Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
perubahan sikap


__ADS_3

Lina memukul meja, yang membuat ibunya Rach terkejut mendengar pukulan Lina.


Lina berdiri dari duduknya.


" Maaf Tante, saya di sini bukan budak, saya masih ingin menghargai Tante sebagai ibu mertua saya, tapi bukan berarti saya dari tadi diam saja saat Tante bisa menginjak saya, kalau Tante ingin mengusir saya Tante bisa minta kepada anak Tante dia yang memegang kontrak perjanjian itu, dan walaupun Tante membunuh saya saya tidak mungkin pergi kalau anak Tante tidak melepaskan saya!! "


Dengan nada suara yang sedikit naik, Lina merasa ia sangat di perlukan seperti budak, lebih dari pelayan, Lina yang tidak ingin ribut iapun kembali melanjutkan pekerjaannya, padahal Lina hanya ingin istirahat sebentar dan makan, ia tadi pagi tidak sarapan dan saat dia ingin makan Padahal hari sudah siang masih di larang.


Lina sadar sikapnya hari ini mungkin kurang sopan karena berkata dengan suara tinggi, tapi Lina tidak dapat menahan diri, kenapa ia terus-menerus di perlakukan seperti itu, Lina hanya ingin hidup tenang.


Di sisi lain, ibunya Rach yang terkejut dengan perlawanan Lina, ia merasa merinding sesaat sampai mulutnya tidak dapat berbicara, karena kesal ibunya Rach masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamar.


Satu jam kemudian Lina akhirnya selesai keringat nya yang bercucuran, tidak ada satupun pelayan yang di perbolehkan membantu Lina, hanya Silvi yang curi-curi dari ibunya Rach ia membantu Lina dengan sangat hati-hati, walaupun Lina melarang tapi Silvi tidak tega karena rumah Rach besar tidak mungkin Lina bisa mengerjakannya seoarang diri dalam sehari.


Saat hari sudah sore Lina yang belum beristirahat ia kembali memasak, dia tidak ingin terus-terusan ibunya Rach marah-marah, dari tadi siang ibunya Rach belum juga keluar dari kamar, mungkin karena shock atau apa tapi sampai sore ini ia belum keluar.


Lina yang merasa bersalah ia pun menyeduhkan teh untuk ibunya Rach, Lina membawanya menghampiri kamar Belva dan mulai mengetuk pintu.


Tak lama wanita itu pun membuka pintu nya, dan terkejut Lina berdiri di depan pintu sambil memandang sinis


" Ada apa? " Tanya nya dengan sangat ketus.


" Ini saya buatkan teh. " Jawab Lina.


Wanita itu mengambil tetap dengan pandangan sinisnya, dan langsung menutup pintu kembali.

__ADS_1


Lihat hanya menghela napas entah kenapa pikir Lina ibunya Rach, sedikit lebih kalem dari pada tadi pagi


Lina kembali ke dapur ternyata pekerjaan nya sudah di teruskan oleh para pelayan, Silvi menghampiri Lina saat sedang berjalan.


" Nona, lebih baik nona istirahat, biar kami yang meneruskan pekerjaan nona, hanya tinggal menyiapkan makan malam, nona sudah memasak semuanya jadi lebih baik sekarang istirahat dulu. " Ucap Silvi yang dari tadi sudah khawatir kepada Lina.


Lina yang juga merasa lelah ia pun mengangguk, dan langsung naik ke atas, Lina yang tidak biasa bekerja yang berlebihan karena dari pagi sampai sore ia tidak berhenti, makan pun tadi siang belum selesai Lina sudah kembali bekerja.


Memang hari ini perlakuan ibunya Rach sangat keterlaluan, karena dia membuat Lina bekerja berlebihan dan terlalu keras, sampai tidak mengijinkan Lina untuk makan. Tapi dari tadi siang setelah Lina memukul meja entah kenapa sikap nya berubah jadi sedikit kalem walaupun masih sinis kepada Lina.


Tapi Lina yang tidak memperdulikan nya, setelah sampai di kamar Lina langsung mandi dan shalat ashar, habis itu baru Lina berbaring di kasur, pinggangnya terasa sakit mungkin karena terlalu membungkuk jadi terasa sakit, walaupun dulu Lina sering membersihkan rumahnya setiap hari dan melakukan pekerjaan rumah lainnya tapi rumah Rach dua kali lipat besar nya dari rumahnya dan dua kali lipat lebarnya.


Bahkan hanya untuk menyapu dan mengepel saja membutuhkan setengah hari kalau di lakukan hanya seorang, bagaimana badan tidak sakit. Lina ingin meluruskan pinggang nya sambil mengoleskan minyak angin ke pinggang nya agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


" Padahal baru sehari!. " Gumam Lina sambil menutup matanya dengan tangannya.


Ibunya Rach pun keluar untuk makan, dia mendapat keadaan rumah Rach sudah bersih dan rapi, sambil melihat sekeliling ia tidak dapat melihat Lina, mata wanita itu sedikit menyipit dan memanggil salah satu pelayan.


" Kemana dia? " Ucapnya dengan sedikit sinis.


" Nona,, beliau sedang istirahat di kamarnya. " Ucap pelayan tersebut


Sejenak ia tidak berkata apa-apa, seolah membiarkan Lina istirahat, wanita paruh baya itu pun duduk di kursi meja makan dan ia langsung membalikkan piring, dan bersiap untuk makan.


Silvi yang merasa heran dan juga bersyukur, tapi Silvi merasa sangat khawatir bahwasanya Rach Sampai sekarang tidak dapat di hubungi, dia takut keadaan nya akan lebih parah dari ini.

__ADS_1


KEESOKAN PAGINYA.


Lina yang tanpa sadar ia ketiduran sampai pagi, tidak shalat Maghrib maupun shalat subuh, bahkan saat bangun pagi ini badannya masih terasa sakit.


Padahal tadi malam para pelayan sudah mengetuk pintu Lina, untuk makan malam tapi tidak ada jawaban dari kamar Lina.


Dan kini perut Lina terasa sangat lapar, tapi untuk bangun pun kakinya sangat sakit.


" Bagaimana bisa aku jadi selemah ini hanya karena tidak membersihkan rumah beberapa Minggu saja. " Sambil memukul-mukul kakinya dengan perlahan.


Lina pun memaksakan untuk berjalan ia tidak ingin terlihat sakit saat berjalan nanti, sambil menahan rasa sakit di kakinya Lina pun berjalan menuruni tangga, dengan perlahan kakinya terasa cenat-cenut.


Terlihat ibunya Rach, sudah berada di bawah sedang sarapan, Lina mulai berjalan dengan biasa sesekali ia mengernyitkan keningnya menahan sakit, sambil menyapa ibunya Rach yang sedang sarapan Lina mengambil minum dan roti lalu memakan nya di dapur, dia tidak ingin berurusan dengan ibunya Rach karena masih pagi.


Selesai memakan roti Lina meminum coklat hangat, setidaknya perutnya sudah terisi, Lina kembali mengambil sapu dan kembali naik ke atas, ibunya Rach hanya memandang sesaat seolah tidak peduli, tapi Lina sadar diri.


Tapi sekarang Lina tidak ingin memaksakan dirinya sebab kakinya sulit sekali untuk di jalankan terasa sakit dan cenat-cenut.


" Non biar aku saja yang melakukan nya, " ucap pelayan tersebut


" Gak papa, ayo sama-sama saja biar cepat selesai. " Sambil melemparkan senyuman.


Pelayan itu mengangguk dan membalas senyuman Lina, lalu ia turun ke bawah untuk mengambil sapu, dan membantu Lina.


Belva yang melihat itu dia tidak berkata apa-apa, entah kenapa wanita itu berubah jadi diam dan tidak banyak bicara. Tidak seperti kemarin yang bahkan membantu Lina saja tidak boleh.

__ADS_1


Apakah karena gertakan Lina kemarin?.


__ADS_2