
Kini berkebalikannya dengan Rach wajah Lina cemberut, ia menaruh kembali barang bawaannya ke dalam rumah.
" Mah kalau gitu ini berikan saja sama orang yang lebih membutuhkan, ada teh Susi kan yang lagi hamil kali aja mau bekas Kila, atau di simpan saja. " Ujar Lina kepada ibunya
" Yasudah terserah kalian, Susi pasti mau ko, kan bekasnya masih bagus semua dan masih ada yang baru. " Ujar sang ibu agar anaknya tidak terlalu sedih.
Lina lupa bahwa Rach masih tetap tuan muda yang angkuh dan dingin mana mungkin ia tidak memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Bahkan untuk saat ini saja semua sudah di atur beres segala keperluan Kila.
" Dasar bos boros " umpat Lina kesal
Setelah berpamitan dengan ibunya Lina dan Rach langsung menaiki mobil.
Di sepanjang perjalanan Kila tertidur pulas ia bangun kalau ingin minum asi saja.
" Mau berhenti dulu? " Tanya Rach di sela perjalanan mereka.
" Iya mas. "
Rachpun berhenti di rest area dan masuk ke dalam resto mereka duduk bersama. " Makan yang banyak biar Kila cepat gemuk dan asi kamu banyak, tapi nanti kalau sudah sampai rumah kamu harus makan-makanan yang bergizi ya biar Kila sehat. " Ujar Rach panjang lebar memberikan nasihat kepada Lina.
Lina hanya manggut-manggut saja mendengarkan petuah Rach.
" Mas duluan saja aku mau ke kamar mandi dulu ganti popok Kila. " Ujar Lina sambil membawa Syakila
" Aku ikut. " Jawab Rach
Lina hanya menghela nafas dan mengangguk, dia tidak mau berdebat lagi dengannya Rach itu orang yang keras kepala bagaimana bisa ia menang darinya.
Waktupun berlalu begitu cepat akhirnya Meraka sampai dan ternyata Lina sudah di sambut oleh para pelayan, mereka berbaris rapi menunggu kedatangan Lina.
Dan Silvi tanpak senang melihat kedatangan Lina, walaupun dia ikut berbaris tapi di antara barisan itu Silvi lah yang paling ceria seperti ada bintang-bintang di atas kepalanya.
" Selamat datang kembali nona. " Ucap mereka serentak saat pak Parto membukakan pintu mobil.
Lina yang tidak dapat berkata apa-apa dia nampak terkejut saat para pelayan membungkuk kepadanya. " Ahh, apa yang kalian lakukan. " Ujar Lina sambil meminta mereka jangan menunduk lagi.
" Ayo masuk nona saya sudah siapkan air hangat untuk mandi nona. " Ujar pelayan sambil menggiring Lina masuk
Sedangkan Rach dia tanpak tersenyum, entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi senyumnya yang terlihat tulus sepertinya ia bahagia.
" Tuan saya ada kabar yang sedikit kurang mengenakkan " ujar Rio yang menghampiri Rach
" Ada apa? " Tanya Rach kini ekspresi nya sangat serius sedangkan Rio dia tanpak tegang.
__ADS_1
" I,, itu tuan.. " ujar Rio dia sepertinya sulit untuk mengatakannya.
" Ada apa? Cepat katakan!! " ujar Rach dengan nada menekan.
" I,, itu nyonya dia akan datang besok, mendengar kabar bahwa nona sudah kembali nyonya sangat marah. "
Rach terdiam sejenak " sekarang aku punya misi untuk kamu, sebisa mungkin jangan biarkan mama masuk kedalam rumah ini bagaimanapun caranya dan jangan biarkan Lina mengetahuinya. " Rach langsung meninggalkan Rio yang sedang kebingungan.
" Tapi tuan... " Rio tidak habis pikir bagaimana ia bisa menghentikan seorang nyonya besar. Sedangkan dirinya saja bukan siapa-siapa
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya menepuk jidatnya dia harus mencari cara bagaimana caranya agar nyonya tidak datang ke rumah atau jangan pertemuan beliau dengan Lina.
" Pasti yang di incar nona " lirih Rio dia sepertinya sedang berpikir keras.
Rio yang sedang pusing dia beberapa kali memutari dapur, saat Silvi melihat Rio mutar-mutar tidak jelas membuatnya pusing.
Sambil pukul meja " apa yang kamu lakukan si? " Ujarnya.
Yang membuat Rio terkejut dan hampir saja ia melompat ke kursi.
" Apasih bikin orang jantungan saja. " Dengan emosi Rio membentak Silvi.
" Kamu loh yang kenapa? " Tanya Silvi sambil duduk di kursi.
" Gini loh nyonya besok mau kesini, terus tuan menyuruh buat jangan sampai nyonya bertemu nona dan masuk ke dalam rumah ini. Bisa mati aku kalau menghentikan nyonya. " Rio tanpak frustasi memikirkannya.
" Ssstt.. " Rio langsung membungkam mulut Silvi.
" Ada apa? " Tanya Lina dari balik pintu sepertinya dia sudah selesai mandi.
Silvi dan Rio yang terkejut setengah mati mereka hampir saja berteriak. Sedangkan Silvi bibirnya langsung bungkam tak mengeluarkan kata apapun.
" Yonya? Nyonya maksudnya nyonya Belva? " Tanya Lina sorot mata Lina sangat tajam membuat Rio tidak berkata apa-apa hanya mengangguk.
" Aduhh bagaimana ini sudah ketauan oleh nona, kalau sampai tuan tau bisa habis. " Ucapnya dalam hati Rio begitu gelisah.
" Nona lebih baik besok nona ikut saya jalan-jalan keluar bersama nona kecil. " Ujar Silvi kepalanya tertunduk ia tidak berani menatap Lina.
" Tidak, kalau nyonya mau bertemu denganku kenapa aku harus menghindar. " Jawab Lina semakin membuat Rio tidak tenang.
" Tapi nona, tuan melarang nona untuk bertemu dengan nyonya, kalau nona bertemu nyonya nanti tuan pasti marah besar kepada saya. " Ujar Rio ketakutan.
" Kamu tidak perlu khawatir ini kemauan ku sendiri. " Ujar Lina sambil berlalu pergi meninggalkan Silvi dan Rio
" Bagaimana ini habislah aku, gara-gara kamu kenapa tadi berteriak! " Rio semakin frustasi
__ADS_1
" Maaf " sedangkan Silvi tanpak menyesal.
Rio yang frustasi nyawanya seperti melayang keluar dari tubuhnya.
\=\=\=
Kalau memang mau bertemu kenapa harus menghindar.
" Kenapa Rio dan Silvi menyembunyikannya walaupun aku tau itu perintah dari mas tapikan kenapa juga harus di sembunyikan. " Lina tanpak kesal
Tok,, tok,, tok.
" Iya " jawab Lina sambil membukakan pintu.
Ternyata ada pelayan dan seorang mengenakan baju bebysiater.
" Ada apa? " Tanya Lina ia bertanya-tanya kenapa ada bebysiater di rumahnya.
" Nona, tuan memerintahkan saya untuk mengantar bi Iyah beliau bebysiater yang sudah memiliki sertifikat nomer satu beliau bebysiater yang terbaik. " Ujar salah satu pelayan.
Sedangkan Lina masih bingung padahal dia sudah meminta kepada Rach agar tidak perlu menggunakan bebysister sebab Lina yakin dia masih bisa melakukannya sendiri.
" Selamat sore nona, perkenalkan saya Iyah Sulastri " sambil membungkukkan badannya.
Sedangkan pelayan tadi langsung pergi setelah mengantarkan bebysister tersebut.
" Tunggu! " Ujar Lina menghentikannya.
" Iya ada apa Nona? "
" Panggil Silvi kemari. "
" Baik nona. " Sambil berlalu pergi.
" Silahkan masuk bi. " Ucap Lina bagaimanapun ia tidak bisa marah kepada bi Iyah
Tak lama Silvi datang, Silvi yang ketakutan lebih dulu membuat dia berdiri cukup lama di depan pintu sampai akhirnya dia memberanikan diri mengetuk pintu.
" Nona ada yang bisa saya bantu " ucapnya bergetar.
Lina langsung membuka kan pintu dan menyuruh Silvi masuk. " Bi bisa keluar sebentar saya ingin mengobrol dengan Silvi sebentar. " Ujar Lina yang semakin membuat Silvi takut.
Silvi masih takut tentang masalah tadi yang di dapur dia takut kena marah Lina karena menyembunyikan itu semua darinya.
" Baik nona saya akan bawa non Syakila keluar. " Linapun mengangguk.
__ADS_1
Setelah keluar Lina langsung menatap tajam Silvi dan suasana langsung berubah " Sil kamu tau dimana tuan? "
" Tuan? Tuan baru saja pergi karena ada sedikit masalah di kantor. Ada apa nona? " Tanya Silvi dia kira akan kena marah ternyata tidak.