Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
campur aduk


__ADS_3

Selang beberapa menit suasana kami masih begitu canggung dan hening, Rach tanpak terduduk di pinggir kasur, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Yang membuat Lina kebingungan entah harus bersikap apa, atau memecahkan keheningan malam ini, begitu hening dan sepi tanpa suara sedikitpun.


Lina berusaha memberanikan diri untuk bertanya, ia pun bangun dari tempat tidurnya dan mencoba mendekati Rach.


" Ke,, kenapa? Mau aku buatkan teh atau kopi mas? " Ujar Lina terbata-bata.


Rach hanya memandang ke arah Lina dengan tatapan tajamnya, yang membuat Lina merinding di seluruh tubuhnya tatapan itu seoalah menusuk dirinya begitu dingin.


Sambil memalingkan pandangannya ke arah lain Rach menepuk kasur di sebelah mengisyaratkan Lina untuk duduk. " Duduklah.. "


Tanpa berpikir panjang Lina langsung duduk di samping Rach. " Ada apa? " Lina kembali bertanya.


Rach mulai membuka suara, terlihat kini wajah yang dingin dan datar itu tanpak serius, sepertinya ada sesuatu yang penting yang akan ia katakan.


" Tiga bulan lagi, kamu akan segera melahirkan anak kita, apa kamu sudah siap? " Ujar Rach yang seolah ada petir menyambar ke arah Lina.


Bagaimana bisa aku melupakan surat perjanjian itu, di mana pernikahan kita hanya di atas kertas, dulu mungkin aku memang sudah pasrah dan ikhlas dengan takdirku, tapi sekarang saat di ingatkan kembali kenapa rasanya sakit, dan tidak mau.


Batin Lina menjerit, di mana ia mulai mengingat-ngingat kembali perjanjian nya dengan Rach, rasanya tidak rela, bila ia harus kehilangan anaknya atau pergi meninggalkan


Lina yang terjerumus dalam pikirannya ia masih mematung, belum menjawab pertanyaan Rach, sedangkan Rach masih menatap nya dengan tatapan mengintimidasi.


" Apakah harus? " Ujar Lina sambil berusaha menahan air matanya yang hampir terjatuh ke pipinya.


Rach terdiam dia tidak menjawab pertanyaan Lina.


" Kenapa serumit ini, apakah aku tidak pantas bahagia? " Pertanyaan demi pertanyaan Lina lontarkan kepada dirinya sendiri, kenapa takdir selalu berkata lain tentang dirinya.


" Tunggu lah Sampai usia kandungan kamu tujuh bulan kita lakukan USG, dan nanti.. " lagi-lagi ucapan Rach terputus entah apa yang sedang di pikirkan laki-laki itu.


Pembicaraan merekapun berakhir begitu saja. Tanpa ada penyelesaian ataupun solusi.

__ADS_1


Sambil menarik napas Lina mencoba menguatkan hatinya agar tetap tenang dan tegar. " Baiklah.. "


Keheningan semakin memuncak, Rach yang diam dan bisu sedangkan Lina hanyut dalam pikirannya.


" Apa perutmu sakit? " Tanya Rach yang memecahkan keheningan di antara mereka.


Lina hanya menggelengkan kepalanya.


Rach bangun dari duduknya dan menuju kasur dia mulai membaringkan tubuhnya dan menarik tangan Lina agar ikut tidur bersamanya.


" Kemarilah,, aku ingin mengelus anakku. " Ujar Rach sambil terus memegang tangan Lina.


Lina pun mengikuti keinginan Rach dan berbaring tidur di samping Rach, Rach mulai mengelus-ngelus perut Lina yang sudah semakin besar itu.


Apa tadi itu mimpi, bila aku boleh meminta aku mohon waktu berhentilah sejenak aku tidak ingin perasaan ini berlalu begitu saja, dan harus bangun menghadapi kenyataan yang tidak aku inginkan.


Berada dalam pelukan Rach begitu hangat, seolah pembicaraan yang menegangkan tadi tidak pernah terjadi dan hanya sebuah mimpi.


Sesekali sang cabang bayi merespon elusan tangan Rach dengan cara menendangnya, wajah yang tadinya kusut dingin dan angkuh itu kini berubah seketika ada senyum lebar di pipinya.


Tidak ingin banyak bertanya tidak ingin banyak menuntut itulah sikap Lina, dia hanya memendam dan terus memendam semuanya.


Tanpa terasa waktu terus berlalu Lina yang terlelap dalam pelukan Rach, sedangkan Rach pun ikut tidur dengan pulas nya.


Sepertinya ada banyak yang ingin Rach katakan tapi tidak ia katakan, entah kenapa atau mulutnya tidak mampu untuk mengatakan semua beban yang ada di dalam pikirannya.


ESOK PAGINYA..


Cuaca pagi ini sedikit redup dan mendung, tapi tidak menghapus keceriaan Silvi, sambil bersenandung dan membawa susu dan sarapan, Silvi langsung menuju kamar Lina.


Tanpa ia ketahui bahwa Rach sedang tidur bersama Lina, dengan suara nyaring dan riang nya Silvi pun membuka pintu kamar Lina dan berteriak. " NONA... Aku bawakan susu dan sarapan untuk no..na.. " betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa Rach sedang tidur pulas di samping Lina, hampir saja susu yang ia bawa tumpah.


" Uupss,, apa yang sudah aku lakukan mati aku kalau sampai tuan kebangun. " Jerit batinya.

__ADS_1


Sambil tergesa-gesa Silvi langsung berbalik keluar ia ketakutan setengah mati, kalau sampai Rach bangun dan ia sudah masuk kamar tanpa ketuk pintu dan seizinnya bisa habis dia di pecat oleh Rach.


Saat ia ingin menutup pintu tiba-tiba saja ia mendengar namanya di panggil.


" Silvi.. "


Keringat dingin mulai bercucuran, entah karena ia takut atau tegang, Silvi tanpak mematung tangan seolah kaku dia masih memegang kenop pintu.


Sambil menelan ludah Silvi memberanikan diri untuk kembali masuk ke kamar, " iya,, nona, maafkan saya nona saya tidak tau kalau tuan ada di sini. " Ujarnya


Lina sedikit menggunjingkan sudut bibirnya, ia pun masih tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam, entah harus bahagia atau sedih begitu campur aduk semuanya.


" Tidak papa.. sarapannya simpan saja di meja makan nanti aku ke sana. " Ujar Lina sambil bangun dari tempat tidurnya.


" Baik nona.. " Silvi pun segera menutup pintu kamarnya.


" Untung saja bukan tuan yang bangun, coba kalau tuan habislah aku, tapi kalau tuan dan nona sudah tidur bersama kembali itu artinya rumah ini gk kosong dan dingin lagi. "


Sambil berlalu menuju meja makan, Silvi masih saja mengoceh sendiri tentang apa yang ia lihat pagi ini. Padahal bukankah hal wajar bila suami istri tidur bersama, tapi bagi Silvi itu adalah hal yang sangat langka ia dapati di rumah itu semenjak Lina hamil.


Tak beberapa lama Lina pun keluar dari kamar nya kini ia sudah tanpak lebih segar mungkin karena sudah mandi juga.


" Nona mau jalan pagi? " Tanya Silvi kepada Lina yang bahkan Lina belum duduk di meja makannya.


" Iya, mau owh iya sil, besok jadwalnya periksa kamu beritahu tuan ya. " Ujar Lina sambil mengambil sepotong roti tawar.


" Saya nona? " Ujarnya kebingungan kenapa harus dirinya bukankah sudah baik-baik saja.


" Iya, terus siapa lagi. " Jawab Lina


Aku masih canggung dan takut saat berbicara dengan Rach, aku takut pembicaraan seperti semalam terlontar kembali, sebisa mungkin aku ingin menghindar, setidaknya aku tidak ingin mendengar itu semua.


\=\=\=\=\=**

__ADS_1


Hay semuanya terimakasih banyak masih setia membaca novel saya, saya memohon maaf sebesar-besarnya karena jarang up. Tapi author sangat berharap kalian terus mendukung author. Dan supaya author tambah samangat buat up jangan lupa like dan coment dan berikan penilaian kalian dan keritik serta sarannya agar author lebih baik lagi. Jangan lupa vote Sisi yang Kelam ya..


Terimakasih**..


__ADS_2