
Meraka sudah tiga hari berada di villa tersebut, Rach hanya menghendel dari jauh saja untuk semua pekerjaannya walaupun sedikit mempersulit para karyawan nya karena ada meeting penting yang hanya di handle oleh Asisten Rach doang.
" Apa tidak masalah dengan pekerjaan kamu? Yang harus di tinggal terlalu lama? " Tanya Lina kepada Rach yang sedang duduk santai di sofa.
" Ini masalahku kamu tidak perlu pusing memikirkannya. " Jawab Rach sambil mata dan perhatiannya tertuju ke arah leptopnya.
Lina hanya mengangguk ia hanya khawatir takutnya nanti akan jadi masalah baru lagi, apa lagi kalau sampai ibunya Rach tahu bahwa Rach pergi meninggalkan pekerjaannya demi Lina, walaupun Rach terus memantau tapi tetap saja masalah yang besar atau proyek besar hanya Rach yang bisa hadiri tidak bisa di wakili.
" Apa kamu sudah bosan ? " Tanya Rach.
" Ehh,, tidak hanya saja aku takut ibu kamu salah paham dan mengiranya itu karena aku. " Jawab Lina, sambil menundukkan kepalanya.
" Kamu jangan banyak pikiran, agar kita bisa cepat dapat anak! Masalah mama dia tidak akan. Mengusik kamu lagi. " Ucap Rach dengan sangat dingin dan serius.
Lagi-lagi soal anak, apa aku tidak hamil secepatnya ia akan berubah, akhir-akhir ini Rach terus bertanya anak kepadaku, akupun ingin memiliki seorang anak tapi bukan aku yang memberikan nya, aku hanya berusaha dan doa, sisanya hanya Allah yang mengatur semuanya.
Aku tidak terusik dengan pertanyaan soal anak, tapi entah kenapa ada rasa takut bahwa kalau aku sudah memiki anak, dan Rach akan meninggalkan aku. Walaupun di awal ia menjanjikan sebuah kebebasan untukku tapi tetap saja hati ini rasanya sangat berat.
Lina yang terpokus kepada lamunannya, yang membuat Rach mengangkat kedua halisnya dan menepuk pundak Lina.
" Kenapa bengong? " Tanya Rach kepada Lina tanpak ia sedikit khawatir.
Lina yang tersadar dari lamunannya, " ahh iya? " Lina yang terkejut jantungnya berdetak sangat cepat
" Besok lusa kita kembali ke rumah. " Ucap Rach
" Baiklah. " Lina tidak ingin banyak bertanya karena dari tadi Rach tanpak sedang khawatir
Sambil berjalan ke arah dapur Lina ingin membuatkan kopi untuk Rach sebab ia dari tadi sudah menguap mungkin karena kurang tidur, walaupun mereka sedang berada di luar rumah tapi Rach tidak pernah jauh dari leptop bahkan saat Lina sudah tertidur ia malah melanjutkan pekerjaannya.
Sambil membawa secangkir kopi, Lina membawanya ke arah Rach dan menaruhnya di meja.
" Ini mas minum kopi dulu. " Ucap Lina sambil menyerahkan secangkir kopi
__ADS_1
Rach melirik ke arah cangkir tersebut dan tersenyum kepada Lina, Lina pun kembali duduk di samping Rach sambil membaca buku walaupun ia sedikit tidak nyaman di samping Rach karena tidak dapat bergerak bebas.
" Kenapa apa kamu tidak nyaman ? " Tanya Rach
" Ehh,, tidak.. " jawab Lina.
Lina sudah beberapa kali pergi ke kamar dan tidur siang kini jam sudah menunjukkan pukul 16:00 Lina sedang mandi di kamarnya.
Setelah mandi Lina shalat ashar, dan membantu bibi pengurus villa untuk memasak buat makan malam, sebab bibi pengurus villa beliau sudah tua.
Mereka memasak sambil berbincang-bincang bersama, Lina yang memasak sendiri sedangkan bibi tersebut membantu memotong sayuran.
Setiap hari ia terus membantu bibi tersebut untuk memasak, walaupun villa itu terkesan unik dan mewah, tapi tetap saja Lina tidak bisa ngapa-ngapain dia hanya ke halaman ke ruang tamu, dapur dan kamar tetep saja bagi Lina hampir sama kayak di rumah dia tidak bisa kemana-mana
DUA HARI KEMUDIAN.
Lina sedang bersiap untuk pulang kerumah Rach lagi, Lina sedikit penasaran apa ibunya Rach masih berada di rumah atau sudah pulang karena selalu mengusik dirinya
" Ehh, sudah ko aku cuma sedang ganti ba__ " saat sedang mengenakan baju dan bicara tiba-tiba saja Rach memeluk Lina dan menghentikan Lina mengenakan baju dan bicara.
" A,, apa yang kamu lakukan? " Tanya Lina sambil gugup
" Tidak aku hanya ingin mencium harum tubuh kamu, cepatlah bersiap. " Bisik Rach sambil melepaskan pelukannya dan turun kebawah meninggalkan Lina yang masih mematung.
Ada apa dengannya kenapa ia tiba-tiba memelukku dari belakang, dan belakang ini ia sering melakukannya walaupun ini bukan pertama kalinya tapi tetap saja saat dia tiba-tiba memelukku aku pun ikut terkejut.
Lina tidak tau harus meng'ekspresikan apa tapi Lina sangat tergesa-gesa untuk bersiap ia tidak ingin Rach kembali naik dan melakukan yang lebih dari sekedar peluk saja.
Setelah 10 menit, Lina tidak membawa barang apapun, Lina hanya mengemas kembali barang yang sudah ia gunakan dan menaruh kembali di tempat semula.
" Sudah? " Tanya kembali Rach.
" Iya,, " jawab Lina sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah Lina masuk Rach juga ikut masuk setelah di rasa semua masuk sang supir pun membawa mereka berdua pergi, di perjalanan Rach terus pokus pada pekerjaan nya beberapa kali ada telepon masuk masalah pekerjaan.
Bahkan Lina hanya memperhatikan Rach yang sedang sibuk dengan ponsel dan leptop nya sepertinya ada masalah dengan masalah kantornya.
Sampai membuat Lina mengantuk padahal ia baru saja berangkat tapi saking bosannya mata Lina ingin segera memejamkan matanya, perlahan mulai tertutup dan iapun tertidur pulas.
Hari sudah semakin siang, Lina yang masih tertidur ia di bangunkan oleh Rach mereka berhenti dulu di rest area.
Sambil perlahan membuka matanya ia melihat mobil sudah berhenti di sebuah makanan cepat saji, sambil keluar dari mobil dan masuk kedalam lestoran tersebut.
" Ayok makan, apa kamu masih ngantuk? " Rach hari ini dia banyak bertanya kepada Lina.
" Tidak ko, sudah gak ngantuk lagi. " Jawab Lina sambil memilih menu.
" Makan dulu baru kerja lagi. " Ucap Lina kepada Rach yang dari tadi tangan nya tidak pernah lepas dari leptop dan ponselnya.
Melihat ekspresi Lina yang sangat imut Rach mencubit pipi Lina dan berkata, " baiklah,, " sambil tersenyum.
Lina membalas senyuman Rach dan sambil menunggu pesanan Lina dan Rach mengobrol satu sama lain, walaupun Rach banyak pekerjaan tapi ia tidak ingin membuat Lina merasa tidak nyaman apa lagi dari kemarin-kemarin ia lebih pokus kepada pekerjaannya
Walaupun dia tau Lina bosan dan sampai membuatnya ketiduran di mobil.
Tak lama pesanan mereka datang, Rach dan Lina langsung menyantap makanan dengan santai, walaupun Rach harus cepat-cepat pulang tapi ia berusaha untuk tetap membuat Lina nyaman.
Sampai selesai makan dan berangkat kembali ke rumah, dan Rach kembali ke hpnya.
Sedangkan Lina memainkan game di ponselnya, tapi semakin lama tekuknya terasa berat dan pusing, Lina menaruh hpnya dan mencoba menggunakan minyak angin untuk mengurangi rasa pusing.
Rach yang melihat ia pun bertanya, " ada apa? "
" Tidak aku hanya kebanyakan main game,, " jawab Lina.
Rach tersenyum dan menaruh hp yang ia pegang dan memijat tekuk Lina.
__ADS_1