
Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah bersemangat, apa lagi Lina yang semangat untuk melakukan olahraga ringan setiap harinya.
Selesai meminum susu, Lina beristirahat sebentar sambil duduk di teras. Matahari sudah mulai keluar dan tidak malu-malu Lina harus membangunkan Rach yang masih Tertidur pulas.
Sambil bangun dari tempat duduknya Lina pun berjalan masuk ke dalam, dan langsung menuju kamarnya.
Kkreeekkk...
Sambil berjalan menghampiri Rach yang sedang tertidur pulas ia masih tidak mengenakan sehelai benang pun, tanpak seperti bayi saja.
Lina duduk di samping Rach dan mulai menepuk pundak Rach " mas,,, mas bangun Sudah pagi.. " ujar Lina
" Hhmm... " Rach hanya berbalik, saja dia sepertinya sangat enggan untuk bangun, kini tepukkan Lina mulai di perkencang agar Rach segera bangun.
Karena cukup terganggu dengan tepukan Lina akhirnya Rach pun bangun matanya terus menggedip-ngedip ia melirik ke arah Lina yang sedang terduduk di sampingnya.
Lina hanya terdiam dan segera bangun, tapi tiba-tiba saja Rach menggenggam tangan Lina " ada apa? " Tanya Lina.
Rach terdiam sejenak dan mulai membuka mulutnya. " Maaf aku tadi malam kasar kepadamu. " Ujarnya seketika itu juga Lina membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan Rach ucapan.
" I,,itu,, tidak papa.. " jawab Lina dengan nada cukup datar.
Rach yang sudah hampir telat akhirnya ia tidak memperpanjang pertanyaannya ia segera mandi, Lina menarik napas lega sebab aura yang menekan dirinya sudah pergi, bukan apa-apa hanya saja suka maupun tidak suka ia tidak punya hak untuk berkomentar. Itulah yang Lina pikirkan saat ini.
__ADS_1
Di saat Rach sedang mandi Lina menyuruh pelayan untuk mengambilkan baju dan perlengkapan untuk ke kantor.
Tok,, tok,, tok..
" Iya tunggu sebentar.. " jawab Lina sambil membuka pintu.
Kleekkkk...
" Maaf nona ini baju tuan.. " ujarnya sambil membungkuk menyerahkan baju tersebut.
Sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya Lina pun menerimanya, pelayan tersebut pun pamit untuk kembali mengerjakan tugasnya.
Tak lama Rach keluar dari kamar mandi terlihat kasur sudah rapi dan baju sudah ada di atas kasur, " kamu yang ngambilnya? " Tanya Rach
Rach langsung mengenakan baju yang sudah di siapkan, ia tinggal mengambil keperluan kantor saja di kamar atas sebab tidak ada yang berani menyentuhnya, tanpa seizin Rach bahkan Lina sekalipun.
Lina membantu Rach mengenakan dasi dan mengenakan jas, setelah itu mereka berdua keluar dari kamarnya, dan langsung sarapan. Sedangkan Rach dia langsung naik ke atas mengambil leptop dan berkas-berkas yang akan ia bawa hari ini. Setelah itu ia turun kembali tanpak Lina sedang mempersiapkan sarapan
Walaupun sekarang ia tidak begitu di kekang, sebeb dokter juga menganjurkan Lina untuk banyak gerak ringan.
" Nanti siang, ayok kita makan siang bersama.. " ujar Rach kepada Lina sambil menyeruput kopinya
" Tapi mas,, saat ini aku sedang hamil, kalau aku datang ke kantor kamu, dan orang-orang melihat nya itu bisa jadi masalah. " Jawab Lina, mengingatkan kembali kepada Rach posisinya saat ini yang tidak boleh di ketahui oleh siapapun.
__ADS_1
Rach yang mendengar jawaban Lina ia hanya terdiam, seolah membenarkan ucapan Lina.
SELESAI SARAPAN..
Rach bangun dari duduknya, ia langsung bersiap untuk berangkat. " Kalau gitu aku pergi dulu... Rio ayok.. " sambil Salim kepada Lina, dan memanggil Rio sekertarisnya.
Merekapun berangkat bersama ke kantor, sedangkan Lina.. terlihat wajah nya tanpak sedih, sambil merapikan meja Lina terlihat sedang bengong ia terbawa dalam lamunannya.
" Nona,, nona.. pagi-pagi kenapa sudah bengong " Ujar Silvi yang menyadarkan Lina
" Ahh tidak, siapa yang bengong.. " ujar Lina sambil kembali merapikan piring-piringnya.
" Owh iya sil,, kemarin barang belanjaan kamu di taruh di mana? " Tanya Lina yang baru ingat dengan belanjaannya.
" Owh iya saya lupa memberi tahu nona, barang belanjaannya saya taruh di ruang penyimpanan. " Jawab Silvi sambil cengengesan.
" Nona,, nona hari ini kita mau ngapain? " Tanya Silvi kepada Lina yang sedang berjalan ke arah penyimpanan.
" Owh iya sil,, ada tidak si pengiriman ekpress ke kampung? " Tanya Lina sambil berjalan.
" Paling kalau ngirim pagi sampai sananya siang atau sore. " Jawab Silvi sambil terlihat sedang berpikir dan ia kembali bertanya. " Emang nona mau kirim apa?. " Ujar Silvi yang sudah mulai kepo.
" Ada dehhh... " Jawab Lina yang membuat Silvi semakin penasaran.
__ADS_1