Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
perdebatan.


__ADS_3

Pikiran Lina begitu berkecamuk, entah benar atau tidak yang di katakan mertuanya tapi itu membuat ia sangat gelisah.


" Nona lebih baik nona Duduk tidak baik buat kesehatan nona kalau kelamaan berdiri. " Ujar Silvi yang berusaha menenangkan Lina yang terlihat gelisah.


Sedangkan mertuanya Lina dia duduk di sofa yang posisinya cukup jauh dari Lina. Rach cukup lama tiba di rumah sebab ia harus menyelesaikan beberapa meating penting.


Sampai satu jam pun berlalu, kaki dan tangannya ibunya Rach sudah tidak bisa diam sesekali ia mendengus kesal, karena Rach belum juga datang.


" Huhh kemana si anak itu!! " Dengusnya kesal.


Sampai satu jam pun berlalu, terdengar suara mobil memasuki area parkir rumah, ibunya Rach sontak berdiri terlihat sudut bibirnya terangkat samar.


Ada apa sebenarnya?


Rach dengan gagah memasuki ruang tamu dengan jas berwarna hitam melekat di tubuhnya. Raut wajahnya yang dingin dan angkuh.


Melihat kehadiran Rach Silvi pun segera meninggalkan Ruang tamu tersebut. Lelaki gagah itu kini berdiri di antara Lina dan ibunya.


" Ada apa mah? " Tanya Rach kepada ibunya sambil duduk di sofa, sikap Rach terlihat santai yang membuat Lina semakin bingung ada apa sebenarnya.


" Rach bukankah kamu bilang mau mengusir gadis kampung ini kenapa sampai sekarang dia masih berada di rumah ini? Ingat perjanjian kita apa kamu mau melanggarnya. " Dengan suara lantangnya.


Apa perjanjian? Perjanjian apa maksudnya?


Rach mulai mengernyitkan keningnya dan membenarkan posisi duduk menjadi tegak, sedangkan Lina masih terdiam ia bingung harus berkata apa? Semua tidak ia pahami.


" MAHH!! " Bentak Rach


" Apa bukannya kamu sendiri yang bilang akan mengusir wanita ini dari rumah ini kan? Inget jangan mempermalukan keluarga kita. "


" Itu urusanku dan aku tidak pernah mengatakan akan mengusir nya. " Jawab Rach tegas


" APA? Kalau kamu tidak mengusir dia dari sini maka mama akan menarik kembali perjanjian kita. " Ucapnya dengan lantang dan keras.

__ADS_1


" Mah perjanjian kita tidak ada hubungannya dengan dia mama jangan pernah bawa-bawa Lina ke dalamnya bukankah aku sudah memenuhi keinginannya mama! " Rach langsung berdiri dari duduknya terlihat wajahnya memerah menahan amarah.


Tubuhku langsung bergetar melihat perdebatan antara ibu dan anak itu, entah apa yang sedang mereka bicarakan yang pasti ini menyangkut tentang diriku.


" Tapi Rach akan di taruh di mana muka mama? Kalau wanita ini masih berada di rumah ini, bagaimana kalau rekan dan kerabat ayahmu tau soal dia gadis kampung yang kamu beli gak jelas itu. " Tangannya sambil terus menunjuk-nunjuk ke arah Lina.


Tanpa sadar Lina meneteskan air matanya, ia tak bisa menahan setiap hinaan dan perkataan kasar yang terus-menerus di lontarkan kepada dirinya.


" Bagaimanapun juga aku tidak akan meninggalkan Lina maupun menceraikan nya, dan soal itu mama tidak usah khawatir tidak akan ada yang tahu soal Lina sampai ia layak di mata mama! Itu pasti akan aku lakukan. "


" Rach! Apa yang kamu lihat dari gadis kampung ini? Dia hanya gadis bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak sepadan dengan kita. "


Mendengar itu Rach langsung meminta Lina untuk segera masuk ke dalam kamar dan meminta untuk meninggalkan dia dan ibunya yang sedang berdebat hebat di depannya.


" Masuklah! " Ujar nya kepada Lina dengan wajah yang sangat serius dan tegas.


Bahkan Lina saja tidak berani menatap wajah Rach saat ini betapa menakutkan dia, saat lagi marah.


Sambil berjalan dengan lemas air matanya masih terus menetas di pipinya.


\=\=\=\=


Terdengar samar-samar perdebatan Meraka dari balik kamarku, entah apa yang sedang mereka bicarakan yang pasti begitu gaduh di luaran sana, sedangkan diriku hanya bisa tertunduk dan berdiam diri saja.


Tanpa bisa berkata maupun membela. Hampir setengah jam saat aku kembali ke kamar tapi masih terdengar samar Meraka masih berdebat ingin rasanya aku mendengar semua perdebatan Meraka tapi aku kembali mengurungkan niatku sebab aku tidak memiliki hak untuk mendengarnya dan mengetahuinya.


\=\=\=\=


Satu jam pun berlalu, terlihat Lina begitu bosan di dalam kamarnya ia terduduk di sofa kecil milik nya dan memandang ke arah jendela.


Terdengar suara pintu kamar terbuka, kini suasana begitu hening dan kosong, terlihat juga dari balik jendela mobil ibunya Rach melaju pergi meninggalkan perkarangan rumah Rach.


Lina yang masih terpaku dengan mobil mertuanya sampai ia tidak mendengar bahwa Rach sudah masuk ke dalam kamar, Lina masih pokus melihat ke arah jendela sampai membuat Rach menghampiri Lina yang terlihat sangat serius itu.

__ADS_1


Sambil menepuk pundak Lina " apa yang kamu lihat? " Tanya Rach kepada Lina sambil memasang wajah heran.


Lina yang mendengar suara Rach sontak langsung terkejut, pikirnya bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran Rach.


" Ti, tidak. " Jawab Lina gugup.


" Kemarilah " ujar Rach sambil membuka jas milik nya dan mulai duduk di kasur, sepertinya ada sesuatu yang ingin di katakan oleh Rach.


Dengan sigap Lina pun segera menghampiri Rach yang sudah menunggunya.


" Maaf, maafkan atas sikap mamaku karena dia sudah menghina mu tadi. " Ujar Rach dengan nada yang sangat ramah terlihat halisnya mengkerut.


Lina terdiam untuk sesaat, walaupun dia sakit hati tapi bagaimanapun juga itu ibu mertuanya tidak pantas rasanya kalau ia membenci mertuanya.


Sambil sedikit menggunjingkan sudut bibirnya Lina memegang tangan Rach dan berkata. " Tidak papa, tidak semua yang di katakan ibumu salah, memang benar aku tidak pantas untuk dirimu, aku yang tidak memiliki status apapun mana mungkin cocok untuk di sandingkan dengan dirimu, jadi wajar saja kalau ibumu menentang soal kita. " Jawab Lina dengan sangat berat bagaimana pun itulah kenyataannya.


" Apakah sebuah materi menjadi patokan atau memang ego yang terlalu tinggi? " Ujar Rach pertanyaan yang cukup sulit bagi Lina


Lina hanya menundukkan kepalanya, " mas apa alasan kamu membeliku dan menikahiku. " Lirih Lina. Pertanyaan yang sedari dulu ingin ia tanyakan dan akhirnya sekarang terucap dari mulutnya.


Rach hanya terdiam bisu seribu bahasa.


Lina kembali menundukkan kepalanya. " Apa alasannya? " Pikir nya, walaupun dulu Rach sempat kasar kepada dirinya tapi seiring berjalannya waktu Rach begitu hangat, baik dan pengertian.


Walaupun Lina sendiri masih belum mengetahui isi hati Rach yang sesungguhnya apakah ia mencintai Lina atau tidak.


" Apa kamu merindukan ibumu? " Tiba-tiba saja Rach berkata seperti itu.


" Te, tentu saja. " Jawab Lina dengan wajah terheran-heran.


" Pulang lah aku akan meminta supir untuk mengantarmu pulang ke kampung. " Ujar Rach sambil berdiri dari duduknya dan mengambil telepon genggam di sakunya.


" Apa? "

__ADS_1


Apa Rach sudah tidak menginginkan diriku, makanya ia menyuruhku pulang ke kampung?


__ADS_2