Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
Akhir dari masalah


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Rach langsung berlalu meninggalkan Lina sambil mengambil gawai di saku miliknya dan menelepon asistennya.


Lina terpaku dengan perkataan Rach? Apa maksudnya walaupun ia sangat merindukan ibunya tapi Rach selalu tidak mengijinkan Lina untuk pulang, tapi hari ini tiba-tiba saja menyuruh nya untuk pulang ke kampung di tengah ia hamil besar.


Lina yang masih terduduk dan melamun terdengar bunyi ketukan pintu di balik kamarnya.


Tok, tok, tok.


" Iya masuk. " Ujar Lina.


Silvipun segera masuk terlihat wajah Silvi cemas, " nona, nona mau pulang? " Tanya Silvi sambil duduk di dekat Lina.


Lina semakin terheran-heran, dengan perkataan Silvi apa yang sebenarnya di katakan Rach kepadanya kenapa ia malah balik bertanya.


" Emang tuan bilang apa? " Tanya kembali Lina kepada Silvi sambil menatap ke arahnya.


" Tuan bilang nona mau pulang dulu beberapa hari, apa karena sebentar lagi ulang tahun perusahaan tuan dan setiap tahun pasti akan mengadakan pesta. " Ujar Silvi yang cukup membuka sedikit rahasia apa alasannya Rach menyuruh dirinya pulang.


" Owh seperti itu. " Dengan nada datar Lina seolah menelan pil pahit.


Lagi-lagi jawaban yang ku terima dari mulut orang lain bukan dari suamiku sendiri.


" Sini biar saya bantu nona. " Ujar Silvi sambil mengambil koper ukuran kecil.


" Makasih sil. " Deraku lirih entah kenapa aku merasa rasa iri kepada Silvi, kehadirannya tidak membuat orang jijik, apa lagi Silvi jauh dari diriku dia berpendidikan, pintar tapi kenapa mau menjadi asisten pribadi untukku, apa mungkin karena gajinya yang cukup besar.


Entahlah.


\=\=\=\=


" Nona, nona. " Derca Silvi sambil menunjuk kan setumpuk baju kepada Lina.


" Ah iya kenapa? " Jawab Lina sambil berdiri menghampiri Silvi.


" Ini nona mau bawa baju yang mana? " Tanya kembali Silvi dia memang seperti itu selalu cerewet dan mudah akrab.


" Yang mana aja sil, owh iya apa kamu ikut juga ke kampung? " Tanya Lina yang mulai penasaran, ekspresi nya datar dan redup

__ADS_1


" Sepertinya tidak nona sebab tuan menyuruh saya untuk membantu Rio menyiapkan keperluan nanti. " Lirihnya perlahan wajahnya sedih, Silvi terdiam memandangi baju yang ia pegang.


Dengan senyum pahit di bibir Lina, ia tetap membujuk Silvi agar tidak sedih. " Tidak papa lagian aku kan cuma pulang ke rumah orang tuaku kamu tidak usah khawatir. "


" Nona tidak marah kepadaku? " Tanya Silvi dengan sedikit ragu, matanya membulat.


" Tidak. "


Saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lina Silvi langsung memeluk tubuh Lina dengan wajah gembira tidak murung lagi.


" Sudah cepat berkemas nya aku lapar. " Ujar Lina agar Silvi segera melepaskan pelukannya, bagaimanapun juga Silvi cukup berat.


" Siap nona. "


Selesai berkemas Silvi dan Lina langsung menuju meja makan, Lina akan pulang besok pagi, jadi hari ini niatnya dia mau minta tolong Silvi untuk membelikan beberapa oleh-oleh untuk ia bawa pulang besok.


Mendengar perintah dari Lina Silvi langsung bergegas pergi, kini Lina sedang termenung di dalam kamarnya seorang diri, matahari mulai terbenam, langit pun perlahan berwarna jingga yang perlahan-lahan tergeser oleh awan hitam.


Dia berusaha mencerna Kembali tentang kejadian hari ini, begitu banyak, tidak semuanya bisa di cerna dengan baik yang membuat pikirannya berkecamuk.


Bulir bening pun keluar dari bola mata Lina, seolah tumpah begitu saja, tanpa ia sadari, semakin deras saat Lina mencoba mengingat kembali tentang perkataan Rach tadi, Isak tangis semakin jadi Lina menumpahkan semuanya bersama turunnya hujan di langit.


Semakin deras, suara yang tertahan membuat Lina hanya ter'isak-isak.


Lina menangis cukup lama, ingin ia curahkan semua kepada ibunya tapi niatnya itu kembali ia urungkan biarlah rasa sakit ini dia tanggung seorang diri.


Mata yang sedikit sembab Lina bergegas mencuci wajahnya, dan menaburkan sedikit bedak tabur di wajahnya agar nanti saat Silvi pulang tidak melihatnya.


Azan isya berkumandang selesai melaksanakan shalat Lina langsung menyiapkan makan malam tapi sampai sekarang Silvi belum juga kembali.


Cukup lama Lina menunggu. Selang beberapa saat terdengar suara mobil masuk, salah satu pelayan mulai menghampiri asal suara tersebut, sebab beberapa kali mobil itu membunyikan klakson nya.


Lina yang juga mulai penasaran ia pun ikut menghampiri asal suara tersebut.


" Siapa? " Tanya Lina kepada salah satu pelayan


" Tuan nona. " Jawab salah seorang pelayan sambil membawa beberapa bingkisan di tangannya.

__ADS_1


Lina pun mengangguk kecil dia hanya berdiri di ruang tamu, entah kenapa kakinya terasa berat saat ingin melangkah keluar.


Saat ingin berbalik, tiba-tiba saja suara berat dan dan dingin memanggil namanya. " Ini. " Ujar nya sambil menyodorkan sebuah bingkisan kecil.


Tanpak Lina mematung sesaat, dan ia pun membalikkan badannya dan menghadap ke arah Rach ia masih bingung apa yang sedang di pegang Rach.


" Ini apa kamu tidak mau? Kenapa hanya diam saja " ujar kambali Rach sambil menggoyangkan bingkisan tersebut.


" Ini apa? " Tanya kembali Lina Dengan ekspresi bingung.


" Buka saja. " Jawabnya datar dan segera berlalu meninggalkan Lina yang masih mematung.


" Terimakasih. " Lirih Lina, Rach hanya terdiam sesaat dan kembali berlalu.


" Nona, nona kenapa bengong. " Tiba-tiba saja Silvi sudah berada di belakang Lina sambil membawa bingkisan yang Lina pesan.


" Ahh, sil kapan kamu pulang? " Dengan ekspresi terkejut Lina kembali bertanya kepada Silvi.


" Barusan bareng tuan kebetulan tuan menghubungi saya pas tadi lagi belanja, dan akhirnya tuan ikut saya belanja " jawab Silvi


" Kok, bisa? " Tanya Lina yang mulai penasaran.


" Iya tadi tuan meminta saya untuk datang ke kantor dulu, gantiin Rio ketemu klien, akhirnya saya langsung ke kantor gak sempet beli oleh-oleh coba lama banget lagi tadi nona, selesai-selesai tadi pas magrib akhirnya tuan berinisiatif buat bantu saya belanja. " Dercanya panjang lebar.


Lina hanya mengangguk tanda ia mengerti. " Yaudah ayok makan malam. " Ujar Lina sambil berjalan ke meja makan.


Terlihat Rach sudah duduk di meja makan dengan masih mengenakan jas hitam miliknya, Rach belum ganti baju seperti nya ia langsung duduk di meja makan, belum ada nasi atau makanan lain di piring nya masih bersih.


" Lama sekali kalian, duduklah cepat makan! " Tatap Rach ke arah Lina.


Dengan sigap Lina langsung duduk di depan Rach sedangkan Silvi langsung izin untuk kembali ke kamarnya.


Para pelayan mulai menyiapkan makan malam, terdapat banyak menu tapi pasti selalu ada satu menu yang setiap harinya harus terus di hidangkan yaitu, ayam kecap hampir setiap hari para pelayan menghidangkan itu.


Dan Rach tanpak lahap memakannya tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Kini wajah Lina terus menatap ke arah Rach yang sedang makan ayam kecap dengan lahap, rasa penasaran Lina mulai menggebu-gebu walaupun makanan itu kesukaannya apa tidak bosan.


Kalau memakannya setiap hari, dengan ekspresi yang terheran-heran, membuat Rach menatap ke arah Lina yang kini sedang menatap dirinya dengan aneh.

__ADS_1


__ADS_2