Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
kembali


__ADS_3

Tanpak Lina sedang memberikan asi untuk bayinya, walaupun beberapa kali ia hampir tertidur membuat Rach tersenyum sendiri.


" Kamu ngantuk? " Tanya Rach sambil menghampiri Lina.


Lina yang cukup terkejut langsung memalingkan wajahnya ke arah Rach " sedikit. " Jawab Lina


" Bagaimana kalau besok aku datangkan bebysister buat kamu biar gak kelelahan? " Usul Rach kepada Lina.


" Tidak, tidak perlu aku bisa menjaga anak aku sendiri. Lagian kan ada mama kamu tidak usah khawatir. " Jawab Lina sambil perlahan menidurkan bayinya.


Rach menatap Lina dengan ragu, seolah tidak percaya " kamu yakin? "


" Tentu saja sekarang aku sudah menjadi seorang ibu jadi kamu tidak usah khawatir. " Jawab Lina tegas dan percaya diri.


Rach menghela nafas Sesaat dia tidak mau berdebat soal anak Rach mempercayai sepenuhnya kepada Lina.


" Aku besok harus kembali " lirih Rach kepalanya menunduk meratapi putri kecilnya.


Lina yang tanpa berkata apa-apa sepertinya sudah ia duga bahwa Rach tidak bisa berlama-lama dengannya.


" Maafkan aku. " Ucap Rach kembali.


Senyum Lina yang terpaksa, ia berusaha tegar dan kuat tanpa adanya Rach di sisinya " tidak papa mas pergi saja, di sini masih ada mama kamu tidak perlu khawatir. " Jawab Lina dadanya sesak seperti ada batu yang menghalangi.


Tanpa berkata apa-apa Rach langsung memeluk tubuh Lina dan berbisik " maafkan aku. " Hanya itu yang terus terucap dari bibir Rach.


Mereka mengobrol cukup lama, saling mengenal kembali itu masih belum terlambatkan?


Lina yang semalaman tidak bisa tidur, dia setiap malam terjaga baru bisa tidur selepas subuh, bayinya cukup rewel semalam sampai membuat Lina kelelahan.


Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi dan Lina masih tertidur pulas, sang ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan sedangkan Rach tanpak sudah rapih mengenakan jas di tubuhnya, dia sedang duduk di depan teras sambil menikmati kopi hitam buatan mertua.


Terlihat ada beberapa tetangga yang lewat sambil bisik-bisik melihat ke arah Rach tidak ada yang berani menyapanya, Rach terlihat sekali sebagai tuan muda yang kaya raya berbeda kelas dengan Meraka menurut warga di sana yang mayoritas petani.


" Nak Rach sedang apa? Ayo sarapan dulu. " Yang tiba-tiba saja membuat Rach terkejut


Bahu Rach terangkat sambil memegang keningnya berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena malu sambil mengangguk Rach pun masuk kedalam. Tanpak ia celingak-celinguk mencari sesuatu.


" Nak Rach cari apa? " Tanya sang ibu

__ADS_1


" Lina mana? Ko tidak ada? " Ujar Rach


Sambil tersenyum kecil menahan tawa " masih tidur karena semalam begadang. "


Rachpun langsung menuju kamar Lina ia ingin memastikan apa benar Lina belum bangun, bagaimanapun juga ia mau kembali dan Rach ingin melihat putrinya dan Lina.


Saat membuka pintu kamar sudah kosong, Rach celingukan mencari Lina hanya ada Syakila yang sedang tertidur pulas di ranjang.


Kemana dia?


Terdengar ada suara di dalam kamar mandi. Rachpun tersenyum lega ternyata Lina sedang mandi, sambil menunggu Lina Rach mulai mengusili Syakila, memainkan hidungnya yang mungil, entah karena greget atau apa Rach semakin asik dia kecanduan memainkan hidung Syakila yang mungil.


Semakin lama bayi yang sedang tertidur pulas itu mulai merasa tidak nyaman syakila berusaha mengeluarkan tangannya dari bedongan yang membungkus tangannya.


Oooeee,, Oooee...


Rach mulai panik Syakila terbangun dari tidurnya, dengan perlahan dan lembut Rach merangkul Syakila dan menggendongnya.


Bukannya tenang tangisannya semakin kencang yang semakin Rach panik dan kewalahan. " Cup,, cup,, nak jangan nangis papa ada di sini. " Ujar Rach yang berusaha memenangkannya.


Rach tanpak kewalahan, si kecil masih terus menangis membuat Lina yang sedang mandi dan ibunya Lina yang sedang menyiapkan sarapan mendengarnya dan bergegas menghampiri si kecil di kamarnya.


Betapa terkejutnya ia melihat Rach cemas Syakila yang masih di pangkuan Rach semakin ngamuk.


" Ya ampun mas, Kila kenapa? " Tanya Lina sambil langsung mengambil Syakila dari pangkuan Rach.


Belum sempat jawab ibunya Lina langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa ia sangat khawatir mendengar tangisan sang cucu.


" Kenapa nak.? " Ujarnya dengan tergesa-gesa.


Rach yang gugup dan masih shok ia berkata sedikit terbata " ba, bangun tidur langsung nangis " ujar Rach menyembunyikan perbuatannya tadi yang usil.


" Hahh, kirain mama kenapa, yasudah mama kembali lagi ke dapur " ujar beliau


" Ya ampun mas bikin kaget saja, untung aku sudah selesai mandi. " Ujar Lina yang kini sedang menyusui Syakila.


" Hehehe.. "


" Yaudah kamu pakai baju dulu biar Syakila sama mas dulu. " Ujar Rach sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


" Nanti mas kan Kila lagi mimi. "


Entah kenapa saat menunggu Lina menyusui wajah Rach memerah ia terus mondar-mandir berusaha mengalihkan pandangannya. Yang membuat Lina bertanya-tanya.


" Kenapa si mas? " Akhirnya ia mengeluarkan unek-unek di dalam pikirannya.


" Tidak, cepat pakai baju. " Jawab Rach.


" Iya, loh ko mas belum berangkat? ini sudah hampir jam delapan loh mah " ujar Lina kembali bertanya kepada Rach


" Tidak papa, sini biar mas aja itu sudah lepaskan, cepet pakai baju. " Ujar Rach sambil meraih Syakila dari tangan Lina dan langsung membawa ya keluar


" Kenapa mas jadi aneh gitu si? " Sedangkan Lina masih kebingungan dengan tingkah laku Rach.


Hubungan mereka sekarang semakin membaik, begitu harmonis walaupun baru sehari, tapi Rach ia sangat bersungguh-sungguh menurunkan egonya.


Tidak ada rasa canggung ataupun enggan mereka berusaha untuk lebih dekat lagi dan seperti pasangan lainnya yang harmonis.


Selesai mengenakan pakaian Lina langsung menghampiri Rach dan ibunya yang ternyata mereka sudah menunggu di meja makan, sedangkan Syakila sudah tertidur lelap.


Selesai makan Rach pamit dia harus kembali, karena pekerjaannya sudah menunggu. Tapi Rach akan meminta Silvi dan pak Parto untuk mengantarkan keperluan Lina dan Syakila selama di rumah mertuanya.


Rach sudah Kembali, rumah jadi tanpak sepi walaupun Rach bukan seorang yang humoris tapi ia cukup memberikan kehangatan di rumah itu.


Hati Lina terasa hampa padahal ia baru di tinggal selama beberapa jam saja oleh Rach.


Kenapa aku masih merindukanmu.


" Nak gak boleh melamun, itu kesian cucu mamah popoknya basah. " Ujar sang ibu sambil mengganti popok Syakila.


" Iya mah, nggak melamun ko. "


" Jadi sepi ya kalau tidak ada nak Rach serasa ada yang kosong dan hampa. " Godanya, seolah menebak isi hati Lina.


" Apasih mah. " Dengan wajah malu-malu


Di lain sisi Rachpun merasakan hal yang sama seolah ada yang hilang dari dirinya, begitu sepi walaupun ia saat ini sedang di tengah-tengah keramaian.


Kini aku kembali merindukanmu.

__ADS_1


__ADS_2