
Lina dan Rach turun ke bawah tanpak makanan sudah siap dihidangkan, Lina pun duduk di kursi meja makan.
" Terimakasih. " Ucap Lina.
Lina tidak mengenal siapa yang memasak tersebut.
" Sama-sama non. " Jawab wanita tua itu.
Rach memberikan Lina banyak sekali makanan di piring Lina.
" Makanlah agar kamu cepat hamil. " Ucap Rach kepada Lina.
Seketika itu juga Lina terdiam mematung, ia lupa dengan tujuan Rach menikahi nya. Pikir Lina Rach menikahi nya hanya karena menginginkan seorang anak, Lina pikir Rach sudah mulai menyukainya, tapi ternyata..
" Terimakasih,, " jawab Lina dengan sangat kaku.
Ia memandang Rach dengan masam, walaupun begitu Lina tidak ingin Rach mengetahui pandangan nya.
" Kenapa kamu belum hamil juga? " Tanya kembali Rach di sela-sela makan mereka.
" Aku tidak tahu, kita baru satu bulan menikah! " Jawab Lina bernada dingin.
Entah kenapa perkataan Rach seperti memojokkan dirinya.
" Mau coba periksa ke dokter? " Tanya kembali Rach, walaupun nada bicara Rach sangat santai.
" Terserah kalau tuan maunya begitu. " Jawab Lina.
Rach yang tidak menyukai Lina memanggil dirinya tuan ia menghentikan mengunyah makanannya dan memandang ke arah Lina dengan tatapan sangat dingin.
" Aku tidak menyukainya kamu memanggilku dengan sebutan tuan carilah kata-kata lain yang membuatku senang. " Ucap Rach.
Ini lagi, aku harus memanggilnya apa? Sekarang bukan hanya mama yang mendesak ku.
Kini Rach juga.
" Mas? Bagaimana? " Tanya Lina dengan sedikit gugup dan pipinya memerah karena tidak biasa.
" Hhmm, honey juga tidak papa. " Ledek Rach.
__ADS_1
Dan Rach kembali berkata " setidaknya setiap kali kita berdua kamu jangan memanggilku dengan sebutan tuan. "
" Baiklah,, " walaupun sedikit kaku menyebut Rach dengan panggilan baru.
Rach dan Lina melanjutkan makan mereka, kini sudah malam rasa dingin mulai menusuk ke kulit mereka.
Dingin banget benar-benar seperti di puncak.
Lina kembali ke kamar sedangkan Rach sedang menelepon di ruangan lain.
Apa dia tidak ada kerjaan kenapa baru pulang langsung mengajakku ke sini, walaupun begitu lebih bagus dari pada di rumah.
Lina langsung naik ke atas di situ ia melihat langit yang di penuhi oleh bintang, bagaimana bisa kamar yang ia tempati tadi kini atapnya berubah jadi kaca di mana kita bisa menatap langit-langit yang tembus.
Lina mulai membaringkan tubuhnya di kasur ia terpesona melihat pemandangan yang tembus di luaran sana, bahkan di tempat tadi ia dan Rach duduk ada teleskop yang sudah tersedia.
Kapan Rach menyiapkan ini semua dan bagaimana bisa atapnya berubah jadi kaca.
Lina begitu terpesona apa lagi lampu kamar dimatikan hanya menggunakan lampu tidur jadi pemandangan dari luar bisa dengan sangat jelas terlihatnya
Saking asiknya memandangi bintang-bintang yang berkelip Lina tidak menyadari kedatangan Rach, Rach melihat Lina yang begitu serius memperhatikan bintang di langit sambil di temani angin malam.
Rach mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum melihat Lina, sepertinya ia berhasil membuat Lina senang.
" Tentu saja tu_ eh mas. " Ucap Lina sedikit kaku dan gugup.
Rach membalas dengan senyuman, ia pun menghampiri, Lina yang sedang berbaring di kasur dan memeluknya.
" Aku sengaja meninggalkan pekerjaan aku dan pergi bersamamu agar kita bisa berduaan seperti ini, lain kali kalau aku memiki waktu lebih kita bisa hanimun bersama, bukankah kita belum melakukannya. " Bisik Rach di telinga Lina sampai membuat Lina merinding.
Rach begitu bergairah, ia sangat merindukan saat-saat seperti ini, bagi Rach Lina tidak membosankan, malah membuat ia kecanduan.
" Apa kamu sudah mengantuk? " Tanya Rach sambil mengabsen seluruh tubuh Lina dengan jemarinya.
Lina hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana ia bisa melihat bintang dengan tenang dari tadi saja Rach terus memainkan tubuhnya.
" Berhentilah aku sedang melihat bintang. " Ucap Lina.
" Besok kan bisa! " Rach tidak ingin melewatkan satu pun bagian tubuh Lina yang tidak ia absen
__ADS_1
Alih-alih ingin tenang malah Lina terbawa suasana panas Rach, di cuaca yang sangat dingin tapi mereka berdua malah berkeringat satu sama lain.
PAGINYA.
Mereka berdua begitu terlelap matahari langsung masuk melalui kaca tersebut yang membuat Rach terbangun, ia mengambil sebuah remote di samping tempat tidur dan menekan tombol merah.
Dan tiba-tiba saja atapnya mulai tertutup, tidak berisik, setelah menutup atapnya ia langsung melirik ke arah Lina yang masih tidur dengan sangat mulas.
Rach tersenyum dan memeluk tubuh Lina, Rach kembali tidur. Lina begitu pulas tidurnya ia mungkin sangat kelelahan sebab Rach seperti kuda yang bersemangat.
Sampai jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Lina mulai bergulir, ia mulai bangun dari tidurnya, cuaca yang masih dingin yang membuat Lina enggan untuk bangun apa lagi Rach memeluk Lina dengan sangat erat.
" Mas bangun,, " lirih Lina
" Hmmm.. " Rach malah memeluk Lina semakin erat
Bagaimana bisa aku bangun, kalau dia memelukku semakin erat begini, coba aku sudah lapar lagi biasanyakan dari subuh Lina sudah bangun, selesai shalat ia langsung merapikan kamarnya dan mencuci baju ia sendiri.
Tapi kini untuk sarapan saja susah Rach terus memeluknya sangat erat, bahkan sampai membuat Lina tidak bisa bergerak.
Sambil perlahan mencoba melonggarkan pelukannya Rach yang sangat kencang, Lina mulai menarik tangan Rach secara perlahan agar tidak membangunkan nya. Lima belas menit kemudian akhirnya Rach bisa melepaskan tubuhnya dari pelukan Rach.
Lina langsung mandi dan selesai mandi ia melihat Rach masih tertidur dengan sangat pulas, Lina perlahan turun kebawah, ternyata sarapan sudah tersaji di meja makan, nasi goreng spesial.
Tapi di dapur sudah tidak ada orang, Lina langsung sarapan selesai sarapan Lina mulai mencoba menjelajah area villa tersebut, sambil melihat awan yang menutupi permukaan tebing.
Di luar villa ada ayunan sambil melihat pemandangan yang sangat indah Lina duduk dengan santai di ayunan tersebut, suasana yang sejuk dan segar membuat Lina sangat nyaman, walaupun matahari sedikit tertutup oleh awan jadi tidak begitu panas
Alangkah indahnya ciptaanmu, dan aku sangat bersyukur bisa menikmatinya saar ini
Suasana yang masih sangat asri begitu sejuk walaupun matahari sudah berada di atas kepala.
Lina yang mulai bangun dan mencari Lina, dia terkejut, Rach langsung berlari mencari Lina dengan sangat panik.
Dan saat ia melihat pintu luar kebuka, Rach langsung berlari keluar, dan ternyata Lina sedang duduk santai di kursi sambil menikmati pemandangan.
Rach bernafas lega, ia tidak memberi tahukan Lina bahwa dirinya mencarinya, Rach kembali masuk kedalam dan mandi.
\=\=\=\=
__ADS_1
Terimakasih sudah memberikan saran tentang panggilan Rach.
Jangan lupa like, dan kritik sama sarannya author sangat berterimakasih karena sudah sabar menunggu SYK.