Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
melahirkan sang buah hati


__ADS_3

Suasana berubah ceria. Teh Irma pun pamit untuk pulang, beliau terlihat jelas ikut bahagia dengan kedatangan Lina, sebab kesihan ibunya Lina yang sudah paruh baya harus tinggal seorang diri.


Dengan wajah ceria, Linapun masuk kedalam rumah di iringi dengan pak Parto yang membawa begitu banyak barang bawaan Lina.


" Pak di simpan di situ saja. " Ujar Lina sambil menunjuk ke arah pojok kursi


" Siap nona. " Jawab pak Parto.


" Nak, mana nak Rach gak ikut kamu pulang? " Tiba-tiba saja ibunya Lina bertanya soal Rach


" Mah, mamahkan tau mas selalu sibuk. " Lirih Lina sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Bener juga si nak, tapikan nak Rach belum pernah pulang ke rumah ini. " Wajah ibunya Lina nampak kecewa.


" Maaf mah. " Lina merasa bersalah, dia ingin menceritakan semuanya tapi itu malah akan membuat ibunya semakin sedih.


" Kenapa harus minta maaf, mama ngerti ko nak. " Sambil berlalu dan menyuguhkan minuman dingin untuk Lina dan pak Parto.


Lina yang terus mengekor kepada ibunya. Rindu rasanya ingin bermanja.


" Mama siapkan makan malam dulu ya kamu istirahat sana, bersih-bersih pasti capek kan. " Dengan hangat ibunya Lina mengelus kepala Lina.


Sambil mengangguk Linapun pergi ke kamarnya sedangkan pak Parto di ruang tamu sepertinya sedang menerima telepon.


Karena hari sudah mulai gelap pak Parto terpaksa menginap semalam dan juga Lina melarang pak Parto untuk langsung kembali mengingat perjalanan yang dilalui cukup lama dan melelahkan.


\=\=\=


Angin malam mulai menari-nari Lina yang sedang melamun sambil memandang ke arah jendela, dimana pemandangan hanya gelap dan beberapa sinar lampu dari rumah warga.


Sedang apa dia apakah sudah makan?


Tiba-tiba saja bayangan Rach muncul di pikiran Lina seolah menari-nari di benaknya. Beberapa kali Lina mencoba untuk menghapus bayangannya malah semakin jelas.


Bulir-bulir bening mulai tumpah membasahi pipi Lina.


" Apa terpisah jarak sesakit ini. "


Semakin jelas semakin sakit dan sesak.

__ADS_1


Lina yang tidak mau terus menerus memikirkan Rach diapun akhirnya keluar dari kamarnya, terlihat di ruang tamu pak Parto ketiduran di sofa sedangkan ibunya Lina masih berkutat di dapur dengan cucian kotor. Melihat sang ibu begitu sibuk Linapun menghampiri ibunya dan mulai mengambil alih.


" Sini mah, biar Lina saja mama istirahat, maaf Lina baru datang. " Ujar Lina sambil menuntun ibunya untuk duduk di kursi.


" Gak papa nak, sebentar lagi selesai kamu loh yang istirahat jangan capek-capek, kesian cucu mamah kan abis perjalanan jauh. "


" Gak papa mama duduk biar aku yang selesain sedikit lagi. "


Rumah yang kembali hangat. Angin malam yang berdesir menemani makan malam mereka, selesai makan semuanya langsung beristirahat karena lelah perjalanan.


____


Esok paginya pak Parto kembali ke kota, desir dalam hati Lina ia ingin kembali apa lagi tidak ada kabar dari kemarin, bahkan Rach tidak menanyakan apakah dirinya sudah sampai atau belum.


Terlihat raut kecewa di wajahnya, bagaimana tidak Rach seolah angin yang berhembus dan berlalu.


Hari demi hari Lina jalanni di kediaman ibunya, sampai acara tujuh bulananpun di lakukan bersama sang ibu tercinta, semakin dekat hari persalinan tinggal dua bulan lagi.


Apakah saat aku lahiran nanti kamu tidak ada di sampingku mas.


\=\=\=\=


Bibir Lina tergurat senyum tipis, entah bahagia atau sedih, di dalam hatinya terus tersirat semakin jauh dirinya dengan Rach.


" Sayang. kenapa melamun di teras ayo masuk nanti kamu masuk angin. " suara hangat tiba-tiba saja memeluk Lina yang sedang berkelana di alam pikirannya.


" Iyah mah, nanti aku masuk. " Jawab Lina dengan senyum tipis di bibirnya.


Lina entah sejak kapan senyum yang sumringah di bibirnya kini telah hilang hanya tersisa senyum dingin yang melekat di bibirnya.


Tanda-tanda mau melahirkan sudah mulai Lina rasakan semakin dekat, beberapa kali pak Parto bulak balik mengantarkan perlengkapan bayi ke kampung halamannya Lina.


Nak sebentar lagi kamu lahir kedunia, tapi kenapa mama merasa takut.


Cuaca seperti akan turun hujan, angin berhembus kencang, langit mulai mendung. Dingin yang menusuk ke tulang, terlihat Lina sedang merintih kesakitan, ibunya Lina tanpak panik dan berusaha menghubungi bidan.


Sebab di kawasan rumah Lina sangat jauh dari rumah sakit.


Sambil di tuntun oleh tetangga Lina menuju ke rumah bidan dengan menggunakan mobil milik tetangga, semua terlihat cemas apa lagi Lina terus merintih di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


" Tahan nak, sebentar lagi kita sampai. " Ujar sang ibu sambil mengelus perut Lina.


" Iyah mah, mama jangan cemas. " Jawab Lina dengan suara bergetar menahan sakit.


Sesampainya di rumah bidan Lina langsung di periksa. Sedangkan ibunya Lina dan tetangga yang ikut mengantar menunggu di luar.


" Apa saya mau melahirkan Bu? " Tanya Lina saat bidan sedang memeriksakannya.


" Iya, dan ini sudah pembukaan enam sebentar lagi, semoga lancar ya Bu. " Jawab bidan tersebut sambil langsung menyiapkan ruang persalinan.


" Karena sudah pembukaan enam mungkin tinggal beberapa jam lagi melahirkan. Dan ibu kalau sudah mau mengejan tolong beri tahu saya, nanti ikuti arahan saya ya bu. " Ujar bidan tersebut.


" Saya bisa melahirkan normal? " Tanya Lina terlihat wajahnya begitu cemas.


" Insyaallah semoga saja ya Bu sebab setelah saya periksa semuanya normal. "


Senyum Lina mengembang ia tanpa harus membayangkan operasi yang menakutkan baginya.


Rasa sakit semakin menjadi, terlihat semua sangat khawatir, sambil terus berdoa semoga persalinan lancar dengan selamat.


Tidak ada yang mengabarkan soal melahirkannya Lina kepada Rach. Saat Lina sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka kedunia.


Di satu sisi Rach tanpak sibuk mengurus begitu banyak dokumen yang ada di meja kerjanya, wajahnya seperti orang yang kurang istirahat dan tidur.


Tuan sampai kapan kau akan terus seperti ini.


Silvi yang mengintip pekerjaan Rach, melihat bosnya seperti itu ada rasa kasihan dalam hatinya.


" Kenapa memaksakan sesuatu sementara tubuh tidak bisa menampungnya. " Lirih Silvi sambil berlalu meninggalkan ruangan Rach.


Entah kenapa perasaan gadis itu tanpak gelisah ia terus mengingat Lina. Entah kenapa bayangan nona besarnya terus menari-nari di benaknya.


" Nona apa kamu baik-baik saja. "


Di saat yang sama Linapun akhirnya melahirkan dengan selamat. Dengan dukungan sang ibu yang selalu di sisinya.


" selamat nak, kamu melahirkan bayi yang sangat lucu, sekarang istirahat ya sayang, kamu kuat. "


bibir Lina tersenyum tipis, perasaannya lega, beban yang selama ini menggelayuti pikiran hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2