Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
Silvi


__ADS_3

Kini Rach sudah kembali, dan ia juga sudah memerintahkan pak Parto dan Silvi untuk mengantarkan segala keperluan Lina, Silvi yang mendapat kabar itu langsung kegirangan. Dan bersiap membeli segala keperluan yang akan ia bawa besok.


Akhirnya hari yang di nantipun tiba. Barang bawaan sudah ia packing rapi tertata di bagasi mobil.


" Sil, itu sudah semua? " Tanya Rach kepada Silvi.


" Tentu saja tuan! "


" Baiklah, ini kamu pegang kartu kredit untuk berjaga-jaga. "


" Siap tuan tenang saja, ini nanti akan saya berikan kepada nona. " Jawab Silvi sambil memainkan kartu kredit platinum.


Rachpun mengangguk dan silvipun langsung pamit untuk segera pergi.


Di sepanjang perjalanan Silvi sudah tidak sabar untuk bertemu Syakila dan Lina. Bagi Silvi Lina sudah seperti kakaknya sendiri.


" Ramai banget ya neng. " Ujar pak Parto sambil menghela nafas.


" Yahh, macet ya pak? " Keluh Silvi


Pak Partopun menggangguk, mau bagaimana lagi jalanan selalu ramai banyak pengendara yang berlalu lalang melakukan aktivitas mereka masing-masing.


" Pak aku tidur dulu ya, nanti kita gantian kalau berhenti di rest area. " Ujar Silvi.


" Siap " jawab pak Parto semangat.


Mobil terus melaju kini udara semakin panas, Silvi yang tertidur cukup lama sampai akhirnya ia berhenti di rest area untuk makan siang.


Silvi yang belum bangun sepenuhnya, ia tanpak linglung.


" Sudah sampai pak? " Tanya Silvi kepada pak Parto


" Sudah neng, neng duluan saja ke dalam saya mau sembahyang dulu nanti kita gantian biar cepat. " Ujar pak Parto. Silvipun mengangguk menandakan setuju.


Beberapa kali Silvi mengeryitkan keningnya saat matahari yang terik menyinari dirinya.


Panas banget.


Silvi berlari kecil masuk kedalam sebuah resto cepat saji.


" Adem. " Lirihnya.


Silvipun langsung memesan makanan dan langsung duduk sambil menunggu.


Mengutak-atik telepon genggamnya Silvi mengirimkan pesan kepada Lina.


( Nona? ) Pesan singkat darinya.

__ADS_1


" Sudahlah mungkin nona juga lagi sibuk ngurus si nona kecil. " Lirihnya sambil tersenyum.


\=\=\=


Matahari mulai redup, dan sudah mulai sore perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya sampai juga di desa tempat Lina, Silvi yang sesekali mengecek maps agar tidak nyasar sebab pak parto ketiduran saat memandu Silvi.


" Pak, pak ini kita kemana lagi? " Silvi yang memakirkan mobilnya sambil membangunkan pak Parto yang sedang terlelap.


" Ahh iya neng? " Pak Parto yang terkejut ia langsung celingukan.


" Hehehe, maaf Pak ini kita lewat mana? Saya lupa jalannya habis sama semua. " Ujar Silvi sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Belok kiri, lurus dikit langsung sampai ko neng sudah Dekat. "


" Ok. " Sambil tancap gas


10menit kemudian akhirnya mereka tiba di rumah Lina, Silvi langsung menarik napas lega. " Hahh akhirnya sampai. " Ujarnya sambil membuka pintu.


Rumah Lina terlihat pintunya terbuka mungkin saat ini Lina dan ibunya sedang ada di ruang tamu.


Tanpa aba-aba Silvi langsung mengetuk pintu. Dan benar saja Lina sedang bercengkrama dengan beberapa tetangga di sana.


" Assalamualaikum. " Ujar Silvi


" Waalaikum salam. " Jawab mereka serentak.


" Sil, sudah datang ayo sini masuk. " Ujar Lina sambil berdiri menghampiri Silvi yang sedang berdiri di pintu masuk.


" Loh gak papa sini neng kenapa nunggu di luar kita ngobrol sama-sama. " Ujar salah satu tetangga


" Tapi.. " ucapnya ragu, sambil melirik ke arah Lina.


Linapun langsung menarik tangan Silvi untuk masuk ke dalam, dan memanggil pak Parto yang sedang menurunkan barang untuk istirahat dulu di dalam.


" Pak, nanti saja sekarang ayo masuk dulu. " Ujar Lina.


Pak Partopun mengangguk gembira.


Para tetangga yang di rumah Lina mereka bercengkrama cukup lama, sambil sesekali mengelus pipi Syakila yang lembut.


Dan memberikan bingkisan untuk si kecil Syakila.


Saat para tetangga sudah pada pulang, dan pak Parto dan Silvi sudah Makan baru barang bawaan untuk Lina dan Syakila di turunkan, sangat banyak dari segala macam kebutuhan Syakila ada di situ begitupun dengan kebutuhan Lina semua sudah tersedia.


Silvi akan berada di rumah Lina selama seminggu, sedangkan pak Parto esok harinya ia langsung Kembali.


Di sela-sela merawat Syakila Silvi menuangkan keinginannya bahwa ia juga ingin segera menikah dan mempunyai anak yang cantik seperti Syakila.

__ADS_1


Seminggu berlalu Silvi sudah kembali walaupun berat tapi ia tidak bisa terus menerus berada di kampungnya Lina.


" Cepet banget waktu berlalu. " Keluh Silvi.


Dia merasa tidak rela untuk meninggalkan Syakila yang setiap hari ia timang-timang.


Dengan penuh kasih sayang.


Lina kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa kini ia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa walaupun ada rasa sakit bekas jahitan yang belum sepenuhnya kering.


Walau begitu obat yang di bawa Silvi cukup berkhasiat untuk mengeringkan bekas jahitan.


Setiap hari Lina minum jamu buatan ibunya katanya biar sehat kembali.


Hari-hari berlalu kini sudah dua bulanpun berlalu


Hari yang di nantikan Rach akhirnya datang juga. Lina yang sudah dapat kabar bahwa ia akan di jemput Lina langsung bersiap membawa keperluan Syakila.


" Mah, mamah gak papa di sini sendiri? " Ujar Lina saat mereka tengah merapikan pakaian Syakila.


" Tentu saja nak, mamah tidak papa, kamu tidak usah khawatir mamah di sini baik-baik saja kamu jangan cemas. " Mimik wajahnya sedikit sendu terbawa suasana.


" Kapan-kapan Lina sama Syakila pasti akan berkunjung nemuin mamah. "


Tentu saja sayang mamah juga pasti kangen banget sama cucu mama apa lagi Kila cucu mama satu-satunya. " Tanpa ia sadari air matanya terjatuh membasahi pipinya.


Mereka berpelukan cukup lama, sambil memberikan petuah kepada Lina saat nanti ia harus mengurus anaknya seorang diri.


Bulir bening terus mengalir membasahi pipinya mereka berdua terdapat senyum bahagia di keduanya. Puji syukur terus Lina panjatkan semoga ini tidak segera berlalu dan akhirnya kebahagiaan datang menghampirinya.


Semoga kamu semakin kuat nak, sebab angin akan semakin kencang.


Kini sebuah mobil mewah terpakir di depan rumah Lina, ternyata Rach sendiri yang menjemput Lina.


" Sudah siap? " Tanya Rach Kepada Lina sambil mengajak ngobrol Syakila.


" Sudah ko mas. " Jawab Lina sambil membawa sebuah koper besar berisi keperluan Syakila.


Rach yang terkejut matanya membulat.


" Apa yang kamu bawa? " Sambil mengernyitkan keningnya.


" Keperluan Kila mas. " Jawab Lina.


Rach tanpak tidak suka, di kembali mengeryitkan keningnya sambil memijat keningnya. " Untuk apa? Keperluan anak kita sudah mas siapkan jadi kamu tidak perlu bawa apa-apa lagi. " Ujar Rach nadanya yang serius.


" Tapikan mas kalau di simpan di sini juga tidak ada yang pakai. " Lina masih bersikeras.

__ADS_1


Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang akhirnya Lina mengalah dan menaruh kembali koper tersebut ke dalam rumah.


Terlihat dari raut ekspresi wajah Rach dia sangat puas memenangkan perdebatan dengan istrinya.


__ADS_2