
Sambil memandang ke arah langit, mata yang berkilau seperti embun pagi " owh iya mas,, aku minta izin pergi ke supermarket boleh bersama Silvi. " Lirih Lina ia menundukkan kepalanya seolah takut mendengar jawaban dari Rach.
Rach mengunjingkan senyumannya " kamu bosan di rumah?. " Tanya Rach sambil mengelus rambut Lina, yang sedang terurai. Secara perlahan ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Rach kepada dirinya.
Sambil kembali mengunjingkan senyumannya " baiklah kita pergi sama-sama aku pun ikut. " Ujarnya dengan lembut.
Kenapa ia terus mengelus rambutku si seperti ngelus kucing saja, tapi walaupun begitu aku sangat merindukan sentuhannya yang sudah lama tidak aku rasakan lagi, seolah ada percikan menyambar yang membuat jantungku berdebar-debar.
Semakin di rasakan debaran jantungku semakin kencang, bahkan membuat tubuhku terasa panas, seperti remaja saja padahal aku sebentar lagi jadi ibu, kenapa seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Pipi Lina memerah, Rach yang melihat perubahan pada wajah lina iapun tersenyum " kenapa kamu malu-malu seperti itu. " Ujarnya seolah sedang mengusillin Lina.
" Ti.. tidak,, siapa yang malu-malu, yasudah aku bersiap-siap dulu. " Ujar Lina yang tidak dapat menahan jantungnya semakin berdebar kencang dia tidak ingin Rach mendengar detak jantung miliknya.
Apa-apaan ini kenapa ia bersikap seperti itu, buat copot jantung saja.
Sambil bersandar di balik pintu kamarnya, Lina mencoba menenangkan hati dan jantungnya seolah mereka akan meloncat keluar, sambil memegang perutnya, Lina mengangkat sudut bibirnya dan sedikit bergumam. " Semoga mama bisa tetap bersamamu nak, sampai kamu Tumbuh dewasa. "
Hatinya sedikit teriris mengingat perjanjian dirinya dengan Rey, ia takut bagaimana kalau anak yang ia kandung adalah laki-laki apa ia akan langsung di usir dari rumah Rach tapi bagaimana kalau perempuan apa Rach akan bertindak kejam kepada dirinya sampai ia mendapat seorang anak laki-laki.
Maka dari itu Lina bersikeras ia tidak ingin melakukan USG sebab hatinya masih belum siap menerima kenyataan. Walaupun dokter memelurkan USG dan sudah beberapa kali di lakukan untuk melihat kondisi anaknya tapi hanya dokter yang bisa melihat hasil USG itu baik Lina maupun Rach tidak mengetahui sebab itu syarat dari Lina.
Sambil bersiap mengganti baju dan selesai itu Lina keluar dari kamarnya jantungnya sudah lebih baik, dan ia memanggil Silvi tak lama Silvi keluar Rach sudah tidak ada di teras sebab katanya ia mau ikut akhirnya Lina meminta kepada salah satu pelayan untuk memanggil Rach di atas.
Tak lama Lina menunggu, akhirnya Rach turun ia sedikit mengubah penampilan nya menjadi sosok yang sangat berbeda dari yang Lina kenal penampilannya berubah dratis.
Ahh ia diakan seorang derektur yang nomer satu kenapa aku bisa lupa kalau ia tidak mungkin keluar begitu saja, dia harus merubah penampilannya sampai semua orang tidak ada yang mengenalinya.
__ADS_1
" Ayok, berangkat.. " ujar Rach sambil mengenakan kacamata hitam, baju yang ia kenakan lebih casual dan santai.
Merekapun berangkat Rach tidak ingin menarik perhatian orang-orang mereka pergi bertiga, yaitu Rach, Lina dan Silvi.
Silvi yang mengendarai mobil suasana di mobil begitu canggung bahkan mobil sudah terpakir di sebuah mall akhirnya Silvi membawa mereka berdua ke mall sebab sepertinya Rach ingin mengajak Lina bermain sebab ia berkata kalau ia bosan.
" Maaf tuan, nona kita sudah sampai! " Ujar Silvi sambil melepaskan sabuk pengamannya.
" Ahh iya.. " Lina segera melepaskan sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil.
" Kenapa jadi ke mall Sil? " Tanya lina yang merasa aneh.
" Hehehe... " Silvi hanya tertawa sambil mengusap-ngusap rambutnya.
" Sudah ayok kita nikmati saja. " Ujar Rach sambil merangkul Lina agar ia cepat berjalan masuk ke dalam mall tersebut.
Saat Lina ingin belanja Rach menghentikan langkah kaki lina dan memegang tangannya, " mau kemana sudah ayok kita berkeliling saja biar Silvi yang menggantikan kamu belanja. " Ujar Rach kepada Lina, sedangkan Silvi tanpak sedikit shok..
Tuan ini padahal aku ingin melihat kalian bermesraan di tempat bermain malah menyuruhku belanja, padahal aku juga ingin melihat senyum di bibir nona yang sudah lama tidak pernah terlihat.
Walaupun batinnya tidak setuju tapi Silvi mau tidak mau ia menuruti perintah Rach, tapi ia berusaha belanja secepat mungkin agar tidak ketinggalan. Silvi cukup kepo..
Mereka berdua akhirnya berdiri di sebuah tempat bermain yang cukup besar dan luas, tidak ada yang mengenali Rach sama sekali, Rach meminta Lina untuk menunggu sebentar dan ia ingin membeli kartu untuk memainkan permainan tersebut.
Selesai itu Rach kembali menemui Lina dan mulai memberikan kartu yang ia pegang kepada Lina, mereka masing-masing menegang satu kartu. Lina lebih tertarik kepada sebuah pencapit boneka dan akhirnya mereka memainkannya.
Lina beberapa kali gagal, Rach pun ikut mencoba tapi Lina masih belum menyerah, tangan yang sedikit gemetar keringat mulai menetas Lina ingin mencoba sekali lagi, bahwa ia bisa melakukannya tapi lagi-lagi ia gagal.
__ADS_1
" Hahh,, gagal terus.. " umpat Lina yang sudah mulai geram.
" Kan sudah aku katakan sini biar aku saja. " ujar Rach yang sedang menyombongkan dirinya padahal belum main.
Sambil melipat bibirnya akhirnya Lina menggeser ke samping Rach dan mulai memperhatikan Rach yang sedang bermain.
Walaupun untuk pertama kali gagal Rach tidak pantang menyerah bisa jatuh harga dirinya di hadapan Lina kalau ia tidak mendapatkan boneka tersebut dan percobaan ketiga akhirnya ia mendapatkan boneka walaupun ukurannya kecil.
Mata Lina mulai membulat ia begitu senang bahkan sampai loncat-loncat kecil saat Rach mengambil boneka tersebut. " Nih kamu mau ini kan.. " ujarnya sambil menyerahkan boneka tersebut.
Selesai puas mereka mulai memainkan permainan yang lain Lina mulai mencoba satu persatu, sampai membuat perutnya terasa kram. " Aduduhh... " Pekik Lina..
Rach yang langsung menoleh " kenapa? " Tanya Rach yang mulai khawatir ia mencoba memapah Lina untuk duduk dan beristirahat, padahal mereka baru main setengah jam.
" Gak,, perutku tiba-tiba saja kram. " Jawab Lina
Rach yang mulai panik, takut Kondisi Lina semakin memburuk akhirnya ia menelepon Silvi untuk segera datang ke tempat bermain tapi Rach terlebih dahulu meminta Silvi untuk membawa kursi roda yang ada di bagasi mobil.
" Ayok kita pulang.. " ujarnya, sambil mengelus perut Lina. Linapun tidak tahu kenapa perutnya tiba-tiba saja kram karena sudah telanjur panik Rach tidak dapat berpikir apa-apa walaupun Lina mencoba menenangkan dirinya.
Tak lama Silvi datang membawa kursi roda dan Rach mengangkat Lina untuk duduk di Kursi roda dan mereka mulai berjalan kembali ke area parkir untuk segera pulang.
Di perjalan Rach menelepon dokter untuk segera datang ke rumahnya. " Sudah aku tidak papa hanya kram saja sekarang sudah tidak terasa sakit ko. " Ujar Lina sambil memegang bahu Rach yang tegang.
" Tidak,, dokter harus memeriksanya terlebih dahulu. " Jawab Rach. Akhirnya selama di perjalanan Rach terus merasa khawatir dia mengernyitkan keningnya.
Sesampainya di rumah..
__ADS_1