Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
benarkah?


__ADS_3

Aneh bener-bener aneh hubungan tuan dan nona, kenapa di selimuti kabut tebal si.


Sambil beberapa kali menggelengkan kepalanya, Silvi masih terngiang-ngiang perkataan Lina tadi pagi. Bahwasanya ia yang harus memberi tahu Rach tentang jadwal periksanya Lina, padahal tadi pagi mereka sudah tidur bersama kenapa kembali lagi jadi seperti orang asing.


Sambil memasang ekspresi yang penuh tanda tanya dan sedikit mengeryitkan halisnya membuat salah satu pelayan yang sedang mencuci piring pun penasaran dengan ekspresi yang silvi pasang.


" Hey, kenapa serem amat! " Ujar salah satu pelayan di rumah Rach yang bernama Tina.


Silvi yang terkejut sontak menepiskan tangannya " ishh, ngagetin aja. " Jawab Silvi yang masih setengah terkejut.


" Siapa suruh melamun, bukannya kerja. "


" Ehh sory ya, kerjaan ku bukan di dapur, tapi di telunjuk hahaha.. " jawab Silvi sambil tertawa dan berlalu pergi ke arah kulkas mengambil beberapa buah.


Sedangkan Tina hanya mendengus kesal mendengar jawaban Silvi.


Tidak heran Silvi yang kerjanya hanya menjaga Lina, dan membantu Lina ataupun menjadi penghubung antara Lina dan Rach karena setiap perkembangan Lina maupun kesehariannya di pantau oleh Silvi dan melaporkannya ke Rach. Dari kebutuhan pribadi sampai rumah Silvi yang mengatur. Tak jarang juga Silvi membantu Rio maka tak heran kalau Silvi jadi tangan kanan Rach di rumah, beda halnya di kantor Rio tangan kanan Rach.


ESOK PAGINYA.


Akhirnya hari ini tiba juga di mana hari Lina untuk kontrol dan periksa ke dokter. Silvi sudah memberitahu ke Rach bahwa hari ini adalah jadwal periksa Lina, tapi karena ada urusan penting di kantor dan akhirnya Rach tidak dapat menemani Lina.


Walaupun ada sedikit rasa kecewa di wajah Lina tapi tidak memadamkan semangat dalam hatinya.


" Nona sudah siap? " Tanya Silvi sambil berjalan ke arah Lina, tangannya penuh dengan berkas-berkas dan tlp genggam menempel di telinganya.


Sambil menelepon dokter Silvi begitu sibuk dan kerepotan.


" Sil, duduk dulu aja jangan sambil berdiri. " Ujar Lina yang melihat Silvi begitu kerepotan.


" Baik nona.. "


Ya hari ini Rach menyerahkan begitu banyak tugas kepada Silvi sebab Rio yang biasa mengerjakannya sedang di tugaskan oleh Rach di tempat lain, bener-bener sibuk.


" Berat juga ternyata pekerjaan Silvi dia harus menghendel semuanya dan harus serba bisa. " Ujar Lina dalam hatinya, sambil terus menatap Silvi yang sedang Merapikan beberapa berkas buat di bawa nanti.


" Sudah ayo nona kita beranggkat. " Sambil berdiri dari tempat duduknya, silvipun melangkah menghampiri Lina buat membantu Lina bangun dari duduknya.

__ADS_1


" Bisa bangun sendiri ko sil, ayo. " Ujar Lina


Mereka pun segera menuju rumah sakit, sudah terbiasa bagi Lina setiap bulan ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan nya, walaupun Lina sudah beberapa kali di USG baik Lina maupun Rach mereka berdua tidak mengetahui jenis kelamin buah hatinya.


Karena bagi Lina dan Rach biarlah menjadi kado istimewa untuk mereka berdua.


Sesampainya di Rumah sakit, seperti biasa Lina kontrol dengan dokter yang sudah biasa mengecek kondisi kandungan Lina.


" Wah,, si dedek sehat dan tambah aktip aja. " Ujar dokter saat meriksa kandungan Lina.


Seketika bibir Lina terangkat, dan tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter tersebut.


" Alhamdulillah kalau begitu dok, perjuangan kita buat menjaga dan mempertahankan kandungan saya tidak sia-sia. " Jawab Lina


Dokter pun tersenyum membalas senyuman Lina. Selesai mengecek kondisi kandungan nya Lina pun segera pulang dan istirahat.


Beberapa Minggu pun terus berlalu, kini kehamilan Lina sudah mau memasuki 7 bulan.


Lina yang sedang duduk di teras depan rumah bersama Silvi yang selalu menemaninya.


" Siapa sil? " Tanya Lina yang mulai penasaran dengan mobil yang sudah terpakir di depan rumah.


" Nyo,,nya. " Jawab Silvi wajah Silvi tanpak begitu tegang dan terkejut.


Nyonya.


Lina seolah mengulang perkataan silvi.


Ada apa beliau ke sini? Apa yang harus aku lakukan apa aku menghampiri ibunya mas atau__


Mobil itu terpakir cukup lama, sampai membuat Lina kebingungan, dan akhirnya Silvi berinisiatif mengirim pesan kepada Rach dan segera menghampiri ibunya Rach.


Sedangkan Lina masih terdiam mematung, Lina tanpak kebingungan apa yang harus ia lakukan sebab ibunya Rach sangat membenci Lina.


Silvi berdiri cukup lama di depan pintu mobil, entah sedang apa yang ia lakukan di dalam mobil yang pasti tidak keluar-keluar. Bahkan kaki Silvi sampai di buat pegel berdiri.


Saat Lina ingin menghampiri mobil tersebut tiba-tiba saja wanita paruh baya itu membuka pintu mobil nya dan berteriak ke arah Lina.

__ADS_1


" STOP!! " pekiknya sambil menaikkan tangannya seolah menghalang Lina agar tidak mendekat.


Lina yang terdiam di tempatnya seolah ada benda tajam yang menusuknya. Pikiran nya berkecamuk wanita paruh baya itu menatap dengan tajam dan jijik ke arah Lina seolah menatap sampah di hadapannya.


" Di mana Rach? " Tanyanya.


" Tuan sedang di kantor nyonya. " Jawab Silvi sambil menundukkan tubuhnya.


" Hhmm. "


Tanpa basa-basi wanita paruh baya tersebut langsung masuk ke dalam rumah, dan melewati Lina begitu saja tanpa meliriknya sedikit pun.


" Hahh,, sejijik itukah melihatku. " Gumam Lina sambil menghela nafas panjang.


Silvi langsung mengikuti langkah ibunya Rach tersebut begitupun dengan Lina.


Sambil menunggu Rach pulang mau tidak mau Lina dan Silvi menemani wanita paruh baya tersebut, walau bagaimanapun juga dia tetap ibunya Rach dan mertuanya Lina.


Sebisa mungkin Lina tidak memasukkan perkataan mertuanya tersebut ke dalam hatinya.


" Hey gadis kampung, kemas lah bajumu dan segara pergi dari sini. " Ujarnya dengan sinis


" Apa maksud nyonya? Nona adalah istri tuan mana mungkin nyonya harus meninggalkan rumah ini. " Jawab Silvi seolah tidak terima mendengar ucapan kasar yang di lontarkan ke Lina.


Sambil mendelik ibunya Rach seolah tidak peduli malah mengatakan sesuatu yang lebih pedas lagi. " Kamu gak usah ikut campur. Hanya seorang pelayan saja beraninya kamu ikut campur!! "


" Sil, udah " sambil memegang tangan Silvi, sepertinya Silvi sedang menahan amarahnya.


" Maaf nyonya tapi saya tidak akan pergi dari rumah ini kecuali kalau memang anak nyonya yang mengusir saya. " Jawab Lina dengan lantang dan tegas. Bagaimanapun juga Rach yang membawanya ke rumah ini.


" Huhh,, lihat saja anakku sendiri yang akan mengusirmu dari sini. Cepat telepon dia agar segera pulang. "


Apa maksudnya, apa Rach benar- benar mau mengusir ku, atau hanya karangan saja?.


hati Lina begitu gundah, apa lagi ibunya Rach mengatakan itu dengan percaya diri dan tidak ada keraguan sedikitpun seolah memang benar bahwasanya Rach benar-benar ingin mengusir Lina dari sini.


Tapi apa alasannya?

__ADS_1


__ADS_2