langsung berlari ke arah mobil tersebut, sambil memukul-mukul pintu mobil ada seseorang di dalam mobil seperti seorang supir dan Iki juga langsung naik mobil dan mereka langsung melaju. " Ko aku nggak liat ibunya ya.? " Ujar Lina penasaran.


" Iya nona terlihat hanya bersama supir saja. " Jawab Silvi menyetujui perkataan Lina. Sambil kembali berkata. " Ayok nona kita juga harus segera pulang, tadi nona di dorong tidak apa-apakan? "


Sambil tersenyum Lina menggelengkan kepalanya, " tidak papa ko. " Jawabnya.

__ADS_1


Merekapun akhirnya pulang di perjalanan Lina ketiduran mungkin ia kelelahan setelah bermain di taman. Sampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul 15:00 Lina di bangunkan oleh silvi untuk kembali beristirahat sebab nanti sore dokter akan datang ke rumah untuk meriksa kandungan Lina.


Sambil kembali berbaring di kasur ia sudah tidak ngantuk lagi, sambil menunggu Silvi membawa makanan Lina pun membaca buku, untuk menghabiskan waktunya.


" Nona ayok makan. " Ujar Silvi


" Iya makanannya tidak usah di bawa ke sini, aku mau makannya di meja makan saja. " Lirih Lina. Silvi pun tersenyum dan menyetujui nya sambil memapah Lina ke ruang makan.


Makanan semua sudah tersaji untuk Lina. Lina hanya boleh makan sayuran dan daging tanpa lemak, maupun minyak, jadi bagi Lina sangat tidak enak di mana hanya bisa makan sayuran yang di rebus atau daging yang di panggang doang atau di pepes.


Tapi ia tidak pernah komplen sebab itu juga demi anak yang ada di kandungan nya apa lagi kalau ia sampai membahayakan anak di kandungannya Rach bisa marah dan murka kepadanya.


" Nona saya meminta memasak sayur buat nona, jadi nona tidak mual lagi kalau makan sayur yang hanya di rebus. " Ujar Silvi sambil menyendok kan sayur bayam ke piring Lina.


" Iya makasih!! " Ujar Lina sambil tersenyum.


Rach begitu protektif terhadap lina semenjak ia mengetahui kondisi kandungan nya yang rawan.


Selesai makan Lina langsung meminta Silvi untuk menyiapkan keperluan ia mandi badannya sudah terasa lengket apa lagi ia harus bertemu dokter dan sebentar lagi Rach akan pulang.


" Non,, kamar mandi sudah siap. " Jerit Silvi dari dalam kamar mandi.


" Lina tersenyum, " iyah... " Jawab Lina sambil langsung menuju kamar mandi.


Kenapa Silvi selalu menemani Lina mandi sebab Rach tidak ingin kalau sampai Lina terjatuh dari kamar mandi atau ada masalah apapun yang membahayakan anaknya, selesai mengenakan kamar mandi para pelayan harus segera membersihkan sisa sabun yang takutnya membuat Lina ke peleset.


Selesai mandi Lina mengenakan baju tidur yang cukup nyaman untuknya tidak terlalu terbuka agar tidak masuk angin.

__ADS_1


30 MENIT KEMUDIAN...


Mobil Rach sudah terparkir di garasi ia baru saja pulang bersamaan dokter, Lina sudah menunggu di dalam kamar. " Lagi apa ? " Tanya Rach lembut sambil duduk di samping Lina dan mencium keningnya.


" Lagi baca buku, dokter sudah datang? " Tanya kembali Lina kepada Rach.


Rach tersenyum dan mengangguk, dia kemudian melepaskan jasnya dan menyuruh dokter untuk masuk ke kamar.


Dia adalah dokter spesialis kandungan, yaitu dokter keluarga Rach, yang bernama Ariani Wijaya. Dokter kepercayaan keluarga Rach.


Dokter tersebut masuk ke dalam kamar dan mulai memeriksa kondisi Lina, hari ini ia tidak membawa alat khusus untuk mendeteksi janinnya bahkan Rach sudah ingin USG untuk anaknya.


" Kondisi nona Lina semakin membaik, dari pada kemarin mungkin karena baru boleh keluar jadi tidak stress lagi ya di dalam rumah. " Ujar dokter tersebut.


Lina hanya terdiam dan sedikit mengangguk, apa yang di katakan dokter benar walaupun dia harus istirahat total tapi kalau sampai beberapa hari tidak bisa keluar bahkan hanya dari dalam kamarnya itu juga membuat Lina stress ia merasa tidak bebas, untunglah dokter menyetujui keinginan Lina untuk bisa keluar Walaupun hanya sebentar.


Selesai memeriksa Lina dokter pun menyuruh Lina untuk kembali beristirahat dan berbicara secara pribadi dengan Rach, Lina tidak pernah di libatkan dalam masalah kandungan nya bahkan yang ia tahu bahwa janinnya sangat lemah, Lina tidak tau betul ada masalah apa dengan kehamilannya, sebab Rach tidak mengijinkan dokter memberi tahu Lina takutnya malah akan membuat kondisi Lina memburuk.


" Kamu tunggu sebentar! " Bisik Rach di telinga Lina dan mencium perut Lina yang masih datar belum menunjukkan perut besarnya.


Lina mengangguk, dan tersenyum. " Sil aku lapar lagi, karena saking tegangnya bawa aku beberapa buah. " Ujar Lina yang sebenarnya ia ingin menghilangkan rasa bosan dan entah kenapa ia sedikit kesal kepada Rach yang menyembunyikan tentang masalah kandungan nya.


Padahal aku ibu dari anakku, tapi ia tidak menganggapku begitu, aku hanya sebuah wadah untuk mendapatkan anak.


Silvi membawakan beberapa buah yang sudah ia kupas, dan langsung memberikannya kepada Lina.


\=\=\=\=

__ADS_1


ig: @telur_menetas


__ADS_2