
Saat malam tiba Lina yang tidur bersama ibunya, ia berada di pangkuan sang ibu sambil di elus rambut nya Lina, Lina sangat nyaman di pangkuan ibunya, karena sudah lama sekali ia tidak bermanja-manja dengan sang ibu sampai ia pun terlelap tidur dalam pangkuan ibunya.
Koper yang lina bawa masih belum di buka, mereka berdua tidur bersama sedangkan Silvi ia tidur di ruang tamu, mereka semua tidur dengan nyenyak mungkin Lina dan Silvi habis melakukan perjalanan cukup jauh jadi mereka sangat kelelahan.
Hujan yang rintik-rintik kini perlahan mulai deras yang membuat Lina menarik kembali selimut nya, di tempat ibunya tidak ada AC hanya ada kipas angin gantung itu pun tidak ia nyalakan karena cuacanya sudah sangat dingin, sambil berbalut selimut yang hangat Lina begitu pulas.
PAGINYA.
Lina yang masih tertidur sadangkan sang ibu sedang memasak untuk sarapan mereka nanti, sedangkan Silvi sudah bangun dan ia sedang memanaskan mobil.
Lina yang meregangkan tubuhnya ia begitu ingin menarik kembali selimut tapi wangi makanan dari dapur sudah tercium oleh hidungnya, yang membuat Lina kembali membuka matanya.
Lina bangun dari tempat tidur dan langsung mandi, setelah mandi Lina mengambil baju di koper yang ia bawa kemarin, dan baru saja dia mengingat nya bahwa barang-barang dari Rach belum ia berikan kepada ibunya.
Lina pun membawa kopernya dan menghampiri ibunya yang sedang memasak.
" Mah,, lagi masak ? " tanya Lina.
" Iya sayang ayok sarapan dulu, ajak dek Silvi buat sarapan bareng. " Ucap ibu Lina dengan sangat ramah.
" Ngapain kamu bawa koper kedapur ? " Ucap sang ibu kepada Lina sambil tertawa kecil.
" Ini ada sesuatu dari Rach.. " ucap Lina.
" dek Rach.. " ucap sang ibu, ibunya Lina begitu baik dan ramah.
" Iya.. "
" Nak sayang,, jangan panggil suamimu dengan nama mereka sayang tidak baik, coba panggil dengan nama yang lebih sopan lagi. "
Ibunya Lina yang mendengar anaknya memanggil Rach dengan langsung, merasa tidak enak untuk di dengar dan terasa kurang sopan.
" Iya mah,, emang aku harus panggil dia apa ? " Tanya Lina sambil menopang dagunya.
__ADS_1
" Panggil sayang gitu, ya terserah kamu nak, masa sama suami sendiri panggil nama gak baik di dengar nya juga. " Ucap ibunya Lina sambil meledek Lina.
" Ahh,, mamah.. " pipi Lina memerah karena malu.
Ibunya Lina menyiapkan sarapan Lina dengan sigap membantu, karena Lina yang menyiapkan makanan, ibunya Lina keluar untuk memanggil Silvi agar sarapan bersama.
Tak lama mereka masuk kedalam bersama, seperti nya ibunya Lina sedang mengobrol dengan Silvi.
" Ayok nak duduk kita sarapan bareng. " Ucap ibunya Lina.
" Tidak Bu, saya mana mungkin makan bareng ibu dan nona.. " jawab Silvi.
" Ehh,, kenapa begitu nak, ibu mana mungkin beda-beda si, sudah ayok makan anggap ini rumah sendiri. "
Silvi pun duduk dia merasa takut kalau Rach akan memarahi nya.
Mereka makan sambil bercengkrama, begitu hangat suasana saat ini, walaupun hujan di luar kembali turun.
" Sini mah duduk. " Sambil menarik tangan ibunya ke ruang tamu, wajah Lina begitu bahagia.
Mereka menuju ruang tamu, saat ibunya Lina sudah duduk di sofa sedangkan Silvi ikut tertawa melihat Lina yang sangat antusias. Lina pun mulai membuka seleting coper tersebut dan mulai mengeluarkan nya satu persatu.
" Banyak amat nak.. " sang ibu malah merasa khawatir melihat barang bawaan yang di belikan untuknya.
Di saat Lina tidak dapat menjawab pertanyaan ibunya, Silvi menyela membantu Lina untuk menjawab bagaimana pun juga kan dirinya yang membeli barang begitu banyak.
" Itu sengaja tuan membelinya untuk ibu karena tuan tidak bisa datang menemui ibu dan ikut pulang bersama nona. " Jawab Silvi.
" Padahal gak usah repot-repot, Lina sudah datang juga mama sangat senang. " Ucap sang ibu yang matanya mulai berkaca-kaca.
Ibunya Lina merasa beruntung Lina bisa menikah dengan Rach yang mencintai anaknya, walaupun dulu sempat khawatir dengan keadaan Lina yang terjual oleh bapak nya ia takut kalau Lina akan di perlakukan macam-macam.
Bahkan ibunya Lina tidak mengetahui kalau mereka melakukan pernikahan kontrak, dan lagi sekarang ada masalah dengan keluarga Rach, Lina tidak ingin bercerita kepada ibunya tentang keadaannya yang sesungguhnya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan waktu bersama Lina tidak mengijinkan ibunya untuk memasak ataupun membersihkan rumah, setidaknya ia ingin berbakti dan merawat ibunya walaupun hanya dua hari.
Setelah dua hari Lina, sangat enggan untuk pulang kembali ke rumah Rach, pagi ini Lina sengaja tertidur sampai siang agar mereka tidak jadi pulang, ibunya Lina sudah membangunkan Lina berulang kali tapi Lina tidak mau bangun juga. Hati Lina sangat berat untuk meninggalkan ibunya seorang diri di rumah ini.
" Nak,, bangun sayang mama tau loh kalau kamu sudah bangun dari tadi. " Ucap sang ibu yang begitu lembut kepada Lina sambil mengusap rambut Lina.
Lina tidak dapat menahan air matanya, dia sangat tidak ingin untuk meninggalkan ibunya di sini sendiri.
" Mah,, Lina gak mau kembali Lina ingin bersama mama. " Isak Lina
Mungkin Lina yang masih labil, ya jelas saja bagaimana pun juga Lina baru berusia 18 tahun , dan dua bulan lagi ia baru berusia 19 tahun.
Lina masih sangat membutuhkan kasih sayang ibunya, cita-cita baru saja di mulai tapi di awal sudah kandas oleh bapaknya yang menjual dirinya. Padahal waktu itu Lina baru mendapatkan ijazah nya dan sedang melamar kerja agar bisa kuliah dan membantu ibunya.
Tapi nasib berkata lain Lina harus mengubur dalam-dalam perasaannya, keinginannya dan cita-cita karena di tangan Rach semuanya tidak berarti.
" Sayang jangan begitu, mama akan selalu mendoakan kamu di mana pun kamu berada nak, jangan seperti ini malah kalau kamu seperti ini membuat mama tidak enak dan sedih. " Sambil mengelus punggung Lina, karena Lina tiba-tiba merangkul dirinya, dan mulai menangis.
Ibunya Lina mencoba menenangkan anaknya, yang menangis histeris, kini Lina kembali menjadi anak yang manja kepada ibunya.
Lina yang tegar dan selalu kuat kini dia manjadi anak yang seusianya yang masih manja kepada ibunya. Saat Lina sudah tenang dan tertidur ibunya menghampiri Silvi yang sedang menunggu di ruang tamu.
" Nak Silvi bisa tidak pulangnya besok saja, Lina tidak mau pulang dia menangis sampai ketiduran. " Ucap sang ibu yang khawatir kepada anaknya.
" Saya tidak bisa memutuskan nya Bu, saya harus memberi tahu kepada tuan. " Ucap Silvi sambil mengetik nomer telepon dan menelepon Rach.
Mereka berbicara dan menjelaskan situasi saat ini, ibunya Lina pun bahkan berbicara dengan Rach. Tapi Rach meminta untuk memberikan tlp nya kepada Lina ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
\=\=\=\=
Terimakasih sudah membaca SYK jangan lupa like comen dan beri juga author dukungan dengan memberikan point kepada author.
Terimakasih..
__ADS_1