Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
aku pulang


__ADS_3

Wajah Lina hari ini di tekuk, dia terlihat murung dan tidak bersemangat, sambil berjalan dengan gontai.


Lina mulai keluar dari kamarnya, ia melihat ke sekeliling arah rumahnya yang megah tapi sepi, hanya terdengar suara para pelayan saja yang sedang gaduh di dapur. Lina menarik nafasnya dengan panjang berusaha untuk menguatkan hatinya.


" Nona. " Suara Silvi yang memecahkan lamunannya.


" Ah, iya ada apa sil? " Tanya Lina sambil berjalan ke arah meja makan, terlihat sarapan sudah siap tersaji di meja makan.


" Ayo sarapan dulu Nona. " Ujar Silvi sambil mengikuti langkah kaki Lina.


Lina hanya mengangguk kecil, diapun menggeser kursi di meja makan dan lekas duduk.


" Di mana mas? " Tanya Lina kepada Silvi yang sedang berada di samping Lina.


" Owh tuan tadi sudah berangkat pagi-pagi sekali. " Jawab Silvi polos


Terlihat wajah Lina tanpak kecewa.


Apa dia tidak ingin melihatku.


Semua keperluan Lina untuk di bawa ke kampung sudah siap, Silvi membeli beberapa bahan makanan cemilan dan banyak lagi sampai bagasi mobil penuh.


" Sil banyak banget. " Ujar Lina yang terkejut saat melihat isi bagasinya.


" Hehehe itu tuan separuh yang beli, kan kemarin tuan ikut Belanja nona. " Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Lina hanya membulatkan bibir nya, diapun langsung berpamitan kepada semuanya termasuk Silvi, walaupun ada rasa kecewa karena Rach tidak hadir, atau setidaknya mengantarkan Lina bahkan Lina ingin melihatnya lagipun sudah tidak ada.


Akhirnya mobil melaju dengan cepat, meninggalkan perkaranngan rumah Rach, Lina hanya bisa menatap dari arah kaca spion mobil angin yang menghembus masuk ke dalam membuat rambut Lina tersapu oleh angin.


Linapun menutup kaca mobilnya, dan bersandar di kursi mobil, begitu hening Sampai membuat supir yang mengantar Lina kebingungan antara mau ajak ngobrol atau diam membisu.


Sebab biasanya Lina selalu mengajak ngobrol siapapun termasuk para supir.


Mobil terus melaju beberapa kali terjebak macet hari sudah mulai siang, Lina yang masih terdiam dia sedari tadi hanya memandang ke arah jendela mobil saja.


Pak Parto pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Lina. " Anu, nona apa kita mau berhenti sebentar sudah Dzuhur. " Ujar Pak Parto.


" Ahh iya pak, kita berhenti di rest area saja sekalian makan siang. " Jawab Lina


" Baik nona. "


Lina sambil mengusap-usap perut buncitnya yang sesekali di balas dengan tendangan dari si dedek bayi.


Bibirnya tersenyum, suasana hati Lina mulai membaik. Tak lama mobil yang di tumpangi Lina berhenti di sebuah rest area, Pak Partopun langsung memakirkan mobilnya di parkiran sedangkan Lina bersiap untuk turun dari mobil.

__ADS_1


Duduk yang terlalu lama di dalam mobil membuat kaki dan pinggangnya kram dan pegal, sambil sesekali memijat pinggangnya.


Pinggangku serasa mau patah.


Sambil di bantu Pak Parto untuk turun dari mobil, karena kakinya kram, Lina di papah oleh Pak Parto sampai ke sebuah lestoran cepat saji.


" Nona duduk dulu di sini biar saya yang pesan makanannya. " Ujar Pak Parto.


Laki-laki yang sudah setengah baya itu terlihat di keningnya sudah mulai keriput beberapa kali Pak Parto menghapus keringatnya dengan sapu tangan setelah memapah Lina.


" Terimakasih Pak, maaf aku berat ya. " Lirih Lina, pipinya memerah.


" Ti, tidak ko Non ini karena panas tadi di luar. " Jawab Pak Parto dengan gelagapan.


Lina menggunjingkan sudut bibirnya, setelah memastikan apa yang mau di pesan oleh Lina Pak Parto langsung bergegas memesannya.


Tak lama pesanan datang terlihat satu menu saja yang di pesan di mana pesanan Pak Parto begitupun dengan Pak Parto Lina terus melihat kanan kiri, tapi tidak ada.


Kemana Pak Parto apa mungkin shalat Dzuhur.


Sambil sedikit memanyunkan bibirnya, Linapun segera menyantap makan siangnya, cukup lama Pak Parto menghilang sampai membuat Lina bosan makan sendirian.


" Maaf Nona tadi saya ke musholla dulu sebentar. " Ujar Pak Parto dari arah belakang Lina.


" Sini biar saya bantu Nona. " Dengan sigap Pak Parto membantu Lina berdiri.


" Sudah tidak apa-apa saya bisa sendiri bapak makan siang saja, habis itu kita berangkat lagi. " Jawab Lina


Dengan berat hati Pak Parto menginyakan perkataan Lina bagaimanapun selama di perjalanan Lina adalah tanggung jawab dirinya.


Cuaca yang semakin terik, membuat Lina mengeryitkan keningnya, selesai shalat Lina langsung masuk ke dalam mobil dan sepertinya Pak Parto juga sudah selesai makannya.


" Panas banget Pak. " Ujar Lina sambil mengipas-ngipas tangannya.


" Iya Non, sampai gak ada awan sama sekali. Non harus minum air putih yang banyak ya biar tidak dehidrasi. "


" Bapak juga. " Balas Lina.


Mobilpun kembali melaju, perjalanan yang cukup lama dan melelahkan di mana hari sudah sore dan sepanjang jalan Lina terus terjebak macet yang cukup panjang.


Sampailah di sebuah perdesaan, yang di sepanjang jalan di kelilingi kebun teh dan sawah.


Desa yang masih asri, udara sejuk mulai menyelimuti. Awan mulai berubah warnanya akhirnya Lina sampai juga di kampung halamannya.


Mobil mulai berhenti di sebuah rumah yang cukup sederhana itu, tanpak sepi, tidak begitu banyak orang berlalu lalang di depan rumahnya.

__ADS_1


Udara yang sejuk, jauh dari keramaian yang hanya sepeda motor yang berlalu lalang itupun jarang sekali lewat.


Lina mengembangkan senyum di bibirnya, diapun bergegas untuk turun yang di susul oleh Pak Parto yang langsung membuka bagasinya.


" Assalamualaikum mah. "


Cukup hening di dalam tidak ada Jawaban Linapun kembali mengetuk pintu. Tapi tetap tidak ada jawaban.


Sambil melihat ke arah kursi yang ada di teras rumahnya Linapun duduk sambil mengeluarkan telepon genggam miliknya, yang sedari pagi belum ia sentuh.


Lina mulai mencari nomer telepon ibunya. Terdengar bunyi dering telepon masuk, tapi belum ada jawaban. Yang membuat Lina mulai khawatir.


Kemana mama.


" Kenapa Nona? " Tanya Pak Parto sambil mengeluarkan barang bawaannya dan menaruhnya di teras.


" Sepertinya tidak ada orang di rumah. " Lirih Lina


Dengan wajah menunduk, terlihat ada tetangga Lina lewat, terlihat kaget dari raut wajah mereka seketika itu juga langsung berlari yang membuat Lina kebingungan.


" Mah mah nya Lina, Lina pulang Lina pulang. " Ia terus berteriak seperti itu.


" Ada apa kenapa gaduh seperti itu? " Ujar Pak Parto yang kebingungan mendengarnya.


Sama hal nya Lina juga terlihat bingung dia diam tidak berkata, hatinya semakin was-was.


Tak lama muncul sosok wanita paruh baya muncul dari arah gang di iringi dengan tetangganya yang tadi berlari.


Duhhh membuat kaget saja, ternyata mama baik-baik saja.


" Assalamualaikum nak akhirnya kamu pulang mama kangen sama kamu. " Ujarnya sambil langsung memeluk tubuh Lina.


" Waalaikum salam, mama dari mana saja ko Lina telepon tidak di jawab. " Ujar Lina


" Mama di si teteh tadi abis dari warung. " Jawabnya.


" Neng apa kabar, sudah besar ya sekarang hamilnya. " Ucap teh Irma sambil mengelus perut Lina.


" Baik teh. " Jawab Lina.


" Sudah ayo masuk-masuk jangan. Berdiri di depan pintu. " Sambil memapah Lina.


Seketika itu juga suasana begitu ramai, dan ceria.


#maafkan author.

__ADS_1


__ADS_2