
Lina yang masih terbaring di ranjang, wajahnya tanpak lemas dan lesu tenaganya sudah terkuras habis, tapi terpancar senyum bahagia mengembang di bibirnya.
Dia bahagia dan sangat bersyukur di berikan putri yang sangat cantik. Hidung bibir mulut Sampai mata semuanya sangat mirip dengan Rach. Yang membuat Lina teringat kepadanya.
Mas sekarang kamu sudah jadi ayah dan ini putri kecil kita.
\=\=\=
Aku bahagia sangat-sangat bahagia atas kelahiran putri kecil kami, ya aku memang belum sempat memberikan kabar kepada mas.
Aku lupa bawa handphoneku saat mau melahirkan. Tapi bagaimanapun juga aku harus mengabarinya.
Mama terlihat senang melihat cucu pertamanya selesai di mandiin oleh bidan mama langsung memeluk di pangkuannya dengan berlinang air mata.
Bahagia aku sangat bahagia.
Semoga kamu jadi pengikat hubungan mama sama papa nak, jadilah anak yang Sholeh dan soleha.
Rasa sakit dan nyeri masih ku rasakan saat ini apa lagi saat ingin berjalan ke kamar mandi rasanya sakit dan ngilu entah kenapa melihat air aku takut.
Paginya aku dan tetangga yang mengantar pulang ke rumah, setelah dapat izin dari bidan kami pulang naik mobil tetangga beliau sangat baik bahkan ikut menemaniku sampai saat ini dan mengantar aku dan anakku pulang dengan selamat.
" Neng, beli sarapan dulu ya, kan tadi belum sempet sarapan biar cepet sembuh dan sehat. " Ujar suami Bu Tuti
" Iya pak makasih. " Jawabku, walaupun mulutku terasa pahit tapi jujur saja perutku dari semalam terasa perih walaupun sudah makan bubur semalam.
Rasanya nafsu makanku naik tiga kali lipat dari biasanya apa ini pengaruh aku habis melahirkan dan mulai menyusui.
Di sepanjang perjalanan anakku tidak rewel sama sekali, wajah mungilnya tertidur pulas setelah puas minum asi tadi subuh.
Asi ku masih belum lancar walau begitu katanya nanti seiring sering menyusui akan banyak dan subur.
Setelah membeli sarapan kamipun langsung pulang ke rumah, mobil melaju dengan perlahan, walau begitu rasa ngilu masih terasa.
Inikah besar pengorbanan seorang ibu saat melahirkan, yang harus menahan sakit. Maafkan aku mah, aku sayang mama.
Tanpa sadar aku memeluk tubuh renta mama yang kini semakin tua, walau begitu senyuman dan kasih sayang mama tidak pernah hilang dan berubah.
" Kenapa nak, sekarang kamu sudah jadi ibu, jaga anak kamu baik-baik ya sayang. " Ucapan yang lembut tidak pernah berubah.
" Iya mah pasti. "
Akhirnya kami sampai di rumah, Bu Tuti menuntunku dengan perlahan.
" Pelan-pelan jalannya. "
__ADS_1
" Iya Bu, terimakasih banyak sudah nemenin saya sampai mengantarkan saya pulang terimakasih banyak Bu. " Ujar ku kepada Bu Tuti
Beliau sangat baik terhadap keluarga kami.
" Gak papa kan kita sebagai tetangga harus saling membantu. "
" Iya Bu. "
Aku dan anakku langsung beristirahat di kamar, sedangkan mama langsung menyiapkan sarapan yang tadi di beli di jalan.
Aku langsung mengambil handphone ku dan menghubungi mas.
Aneh sudah beberapa kali ku coba hubungi tapi nomernya tidak aktif.
" Kemana kamu mas, padahal ini hari bahagia kita. "
Aku termenung beberapa saat, tanpa kusadari terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Silvi.
" Silvi "
Tanganku pun langsung mengirim pesan singkat kepada Silvi menayangkan keberadaan Rach.
Cukup lama menunggu, telepon genggamku pun berbunyi ternyata dari Silvi dia langsung menelepon setelah membaca pesan dariku.
Langsung ku tempelkan handphone ke telingaku.
" Nona, kemana saja si? Saya hubungi gak di jawab! " Ujar Silvi dari sebrang telepon sana suaranya terdengar cemas.
Akupun mengangkat sudut bibirku " sil, tolong bilangin sama mas bahwa aku sudah melahirkan. " Dengan tenang aku mengatakannya.
" APA? " Jawab Silvi yang sangat terkejut dan kaget. Belum sempat aku menjawab Silvi kembali berkata. " Nona sudah melahirkan? Tapi kenapa tidak memberi tahu saya dan tuan? "
" Maap Sil, ini cukup mendadak akupun sampai tidak sempat membawa handphone sama sekali. " Jawabku dengan sedikit menyesal.
" Ya ampun nona, tapi syukurlah nona selamat, bagaimana dengan bos kecil apakah selamat? "
" Alhamdulillah sil, putri kecilku sehat, walaupun saat pertama melahirkan tidak ada mas dan mas tidak bisa azan untuk putri kecil kami. Dan saat mau ke beri kabar dia malah tidak dapat di hubungi. " Kepalaku tertunduk ada rasa sesak yang menusuk.
" Maafkan tuan nona, saya mohon saya pasti akan segera memberitahukan kabar bahagia ini secepatnya kepada tuan. "
Kami pun larut dalam obrolan yang cukup panjang, sampai bubur yang sudah di bawakan oleh mama dingin.
Hahh rindu rasanya saat mendengar suara Silvi aku ingin kembali lagi kesana.
___
__ADS_1
Setelah mendengar kabar dari Lina bahwa ia sudah melahirkan Silvi langsung bergegas ke kantor Rach, sama halnya dengan Lina silvipun tidak dapat menghubungi Rach.
Nafas yang ter'engah-engah, Silvi langsung menuju ruangan Rach, gadis itu tepat berhenti di depan pintu ruangan Rach, pintu yang terbuka membuat Silvi dapat mengintip ke dalam.
Sepertinya di dalam ruangan itu ada Rio dan beberapa karyawan.
" Lebih baik aku tunggu di bawah. " Sambil berlalu meninggalkan ruangan Rach.
Cukup lama Silvi nunggu, dan akhirnya terlihat Rio berjalan ke luar kantor, silvipun langsung bangun dari tempat duduknya dan memanggil Rio.
" Kak tunggu! " Ujar Silvi sambil berlari ke arahnya.
" Ada apa? Ko tumben ke kantor. " Tanya Rio yang mulai penasaran akan kedatangan Silvi.
" Tuan ada? " Silvi langsung bertanya keberadaan Rach tanpa menjawab pertanyaan Rio.
" Kau ini, tuan ada di ruangannya kamu mau ngapain? " Tanya Rio yang masih penasaran.
" Ok, makasih. " Silvipun langsung berlalu meninggalkan Rio yang masih mematung.
Rio tak habis pikir dengan tingkah Silvi bagaimana bisa gadis itu mempermainkan dirinya.
Dengan kesal Rio pun melangkahkan kakinya ke luar sebenarnya dia ingin sekali menarik baju Silvi agar gadis itu tidak kabur sebelum dia menjawab pertanyaannya. Tapi mau bagaimana lagi dia dapat tugas penting dari Rach yang harus segera dia selesaikan.
Dengan langkah cepat Silvi menuju ruangannya Rach, gadis itu sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan akan kelahiran Lina.
Tuan pasti senang saat mendengar nona sudah melahirkan.
Sampailah Silvi di ruangannya Rach, dengan perlahan Silvi mengetuk pintu.
Tok, tok, tok..
" Ya siapa? " Tanya Rach dari balik pintu tersebut, suaranya masih tetap dingin seperti biasanya.
" Saya tuan. " Jawab Silvi.
Suasana hening sesaat, dan Rach pun mempersilahkan Silvi masuk
" Ada apa? " Tanya Rach yang langsung pempertanyakan kedatangan Silvi.
" Anu tuan, saya membawa kabar gembira. Nona sudah melahirkan tuan. " Jawab Silvi dengan sumringah walaupun kepalanya terus tertunduk.
" APA?!! " Rach sangat terkejut mulutnya menganga.
" Iya tuan tadi nona memberi kabar kepada saya. Sebab kata nona tuan tidak bisa di hubungi, maka dari itu saya juga langsung ke sini. "
__ADS_1
Rach langsung memeriksa handphone miliknya dan ternyata dia lupa mengisi baterai nya.