Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
maaf


__ADS_3

Entah karena terkejut atau apa Rach terdiam cukup lama, dan dia langsung berjalan dengan sangat cepat meninggalkan ruangannya dan Silvi.


Langkahnya cepat. Rach menuju tempat parkir, dan segera ia melajukan mobil miliknya dengan kecepatan penuh.


Anakku sudah lahir.


Bising suara kendaraan mewarnai perjalanan Rach dia langsung bergegas menuju kampung halaman Lina, perasaannya campur aduk. Bulir bening pun runtuh dari pelupuk matanya.


Dia meninggalkan semua pekerjaan penting miliknya tanpa pamit dia terus melajukan mobilnya.


Di sisi lain Silvi tanpak bengong, dia terkejut yang tiba-tiba saja Rach pergi dengan ekspresi menakutkan.


" Mau kemana tuan, kenapa pergi begitu saja, apa mau menemui nona langsung. " Silvi memanyunkan bibirnya.


Karena informasi sudah dia sampaikan, Silvi pun meninggalkan ruangan Rach yang sudah kosong. Dia berjalan sambil tersenyum-senyum


Saat sedang menunggu lift, dan pintunya terbuka dia kembali lagi bertemu dengan Rio. Rio langsung memasang ekspresi jail dari mimik wajahnya.


" Ada apa? " Silvi yang mulai penasaran langsung bertanya kepada Rio


" Akhirnya ketemu lagi, hayo tadi ketemu tuan mau ngapain? " Cecar Rio


" Kepo " jawab Silvi sambil menjulurkan lidahnya


" Hayo kasih tau nggak kalau enggak.. " ujar Rio yang langsung menarik pergelangan tangan Silvi


" Kalau enggak apa? Lagian aku tadi mau ketemu tuan karena mau kasih tau kalau nona sudah melahirkan. " Ujar Silvi yang langsung menarik kembali tangannya.


" Apa? Di saat seperti ini. " Wajah Rio langsung cemas tak beraturan.


" Ada apa si kenapa kamu jadi cemas gitu. " Silvi yang penasaran dengan ekspresi Rio.


Rio menggelengkan kepalanya, seolah tidak ada apa-apa dan diapun berlalu begitu saja meninggalkan Silvi.


" Huhh ada apa si dengan sikapnya kayak gitu bikin penasaran aja. " Ujar Silvi yang kesal dengan sikap Rio.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Hati yang resah perjalanan tak kunjung sampai.

__ADS_1


Rach sangat cemas, dia yang buru-buru pergi membuat ia lupa bawa power Bank.


Hati yang bergetar ingin segera sampai.


Tiga jam pun berlalu, akhirnya Rach Sampai di perkampungan tempat Lina tinggal, laki-laki itu memberhentikan mobilnya sesaat tangan dan pinggangnya serasa mati rasa, bagaimana tidak ia terus mengendarai mobilnya tanpa berhenti.


Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Rach dia yang termenung pikirannya di penuhi oleh Lina rasa menyesal mulai menyelimuti hatinya.


" Maafkan aku. " Lirihnya


Rach melajukan kembali mobil miliknya dengan kecepatan sedang, hatinya mulai menggebu-gebu wajah terasa memanas apa lagi saat dia sudah sampai di rumah Lina. Rach langsung memakirkan mobil di depan rumah Lina.


Jantungnya semakin kencang berdetak, dia keluar dari mobil dengan salah tingkah, ada rasa bersalah di dalam hatinya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak memberi kabar sama sekali.


Perlahan Rach mulai menarik nafas, agar detak jantungnya lebih teratur, sambil mengepalkan tangannya Rach melangkahkan kakinya ke teras tangannya mengepal dan mengetuk pintu yang terbuka sedari tadi.


Tok,, tok,, tok.


Semakin kencang detak jantungnya, rasanya panas dan salah tingkah.


" Aneh tidak ada yang keluar. " Gumam Rach diapun sekali lagi mengetuk pintu.


Ibunya Lina yang mendengar suara ketuk pintu iapun langsung keluar, sambil masih membawa sodet di tangannya. Terlihat laki-laki yang gagah dengan mengenakan jas hitam berdiri di teras rumahnya.


" Siapa itu? Kayak bukan tetangga sini. " Pikirnya


" Maaf mas ada apa ya? " Ujar ibunya Lina tanpa tau bahwa itu menantunya.


Rach langsung membalikkan badannya wajahnya memerah.


" Loh, nak Rach akhirnya. " Dengan gembira ibunya Rach menyambutnya saat tau kalau itu menantunya.


" Sore Tante, maaf saya baru datang sekarang Lina ada? Apa benar ia sudah melahirkan. " Cecer Rach yang langsung kepada intinya.


" Oalah ayok masuk dulu nak pasti capekkan habis perjalanan jauh. " Sambil menarik tangan Rach.


Rach tetap mengikut saja, bagaimanapun juga ia menunggu Jawaban atas pertanyaannya, sambil melirik melihat seisi ruangan.


" Lina kemarin sudah melahirkan putri yang sangat cantik, maaf nak Rach ibu tidak memberi tahukan sebelumnya akan kelahirannya ibu panik sampai gak inget bawa handphone begitupun Lina. " Ujarnya panjang lebar raut wajahnya sangat bahagia saat membicarakan soal cucunya.

__ADS_1


" Bidadari kecil ternyata, papa datang nak. " Batin Rach


" Sekarang di mana Lina? " Rach yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu


" Di kamar sebelah sana, nak Rach pasti ingin segera bertemu dengan putri kecilnya kan. "


" Iya, rasanya sesak dan kaki ini ingin segera menghampiri putri kecil kami. " Jawab Rach air matanya mengembang.


Setelah menunjukkan kamar Lina, wanita itu langsung kembali ke dapur melanjutkan memasaknya dia sangat senang bahwa menantunya sudah datang.


Rach masih mematung di depan pintu, tiba-tiba saja kakinya terasa kaku untuk melangkah lagi ia takut saat melihat wajah Lina apakah dia akan kecewa atau marah kepada dirinya.


Seketika itu juga sosok laki-laki yang gagah dan dingin itu tiba-tiba saja nyalinya langsung ciut saat berhadapan dengan sang istri.


Tidak ada tahta ataupun kekuasaan tapi Lina mampu membuat seorang Rach yang berkuasa luluh di hadapannya.


Klekk.


Rach memberanikan diri dia membuka pintu dengan perlahan, jantungnya berdetak tak karuan. Terlihat Lina sedang tertidur pulas bersama putri kecilnya.


" Hahh.. " Rach menghela nafas panjang entah perasaan lega atau apa tapi seolah beban yang menghantam jantungnya terasa terangkat dia bisa bernafas normal


" Rach memandang cukup lama wajah Lina dan ia mengelus putri kecil mereka. Air mata pun jatuh tanpa permisi, mengalir dengan deras tanpa bisa ia tahan.


Aku bahagia sangat-sangat bahagia, tidak pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini. Aku yang selalu menilai sesuatu dengan uang dan kekuasaan seketika itu juga luluh di hadapannya.


Tangannya terasa bergetar dia ingin sekali memeluk putri kecilnya yang sedang tertidur pulas itu.


Tiba-tiba saja bayi mereka menangis cukup keras membuat Lina maupun Rach terkejut Rach langsung memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya, dia tidak ingin Lina tau bahwa ia sedang menangis.


" Sayang papa datang. " Ujar Rach seketika itu juga membuat Lina terkejut dia mematung sesaat mendengar suara Rach.


" Mas.. " lirih Lina seoalah tidak percaya


Apakah aku masih bermimpi.


" Maafkan aku, aku memang bukan ayah yang baik buat anakku, aku bukan suami yang baik buatmu, aku yang seharusnya ada di sampingmu tapi malah menyuruhmu pergi. " Ujar Rach bibirnya bergetar saat mengucapkan kata-kata itu, ia membuang semua ego miliknya dan mengumpulkan keberanian nya untuk mengatakan sebuah kata maaf.


" Maafkan aku. " Lagi-lagi kata-kata itu yang terucap dari mulut Rach.

__ADS_1


bibir Lina membisu.


__ADS_2