Sisi Yang Kelam

Sisi Yang Kelam
cemilan untuk Rach


__ADS_3

Rach menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dan dingin, yang membuat seluruh bulu kuduk Lina dan Rio berdiri.


" Apa yang sedang kalian lakukan tadi kenapa di belakangku dan saat aku menghampiri kalian malah pergi, apa yang kalian sembunyikan " Rach bicara dengan nada cukup keras dan bahkan membuat para pelayan tidak berani mondar-mandir di sekeliling mereka.


" Ti,, tidak tuan ini nona memberikan saya makanan katanya ingin memberikan tuan tapi takut tuan gak mau. " Jawab Rio dengan gugup dan keringat dingin di seketujur tubuhnya.


Rach kembali melotot ke arah Lina seolah mempertanyakan apa itu.


Maafkan aku nona, bagaimanapun saya tidak berani berbohong kepada tuan sebab kalau ia marah sangat menakutkan.


" I,, itu,, cemilan yang aku beli di pasar lama, karena ini makanan kampung dan mungkin kamu tidak terbiasa memakannya makannya aku tidak jadi memberikannya kepadamu cuma kepada Rio saja. " Ujar Lina dengan gugup ia sangat takut dengan tatapan Rach kepadanya.


Rach terdiam sejenak, sambil melihat bingkisan yang di pegang Rio, Rio tidak dapat berkata apa-apa saat makanan nya di rebut oleh bos-nya.


" Ini buat aku? " Tanya Rach sambil mengangkat bingkisan tersebut.


" Bukan yang itu,, tapi ini! " Jawab Lina sambil berlari mengambil makanan yang memang khusus Rach.

__ADS_1


Lina berlari ke dapur dan mengambil makanan tersebut yang sudah terkemas rapi dalam bungkusan dan kembali berlari menghampiri Rach. Sambil terengah-engah Lina berusaha untuk tetap tenang.


" I,, ini tapi kalau kamu tidak suka jangan di buang. " Ujar Lina sambil menyerahkannya kepada Rach kepala Lina tertunduk ia takut kalau makanannya akan di buang kembali sama seperti ibunya.


Rach kini wajahnya tersenyum sambil mengajak Rio untuk segera berangkat.


" Ayo,, nanti kita telat. " Ujar Rach..


Lina masih khawatir apa makanan akan di buang, apa Rach akan menyukai nya. Di pikiran Lina penuh dengan pertanyaan sebab ia tidak mau kalau makanannya di buang begitu saja dan jadi Mubajir.


Hanya memutari rumahnya dan kembali ke kamar setidaknya Lina ingin melakukan aktivitas lain. Di rumah membuat Lina sangat bosan.


Apa lagi sudah tiga hari ini Lina selalu merasakan pusing di kepalanya dan mudah lelah, kadang baru jam sepuluh pagi Lina sudah tidur bahkan dulu dia tidak pernah tidur sebelum lewat jam dua belas siang.


Setelah di bawah Lina tanpak kebingungan ia tidak tau harus ngapain akhir Lina terduduk di ruang tamu dan mulai menonton TV.


Semakin lama Lina merasa ngantuk dan tidak tertahankan akhirnya ia tertidur sambil menopang pipinya.

__ADS_1


Para pelayan tidak berani memindahkan Lina yang tertidur di sofa. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 14:00 Lina tertidur cukup lama dan ia terbangun karena perutnya lapar.


Sambil makan siang Lina berbincang-bincang dengan para pelayan.


Di sisi lain Rach yang baru saja selesai meeting penting dengan rekan kerja samanya. Dia belum makan siang, Rach teringat dengan bingkisan yang di berikan Lina, akhirnya Rach membukanya dan ia terlihat bingung dengan isinya tersebut ada beberapa makanan ia kenal ada juga yang tanpak asing baginya.


Rach mencoba satu persatu rasa yang sangat asing dan khas tapi Rach cukup menyukainya.


" Bagimana mungkin aku membuang makanan darimu, walaupun rasanya tidak enak tetap saja itu pemberian darimu. " Gumam Rach sambil memandangi kue tersebut.


Tapi mau makan seberapa banyak pun perut Rach masih terasa lapar padahal ia sudah menghabiskan hampir setengah kue dan beberapa cemilan yang lain.


Karena masih merasa lapar akhirnya ia meminta Rio untuk memesankan makanan untuknya.


\=\=\=


Hari sudah mulai sore Lina baru saja selesai mandi dan ia sedang menyiapkan makan malam untuk Rach, kini kepalanya kembali pusing tapi Lina tidak memperdulikan nya menurut Lina mungkin ia hanya masuk angin biasa.

__ADS_1


__ADS_2