
Selesai makan Lina ke ruang tamu ia tampak bosan setidaknya kalau di ruang tamu ia bisa mengobrol dengan Silvi mereka nonton TV bersama.
Sambil mengobrol bersama Silvi mereka berbicara tentang apa saja, sampai larut malam Lina sudah mulai menguap, Silvi yang melihat Lina mulai mengantuk ia tersenyum sambil berkata,
" Nona ngantuk,, lebih baik sekarang nona istirahat besok nona kan ada perjalanan yang cukup panjang. " Ucap Silvi kepada Lina.
" Ahh,, ia kalau gitu saya istirahat dulu, kamu juga istirahat " ucap kembali Lina.
" Iya nona selamat malam. "
Linapun naik ke atas, dia terus menguap beberapa kali. Setelah sampai di depan kamarnya ia membuka pintu dan menutup kembali, Lina langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur, tak berapa lama ia tertidur dengan pulas.
PAGINYA..
mentari pagi mulai mengintip dari jendela kamar Lina, Lina yang di balut dengan selimut tebal tanpaknya ia enggan untuk bangun dari tidur, matanya masih terasa berat, ia malah menarik selimut kembali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 06:30
Padahal Lina sudah berencana ia akan bangun pukul 04:30 agar sekalian sholat subuh, tapi sekarang jangankan sholat subuh, matanya saja masih terlelap di kasur yang empuk dan hangat itu.
Silvi yang melihat ke atas tapi Lina belum juga keluar, ia khawatir kalau Lina kesiangan.
Padahal Lina sendiri yang berkata kalau mereka akan berangkat pagi-pagi sekali, tapi ini matahari sudah lebih dulu muncul Lina belum juga berangkat.
Dengan ragu-ragu Silvi naik ke atas, ia berniat membangunkan Lina, takutnya dia masih tidur.
Sesampainya di depan kamar Lina ia mulai mengetuk pintu secara perlahan dan berirama.
Tok,, tok,, tok..
Sampai terus berulang kali.
" Nona,, nona.. " tapi tidak ada Jawaban dari dalam kamar Lina, dia terus mengetuk pintunya lebih kencang lagi.
Semakin lama Lina mulai mendengar suara ketukan tersebut ia pun langsung membuka matanya dengan sangat terkejut dan terduduk di kasur.
__ADS_1
" Ahh iya.. " jawab Lina.
" Maaf nona ini sudah hampir jam tujuh, " dengan suara perlahan Silvi memberi tahu.
" Jam tujuh.. " Sambil melihat kearah jam, benar saja sudah jam tujuh kurang 15 menit.
Lina langsung bangun dari tempat duduknya dan kembali berkata. " Kamu tunggu aku 15 menit lagi aku akan turun " ucap Lina sambil tergesa-gesa.
Lina langsung segera masuk ke kamar mandi, ia mandi dengan sangat cepat selesai mandi Lina langsung mengenakan dress berwarna pink, dan menggunakan tas kecil, rambut Lina yang hanya di ikat sedikit sisanya masih terurai, Lina tidak jadi membawa ransel ia menggunakan koper untuk sekalian membawa barang yang sudah Rach belikan.
Selesai bersiap ia langsung turun ke bawah, jantungnya berdetak tak karuan, bahwasanya ia masih sangat terkejut, dan mungkin belum sepenuhnya sadar.
Sambil membawa koper ia pun turun ke bawah Silvi tanpak sudah menunggu Lina, Silvi mengikuti kemanapun Lina pergi jadi tidak heran Silvi seperti buntut nya Lina.
Mereka berdua berkumpul di ruang tamu, untuk mengecek kembali barang bawaannya,
" Nona mau sarapan dulu sebelum kita berangkat. " Ucap Silvi.
" Tidak,, nanti saja di rest area. " Ucap Lina.
Sambil di bantu oleh salah satu pelayan. Lina pun pamit kepada para pelayan, sambil minta tolong untuk jagain rumahnya Rach.
Lina pun masuk ke dalam mobil, yang menyetir mobil bukan supir melainkan Silvi, Lina yang merasa tidak enak duduk di belakang lalu iapun Kembali turun dari mobil, dan pindah ke depan.
" Ada apa nona kenapa pindah ? " Tanya Silvi sambil menyalakan mobilnya
" Tidak hanya saja kalau di belakang aku tidak ada teman ngobrol. " Jawab Lina ia tidak ingin Silvi merasa sungkan kepadanya, bagaimana pun juga mereka sudah seperti teman bagi Lina.
Silvi mulai memajukan mobilnya, Lina sambil memakan beberapa salad buah yang sudah Silvi siapkan untuknya, sambil memundurkan kursinya ke bawah agar ia lebih nyaman bersandar
Silvi menyalakan musik, ekspresi mereka berdua sangat sumringah apa lagi Lina, bibirnya yang merah bagai buah ceri, ia sangat bahagia karena penderitaan dan awan hitam sudah menghilang dari keluarganya.
Lina menghabiskan satu toples salad buah ia seperti nya sudah sangat kenyang karena dari tadi ia terus mengunyah. Biasanya setelah makan pasti akan ngantuk, kini mata Lina mulai redup, ia kembali menurunkan kursinya agak kebawah dan sedikit mendorong ke belakang agar bisa menarik kursi yang terlipat di bawah. Agar kaki Lina bisa berbaring lurus, jadi seperti kasur mini yang hanya untuk seorang, dan sangat pas panjangnya.
__ADS_1
Tidak lupa juga Silvi memberhentikan terlebih dahulu mobilnya untuk minggir dan merapikan kursi yang akan Lina gunakan untuk tidur. Selesai merapikan, kini kursi di sulap menjadi kasur mungil untuk Lina.
Lina yang tertidur pulas, Silvi terus pokus menyetir mobil, ia lewat jalan tol jadi cepat, sambil melihat peta beberapa kali.
Sedangkan Lina mungkin sudah bermimpi di selimuti dengan selimut tipis tidurnya tanpak sangat pulas
4 jam pun berlalu Lina beberapa kali bangun dan tertidur mereka juga sempat berhenti di rest area untuk makan siang,
Tapi kini Lina kembali tertidur, tanpa tahu kalau mereka sudah hampir sampai di rumah ibunya.
Melewati beberapa desa, akhirnya mereka sampai di rumah, yang cukup sederhana, yang berwarna biru. Mobil itu berhenti di depan pagar rumah tersebut dan Silvi pun membangun kan Lina.
" Nona kita sudah sampai! " Ucap Silvi.
Lina yang terkejut ia segera bangun, sambil melihat sekeliling dari kaca mobil dan langsung segera turun, walaupun agak tidak seimbang jalannya, karena masih mengantuk.
Lina pun masuk ke dalam dan membuka pagar, kini ia berdiri di depan pintu, tangannya bergetar saat ingin mengetuk pintu.
Tok,, tok,, tok..
Lina beberapa kali mengetuk rumah tersebut terdengar suara dari dalam rumah tersebut yang segera menghampiri asal bunyi ketukan.
Klekk... ( Bunyi buka pintu. )
Saat di buka terlihat sosok wanita yang sudah cukup tua, wajahnya penuh dengan keriput walaupun begitu wajah wanita itu jauh lebih segar dari pada dulu.
" Assalamualaikum mah.. " ucap Lina kepada ibunya sambil mencium tangan sang ibu
" Waalaikum salam nak,, kenapa tidak bilang kalau kamu pulang, mama kangen sama kamu nak. " Keduanya melepaskan rindu sambil meneteskan air mata.
" Silvi mengambil koper milik Lina dan menaruh di lantai, Silvi juga tidak lupa salim kepada ibu Lina
Ibunya Lina pun mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam, Lina sangat terharu ibunya jauh lebih baik.
__ADS_1
Lina tidak pernah terpisahkan dari ibunya ia terus mengikuti kemanapun ibunya pergi.