
Tubuh Lina mematung tatapan nya begitu sayu, bulir bening mengembang di pelupuk matanya.
" Ada apa denganmu mas kenapa tiba-tiba minta maap " ujar Lina suaranya terbata-bata.
Mendengar jawaban Lina Rach langsung memeluk tubuh Lina dan putri kecil mereka.
" Maafkan aku yang tidak menemani kamu bersalin. " Lirih Rach suaranya parau
Rasa sesak di di dada Rach perlahan membaik.
" Tidak papa mas aku ngerti " jawab Lina.
Putri kecil yang menyatukan mereka berdua seolah awal hidup baru yang lebih baik lagi di mana Rach mulai membuka hatinya dan menurunkan egonya.
Keluarga di dasari dengan rasa kepercayaan, peduli, komitmen, komunikasi.
Walaupun pada awalnya hanya sebuah pernikahan yang di dasari dengan ego, kekuasaan, keinginan yang tak mendasar tapi pada akhirnya perlahan-lahan semua mulai berubah.
Pernikahan bukan hanya soal hubungan suami istri saja, ataupun pemuas birahi ada tanggung jawab yang lebih dari itu semua.
Mungkin keajaiban datang kepada Rach hatinya mulai terbuka.
" Mas, mau di kasih nama siapa putri kecil kita, maap mas aku belum bisa melahirkan anak laki-laki. " Ujar Lina kepalanya menunduk
" Tidak, aku senang dan bersyukur. " Begitu hangat dan lembut kata-kata yang di lontarkan oleh Rach.
Maafkan aku yang telah mempermainkan sebuah pernikahan.
" Syakila Alvaro " sambil mencium putri kecilnya.
" Syakila? " Tanya Lina
" Iya putri kecil yang cantik Syakila. " Ujar Rach senyumnya mengembang dia sangat bahagia.
" Tapi apa tidak akan jadi masalah kalau marganya Alvaro? " Tanya Lina ia cukup ragu kalau putri kecilnya menggunakan marga keluarga Rach.
" Kenapa tidak Syakila putriku kenapa tidak boleh menggunakan margaku. "
" Bukan begitu hanya saja.. " Lina yang merasa tidak yakin apa bisa keluarga Rach menerimanya begitu saja.
" Sudahlah. " Jawab Rach menenangkan Lina
" Ayo kita pulang ke rumah. " Ujar Rach sambil mengelus rambut Syakila.
" Pulang, maap tidak bisa mas. " Jawab Lina
" Kenapa tidak bisa ? "
" Tunggu sampai 40 harinya Syakila dia masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan jauh seperti itu, dan aku juga belum pulih betul dan masih takut. " Jawab Lina bibirnya bergetar Lina terus menunduk entah kenapa ia tidak berani menatap wajah Rach
" Tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini " tanpak Rach mengeryitkan keningnya, napasnya terdengar berat.
__ADS_1
Lina yang mendengar itu walaupun ada sedikit kekecewaan tapi ia berusaha tenang dan tersenyum " tidak papa mas, jemputlah aku nanti mas jangan khawatir tentang aku dan Syakila. "
" Kamu yakin? " Tanya Rach memastikan kembali.
" Iya mas. "
" Hahh, baiklah mas akan meminta pak parto untuk membawa segala yang kamu butuhkan di sini. " Ujar Rach tampaknya Rach sedikit kelelahan diapun membaringkan tubuh kekar nya di kasur
Kamu pasti kelelahan mas.
Lina perlahan menaruh putri kecil di samping Rach, sedangkan Rach tertidur di ranjang Lina.
Semoga ini bukan mimpi mas, kamu benar-benar berubah.
\=\=\=
Angin mulai bertiup kencang matahari mulai menyembunyikan dirinya di kegelapan malam. Rach yang ketiduran tanpak lelap sedangkan Lina ia sedang menonton televisi di ruang tamu.
" Nak, si dedek mana? " Tanyanya saat melihat sedang asik nonton televisi sendiri.
" Lagi tidur mah, aku bosen di kamar terus dan lagi ada mas ko yang nemenin dedek di kamar. " Jawab Lina, mulutnya penuh dengan cemilan yang berada di meja.
Ya nafsu makan Lina semakin bertambah setelah melahirkan, perutnya terus menerus merasa lapar, entah karena efek menyusui atau bukan yang pasti Lina sering ngemil.
" Bangunnin suami kamu nak ayo kita makan malam. " Ujar sang ibu sambil berlalu ke dapur
" Iya mah. " Jawab Lina sambil bangkit dari tempat duduknya.
Lina pun menghampiri Rach dan mulai membangunkannya.
" Hmm "
" Bangun, kata mama ayo kita makan malam bersama. "
" Hhmm iya. " Rach sama sekali tidak berubah dari posisinya.
" Mass,, " pekik Lina.
Mata Rach masih mengantuk tapi mau tidak mau ia harus bangun apa lagi dirinya tidur dari sore
" Yasudah kamu duluan saja mas mau mandi dulu. Di mana kamar mandinya? " Ujar Rach rambut yang acak-acakan tapi tetap saja wajah tampannya tidak pudar malah tanpak seksi.
Yang membuat pipi Lina merona, dengan gugup Lina menunjuk pintu kamar mandi berharap Rach segera mandi, sebab jantungnya terasa mau copot saat berhadapan seperti itu.
" Kalau gitu aku tunggu di luar. " Ujar Lina terbata
" Ok, sayang. " Jawab Rach dengan nada menggoda.
Sambil membawa Syakila ke ruang tamu Lina menghampiri ibunya yang ternyata di meja makan sudah siap makanan tersaji.
" Mamah. "
__ADS_1
Ibunya langsung menoleh dan tersenyum " ehh cucu mama sini sayang. " Mengambil dari pangkuan Lina.
" Dimana nak Rach? " Tanyanya sambil menimang sang cucu
" Lagi mandi mah. " Jawab Lina
" Owh, nak cucu mamah sudah di kasih nama? "
" Sudah mah, Syakila Alvaro, papa nya yang memberi nama tadi. " Dengan wajah yang malu-malu
" Syakila sayang semoga kamu menjadi anak yang Sholeha ya nak panjang umur berbakti kepada orang tua. " Sambil mencium kening si kecil.
Lina tersenyum bahagia.
Syakila yang merubah hati papanya yang keras dan ego menjadi lunak semoga bisa merubah keadaan dan menjadi keluarga yang bahagia.
" Maaf nunggu lama. " Ucap Rach dari balik pintu yang membuat Lina terkejut, yang pikirannya sedang melayang.
" Sudah selesai nak ayo makan " ucap sang ibu sambil menaruh Syakila di ranjang bayi.
Rach pun berjalan menghampiri Lina yang sudah duduk sedari tadi meja makan dan duduk di sampingnya.
" Maaf ya nak mama cuma bisa masak-masakan rumahhan seperti ini. "
Sudut bibir Rach terangkat. " Tidak papa ini sudah lebih jauh spesial. "
Lina melirik kearah Rach dengan tatapan aneh.
Yang tersedia di meja makan ada ayam goreng sayur dan tempe goreng cukup sederhana memang jauh dari kebiasaan Rach yang makan cukup banyak berbagai makanan yang tersaji.
Walaupun begitu Rach lumayan lahap menyantap hidangan tersebut, entah karena laper atau memang makanannya enak.
Selesai makan meraka saling bercengkrama bersama, Rach tanpak humoris berbeda dari biasanya mereka tertawa bersama, walaupun Lina merasa sedikit aneh saat melihat Rach dan ibunya bisa nyambung satu sama lain.
Haripun semakin larut Lina terlihat sudah sangat mengantuk sedangkan Rach dia sedang menerima telepon dari Rio.
Selesai menerima telepon Rach langsung masuk ke kamar menyusul Lina yang lebih dulu masuk.
" Ethh, nak Rach mau kemana? " Tanya sang ibu yang tiba-tiba mencegah Rach.
" Mah, mau tidur " jawab Rach polos sambil memasang wajah bingung.
" Gak boleh tidur bareng dulu takut kelepasan apa lagi kalian sudah lama tidak bersama. " Ujarnya. Sedangkan Rach masih terlihat bingung dengan apa yang di maksud.
" Kelepasan gimana? " Tanya Rach semakin heran
" Itu loh, bikin dedek baru lagi. " Jawab sang ibu sambil tersenyum
Rach yang mulai paham langsung mengangguk.
" Boleh berbicara sebentar? Sebab ada yang saya omongin dengan Lina. " Tanya Rach
__ADS_1
" Ya boleh, yasudah mama tunggu di luar untuk sementara ini mama yang akan menemani Lina ya nak Rach.
Rachpun mengangguk dan segera masuk kedalam kamar.