
Selesai makan siang, Lina dan Silvi langsung membungkus kembali biji Ketapang itu tidak lupa menyelipkan surat yang sudah Lina bawa sedari tadi untuk ibunya tercinta.
Membungkus nya dengan rapi, selesai itu Silvi langsung bergegas mengirimnya agar hadiah dari Lina cepat sampai ke tangan sang ibu.
ESOKNYA..
Lina yang sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati teh dan biji Ketapang yang ia buat.
Apa mama akan menyukai hadiah dariku, aku tidak kepikiran lagi harus memberikan apa? Dan juga mana mungkin kan aku minta sama mas untuk membeli sesuatu, padahal waktu itu pergi belanja tapi malah gagal..
Raut wajah Lina tanpak sedikit murung dan sedih, karena tidak bisa memberikan sesuatu, hanya bisa membuat biji Ketapang saja dan sepucuk surat.
Saat Lina terjerumus dalam lamunannya tiba-tiba saja ia di buat terkejut dengan perutnya sang bayi tiba-tiba saja bergerak membuat Lina seketika memegang perutnya, ini memang bukan pertama kalinya bayi yang ada di dalam perut Lina dia sudah bergerak bahkan semakin lama semakin aktif.
Waktu pertama kali janin dalam perutnya bergerak Lina begitu terharu, sebab kalau sampai tidak ada gerakan atau denyut jantung sang bayi berarti ada masalah dengan kondisi kandungannya.
Tapi kini sang calon bayi begitu aktif bergerak di dalam perut Lina, walaupun belum begitu kencang gerakannya karena usia kehamilan baru jalan 6 bulan.
Sambil mengajak ngobrol sang cabang bayi dan mengelus-elus perutnya, Lina begitu senang, ia berharap kondisi kandungannya semakin membaik sampai sang bayi lahir kedunia.
" Nona! " Jerit silvi membuat Lina terkejut dengan teriakkannya.
" Sil,, kebiasaan.. " geram Lina yang masih mengelus-ngelus perutnya.
" Wah,, kenapa si dedek,, nendang-nendang ya? " Tanya Silvi sambil berjongkok di depan Lina dan ikut mengelus perut Lina.
" Lagi aktif.. " jawab Lina gembira. Ia tidak pernah mempermasalahkan Silvi memegang perutnya.
Saat mereka berdua sedang asyik kini Lina dan Silvi di buat terkejut oleh kedatangan Rach. Laki-laki itu melotot tajam ke arah mereka berdua, Silvi Langsung menurunkan tangannya di perut Lina dan langsung berdiri membungkuk ke arah Rach.
Lina hanya terdiam mematung. Dengan tatapan tajam dan dingin Rach mendengus dingin " apa yang sedang kalian lakukan? " Tanyanya dengan cukup dingin.
__ADS_1
Terlihat Silvi gelagapan menjawab pertanyaan Rach, Lina pun langsung berdiri " tidak ada, hanya saja kita sedang mengajak ngobrol bayiku. " Jawab Lina datar.
Rach melirik tajam, dan ia langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, Rach langsung ke kamar atas.
Ada apa dengannya kenapa sikapnya tiba-tiba sedingin itu.
Lina mendengus melihat tingkah laku Rach yang super dingin itu.
" Mungkin tuan sedang ada masalah di kantor " seru Silvi seoalah menjawab pertanyaan yang ada di dalam pikiranku.
" Hahh.. yasudahlah.. " lirih Lina sambil berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya.
Silvi yang melihat tingkah laku mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepalanya dan menghela nafas, entah kenapa akhir-akhir ini tingkah laku Rach sedikit berubah, bahkan ia sempat tidak pulang selama tiga hari tiga malam entah apa yang sedang ia kerjakan.
Setiap pulang kerumah emosi Rach sangat tidak stabil, bahkan sering terdengar gelas pecah dan memarahi beberapa pelayan tanpa alasan jelas.
Lina sebenarnya ia sangat khawatir dengan perubahan sikap Rach dan memberanikan diri untuk mendekati Rach dan bertanya sedang ada masalah apa, tapi yang Lina dapat iya kena marah dan bentak dan akhirnya di usir dan jangan dekat-dekat dirinya tanpa seizin dia.
" Ada masalah apa si sebenernya? Kenapa aku harus kebawa-bawa juga dan kenapa akhir-akhir ini dia malah tempramental. " Lirih Lina sambil memandang ke arah jendela.
Sesekali Lina menarik nafas dan menghembuskannya keluar secara perlahan, setiap hari hanya berada di dalam kamar rasa bosan selalu menyerang dirinya, Lina hanya bisa keluar rumah pagi dan sore saja.
Tanpa terasa hari sudah senja, Lina dan Silvi pun sedang jalan-jalan santai di taman, sedangkan Rach ia dari tadi siang masih mengurung diri di dalam kamarnya.
" Sil, kamu tau kenapa mas akhir-akhir ini sering marah-marah? " Tanya Lina kepada Silvi yang membuat Silvi terkejut, sesaat dia terdiam.
" A,,aku tidak tau non, mungkin tuan sedang ada masalah. " Lirih Silvi seoalah menghindari pertanyaan Lina yang mulai penasaran.
Lina hanya menghela nafas seolah tidak puas dengan Jawaban Silvi, entah kenapa batinya Lina tidak enak. Apa yang sebenarnya terjadi.
Lina yang termenung dalam lamunannya, iya masih bertanya-tanya, tapi sampai sekarang belum mendapatkan jawabannya. Entah apa yang di sembunyikan Silvi, yang pasti ia tau sesuatu tentang Rach.
__ADS_1
Selesai jalan-jalan Sore Lina langsung pulang dan bergegas mandi membersihkan dirinya.
Selesai mandi Lina langsung membantu para pelayan menyiapkan makan malam, sambil menunggu waktu magrib tiba.
Azan magrib pun berkumandang, Lina langsung menyuruh para pelayan berhenti terlebih dahulu, dan ia langsung bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat magrib.
Lina terus berada di dalam kamarnya sampai makan malam tiba, seperti biasa ia hanya makan seorang diri para pelayan sudah mengantarkan makan malam ke kamar Rach.
Begitulah Rach sikapnya bisa berubah kapan saja, tanpa bisa orang lain duga.
Selesai makan malam Lina menonton tv sebentar karena rasa kantuknya mulai menyerang iya pun mematikan tv nya dan mulai beranjak tidur.
Seperti inilah hubunganku, jauh dari kata romantis bahkan ingin menjadi sepasang suami istri yang normal saja rasanya tidak mungkin, hubungan kita penuh dengan jarak dan perbedaan.
Malam yang gelap dan dingin menyelimuti tubuh Lina, ia tampak beberapa kali menarik selimutnya, seolah dingin itu menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
Mata yang masih terpejam, tidurnya begitu gelisah, ia terus memutar kesana kemari.
Terdengar bunyi pintu kamarnya di buka, Lina yang masih tertidur pulas pun langsung terbangun, telinganya begitu peka terlihat ada orang masuk kamarnya kemudian menutup pintunya kembali.
Ada rasa takut di benaknya lantas ia pun berteriak kepada sosok yang sekarang berdiri di hadapannya. " Siapa? Kamu siapa mau apa? " Jeritnya dengan nada suara yang ketakutan.
Sambil berusaha tangan yang satunya untuk menyalakan lampu tidur miliknya.
" Diamlah.. " dengan nada dingin dan angkuh menimpal dan menghapus ketakutan Lina.
" Mas,, ada apa dia ke kamarku malam malam begini. " Jerit batinya sambil menghidupkan kembali lampu.
" Ada apa mas? " Tanya Lina, ia tidak berani bertanya lebih banyak sebab terlihat wajah Rach begitu kusut.
Tatapan yang dingin itu seoalah menusuk ke arah Lina, yang membuat Lina tidak berani menatapnya ia hanya menundukkan kepalanya sedangkan Rach masih menatap dirinya.
__ADS_1