
Hari demi hari terus berlalu, sudah dua Minggu pusing kepala Lina masih belum sembuh dan bahkan ia sering muntah-muntah dan mod nya naik turun.
DI HARI MINGGU.
Rach yang sedang membaca artikel di leptop nya terlihat dia sangat santai pagi ini sambil duduk di ruang tamu, dan menyeruput kopi miliknya yang di buatkan oleh Lina.
Tapi Rach cukup teralihkan oleh keadaan Lina ia dari tadi terdengar suara Lina mual-mual dan muntah bahkan wajahnya jauh lebih pucat.
" Ada apa bi? " Tanya Rach kepada salah satu pelayan yang sedang mondar-mandir.
" Ah itu non Lina muntah-muntah dan wajahnya sangat pucat dan bahkan ia tampak begitu lemas. "
Rach yang tampak khawatir ia langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Lina yang sedang berada di wastafel.
Rach mengeryitkan keningnya yang melihat Lina begitu pucat, dia segera menghampiri Lina dan memegang bahunya.
" Ayok kita kerumah sakit. " Ujar Rach
" Tidak,, tidak aku tidak papa mungkin hanya masuk angin saja. " Lirih Lina.
" Sudah Ayok ikut saja. " Ujar Rach dan langsung menarik bahu Lina
Rach langsung memanggil Rio untuk segera mengantarkan mereka ke dokter pribadi nya.
Di sepanjang perjalanan Rach tanpak begitu khawatir dia terus menerus melihat Lina yang sudah terkulai lemas, sesampainya di rumah sakit Rach hanya menunggu di luar ruangan sedangkan Lina sedang di periksa oleh dokter.
Lima belas menit kemudian, dokter keluar dan memanggil Rach masuk untuk memberi tahukan tentang keadaan Lina.
" Dok bagaimana. " Ujar Rach yang khawatir.
" Jadi gini, setelah saya periksa dan cek ternyata nona ini sedang hamil, tapi... " Ujar dokter tersebut tapi Rach ia tidak berkata apa-apa bahkan ia menunggu dokter meneruskan perkataannya
" Tapi apa? " Ucap Rach dengan lantang.
" Tapi... Kandungan nya sangat lemah bahkan saya khawatir bila nantinya nona ini bisa saja keguguran secara tiba-tiba, tapi semoga itu tidak terjadi saya akan memberikan resep obat. Sebab tadi nona sudah ada pendarahan. " Ucap dokter menjelaskan.
__ADS_1
Rach tidak tau harus senang atau sedih di sisi lain akhirnya yang ia nantikan dan tunggu hari bahagia datang juga, tapi mendengar kondisi Lina yang lemah dan bisa saja ia keguguran membuat Rach sedih.
Setelah Lina baikan dan bisa pulang Rach begitu pucat ia dari tadi sangat khawatir.
Dan akhirnya Lina bisa pulang, setelah sampai di rumah Rach menyuruh pelayan untuk menyiapkan air untuk Lina minum obat, dan setelah minum obat Lina langsung istirahat.
3 HARI KEMUDIAN.
Lina yang semakin tidak boleh melakukan apa-apa ia harus benar-benar istirahat dan bahkan Lina harus pindah kamar untuk sementara ke kamar di lantai satu.
Lina tanpak bosan ia hanya menonton TV seharian tapi mau bagaimana lagi dia tidak mau membahayakan kandungan nya.
" Sil,, aku bosan. " Ujar Lina sambil memasang wajah sedih.
Setiap hari Silvi menemani Lina di dalam kamar " tapi nona, tuan tidak mengijinkan nona keluar rumah. " Jawab Silvi yang berusaha menenangkan Lina yang mulai bosan di dalam kamarnya.
Lina hanya menarik napas panjang, ia tidak tau lagi harus ngapain setiap hari hanya tiduran, makan dan minum obat setiap hari hanya itu yang ia lakukan bahkan mau mandi saja harus di temani oleh Silvi dia merasa tidak bebas.
Silvi yang melihat Lina tanpak sedih ia pun berjalan keluar dari kamar Lina, dia akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Rio agar bisa di sampaikan kepada Rach.
" Iya ada apa. " Jawab Rio yang terdengar tergesa-gesa.
" Tolong sampaikan kepada tuan bahwa nona sekarang sedang bosan, dan kini nona sangat sedih karena tidak bisa keluar rumah, saya takutnya itu juga akan berdampak kepada kandungan nona. " Ujar Silvi berusaha menjelaskan situasi saat ini.
" Ok, nanti saya sampaikan sekarang bos sedang meeting dan belum selesai. " Jawab Rio.
Panggilan pun berakhir, ia berharap bahwa Rach bisa menginjinkan Lina keluar rumah.
Pantas saja tuan gak bisa di tlp HP nya di matiin, hah lebih baik aku hibur nona terlebih dahulu agar ia tidak terlalu stress berada di rumah terus.
" Nona lihat saya bawakan salad untuk nona, ayok di makan dulu. " Ujar Silvi terlihat Lina sedang bengong di balik jendela, ia sedang menatap ke arah luar.
Sambil menghadap ke arah Silvi Lina tersenyum datar, dia menghampiri Silvi dan mulai memakannya secara perlahan, di sela-sela itu hp Silvi berbunyi menandakan bahwa ada pesan masuk ia langsung segera membuka kunci hpnya dan langsung melihat isi pesan tersebut.
( Sil, saya sudah konsultasi kepada dokter yang menangani nona dan katanya kalian bisa keluar hanya satu jam saja tapi di taman atau lingkungan sekitar rumah, tidak boleh yang terlalu ramai maupun banyak asap, dan tuan sudah mengijinkan nya sesuai waktu yang di berikan dokter, minta supir yang mengantar kalian. ) Isi pesan tersebut yang membuat Silvi tersenyum ia senang akhirnya dia bisa membawa Lina pergi jalan-jalan.
__ADS_1
" Ayok nona kita bersiap. " Ujar Silvi sambil menaruh kembali hpnya.
" Bersiap kemana? " Tanya Lina dengan wajah bingung.
" Kita pergi ke taman, kata tuan kita boleh keluar rumah tapi hanya satu jam. Maaf nona saya minta izin kepada tuan tanpa persetujuan nona. " Ujar Silvi.
Lina kembali tersenyum dan berkata. " Tidak papa yang penting kita bisa pergi keluar. " Jawab Lina dia pun berdiri dan mengambil baju hangat.
Setelah itu baru mereka bersiap untuk pergi jalan-jalan, wajah Lina jauh lebih segar dan ia kini kembali tersenyum, walaupun wajahnya masih sedikit pucat.
Ini adalah kehamilan pertama Lina, dan baru pertama kali merasakan ngidam, di awal kehamilan walaupun begitu ia juga cukup tertekan dan sedih, bahwa kandungan nya sedikit bermasalah, yang membuat dirinya tidak bisa menikmati kehamilannya seperti wanita-wanita hamil pada umumnya, dia setiap hari hanya bisa tidur dan minum obat yang cukup banyak.
Bahkan kelelahan sedikit saja perutnya langsung sakit, dia harus ekstra menjaga buah hatinya, semua makanan harus di jaga agar tidak membahayakan kesehatan janinnya.
Selesai Sampai di taman yang terlihat sejuk dan banyak pohon rindang, bahkan sangat nyaman untuk bersantai sambil tersenyum Lina akhirnya bisa menghirup udara segar, tenyata di taman banyak juga ibu hamil yang sedang duduk santai di taman.
Lina berjalan perlahan mengelilingi taman dan sesekali duduk di kursi taman. Sambil melihat-lihat anak kecil yang sedang bermain.
Dan saat Lina terduduk ada bola yang bergelinding ke arah kakinya. Lina pun dengan sigap mengambil bola tersebut dan terlihat anak laki-laki mulai menghampiri Lina.
" Maaf tante,, gak sengaja tadi bolanya terlempar. " Ujar anak tersebut dengan suara yang menggemaskan.
Lina tersenyum sambil mengelus rambut anak tersebut dan menyerahkan bola tersebut. " Tidak papa lain kali hati-hati ya. " Ujar Lina anak itu tersenyum.
Dan kembali berkata. " Tante sendirian di sini? " Tanya anak kecil tersebut.
Lina menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah Silvi dan supir yang sedang melihat mereka dari kejauhan, anak itu membulatkan mulutnya dan mengangguk tanda ia mengerti.
" Tante di temanin, kan bukan anak kecil kaya iki ko masih di temanin si, Iki aja gak di temani mamah. " Ucap nya dengan sangat menggemaskan.
" Nama Adek Iki? Emang mamanya kemana? " Tanya Lina semakin penasaran kepada anak yang sangat pintar tersebut.
" Iya,, Tante siapa? Mama ada di mobil katanya panas kalau di taman dan masih banyak pekerjaan. " Ujarnya sambil menirukan gaya bicara ibunya.
Lina terkekeh mendengar nya anak ini begitu pintar, padahal mungkin usianya baru berusia empat tahun.
__ADS_1
" Nama Tante Lina. " Jawab Lina sambil masih terkekeh..