
[ Ups! Aku cuma kasih imformasi doang! Kalau gitu nanti tidak aku kasih tau lagi deh! ]
Bibir Aziel tertaut ketika mendengar Sistem yang beberapa waktu ini menemaninya merajuk. Namun seperti biasa, wataknya yang kaku, membuatnya tak berniat untuk membujuk Sistem itu.
Apalagi saat ini Aziel sedang membicarakan hal penting bersama pria tua yang harusnya sebaya dengan dirinya jika masih hidup. Ia ingin tahu, amalan apa yang harus diperbuat supaya pahala yang dikumpulkan bisa membuatnya bisa masuk ke surga.
"Apa kamu benar-benar yakin ingin melakukannya untuk orang tuamu?" tanya Ustadz Syahrul kembali.
"Tentu saja Pak Ustadz. Saya benar-benar ingin melaksanakannya." Mata coklat milik Aziel menggambarkan betapa seriusnya dia saat ini dalam pembicaraan kali ini.
"Apa kamu pernah menghapal beberapa ayat pendek selama ini?"
Aziel tersentak dan kembali de javu pada masa ia sekolah dulu. Ia yang selalu berpindah, hanya mengingat melakukan hal tersebut pada saat duduk di bangku sekolah dasar. Setelah itu, otaknya berpikir kembali menghitung dan ternyata sudah lebih dari empat puluh tahun yang lalu.
"Bagaimana Nak Aziel, apakag kamu pernah mencoba menghapal ayat-ayat pendek? Saya rasa di sekolah sering sekali diadakan penilaian hapalan ayat pendek kan?"
Aziel mengeluarkan cengirannya, menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. "Iya, dulu waktu masih SD. Udah lama enggak."
"Loh? Bukannya kamu masih sekolah? Masa tidak ada hapalan?"
Aziel memutar otaknya kembali mencari alasan lain. "Oh, saya sering bolos akhir-akhir ni, Pak. Makanya mulai hari ini saya putuskan untuk taubat."
"Subhanallah ... Semoga selalu istiqomah." ucap Ustadz Syahrul.
[ teeeeet ] Notifikasi pertanda bahaya kembali masuk.
[ Kamu sudah berbohong! Dana kamu dikurangi tiga ratus ribu rupiah! ]
__ADS_1
Kening Aziel langsung berkerut mendengarnya. "Bukannya pemotongan karena kesalahan cuma gocap? Kenapa kali ini enam kali lipatnya?" rutuk Aziel refleks karena merasa tidak terima. Baru saja ia merasa bahagia, malah harus mendapat kenyataan pahit lagi.
"Apanya yang dipotong gocap?" tanya Ustadz Syahrul kembali.
Aziel melirik pria di hadapannya, lalu menutup mulut. Ia takut akan menjawab pertanyaan pria baik ini dengan bertambahnya kebohongan. Aziel melirik buku panduan salat tadi kembali.
"Apa boleh saya bawa ini pulang, Pak Ustadz?"
"Oh, tentu." Ustadz Syahrul menyerahkan satu Al Quran kepada Aziel. "Ini kamu hapalkan di rumah! Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari."
"Dari Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa membaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan memberikannya hak syafaat untuk 10 anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka."
"Jadi, jika kamu bisa menghapal Al Quran, maka kamu bisa menyelamatkan orang tuamu dari siksaan api neraka."
Di dalam kepala Aziel seketika berkelumit dengan orang-orang yang akan dia selamatkan. 'Jadi, jika aku berdoa, berarti itu untuk kedua orang tuaku yang sudah tiada. Sekaligus menyelamatkan diriku juga. Lalu, bagaimana caranya supaya bisa menghapalnya? Aku juga belum lihai membaca tulisan Arab. Tapi, tadi ... Dengan begitu saja bacaan salat melekat dalam kepalaku. Apa kali ini juga bisa seperti itu?'
"Terima kasih, Pak. Nanti jika semua sudah beres, saya akan berusaha melaksanakan salat lima waktu di mesjid. Supaya pahala saya bertambah, dan amalan yang akan saya bawa ke akhirat nanti juga semakin banyak."
Ustadz Syahrul menganggukan kepala mengusap jenggot yang menggelantung di dagunya. Aziel menganggukan kepala mohon diri untuk meninggalkan mesjid, dan ia sendiri bingung harus menuju ke mana.
"Sist?"
[ .... ]
Tak ada jawaban dari Sistem.
"Sist?"
__ADS_1
[ .... ]
"Ooh, kamu ngambek ya? Makanya danaku dikurangi sampai enam kali lipat?"
[ .... ]
Aziel mulai melangkahkan kaki ke sembarang arah. Langit pun mulai semakin merah di ufuk barat tetapi ia masih belum memiliki tujuan yang jelas. Ketika melihat sebuah gubuk yang tidak berpenghuni, ia memutuskan untuk berhenti di sana.
Kebetulan di sana ada sebuah bangku panjang yang lusuh dan reot. Awalnya ia mencoba mendudukinya, dan sepertinya terasa cukup kuat. Ia pun membaringkan tubuhnya.
[ Kenapa tidur di tempat ini? ]
"Saya kan tidak punya rumah. Udah selesai ngambeknya?"
[ Bujuk kek! ]
"Nggak pandai bujuk manusia, apalagi bukan manusia."
...****************...
Siapa tau ada yang mau mampir pada karya teman saya.
Napen: Diyah Pratiwi
Judul: Srigala Hitam
__ADS_1