
[ Saat ini total saldo dalam akunmu adalah Rp316.000.000,- ]
"Wwaaaawwwwww!" Aziel refleks bersorak kegirangang.
Joki kaget karena Aziel tiba-tiba saja bersorak seperti tadi. "Kenapa lu?"
Aziel terkekeh mengingat apa yang terjadi. Tanpa perlu bekerja keras, ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam kurun waktu 24 jam pasca dihidupkan kembali dalam tubuh anaknya. Tapi memang tidak sebanyak ketika menjual organ dengam harga miliaran sekali panen semua organ. Akan tetapi, pekerjaan yang ia lakoni sungguh penuh dengan risiko.
Berbeda sekali dengan yang ia lakukan saat ini. Pekerjaannya hanya membagi-bagikan uang saja. Setiap pekerjaan di luar misi, ia mendapatkan bonus berkali lipat dari saldo yang ada.
"Ayooo, kita kerjakan ini dengan ikhlas. Semoga kebaikan dan keberkahan dalam melaksanakan pekerjaan ini, bisa membukakan rezeki yang berlimpah," ajak Aziel mendorong Joki melanjutkan pekerjaan dalam menyapu jalanan.
"Woooi! Apa hubungannya bekerja bersih-bersih ini sama rezeki? Ketemu uang jatuh di jalanan?" cecar Joki bersungut menyapu daun-daun dan sampah yang ada di pinggir jalan.
"Makudku amalan membawa kita ke surga! Segala sesuatu dilakukan dengan ikhlas, maka akan berbalik dengan kebaikan bagi kita yang melaksanakannya." Aziel kali ini tampak sedikit ceria. Pria yang ada di dalam tubuh bocah itu, cukup bahagia, membayangkan anaknya memiliki cukup uang dalam menjalani kehidupan setelah ia benar-benar pergi.
Mata Aziel, kembali melirik warung ayam franchise yang tampak sepi dan suram. Dengan iseng ia bergerak menuju warung itu.
__ADS_1
Melihat kehadiran bocah tampan rapi tetapi membawa sapu lidi dan pengki sepanjang jalan, membuat pria berpakaian rapi pengelola tempat itu menyambutnya dengan cara tidak terduga.
"Kau gembel? Kenapa masuk ke warung ini?" bentaknya.
Tentu saja Aziel sangat terkejut mendapatkan sambutan yanga sangat ramah itu. "Ah, saya ... mau ...."
"Tidak ada!" bentaknya. Dia bersidekap dada, secara tidak langsung seakan mengusir Aziel dari tempat itu.
"Saya belum selesai bertanya, Pak. Kenapa sudah Anda sela? Bukan kah dalam berbisnis itu kita harus mengutamakan attitude?"
"Baah! Apa itu attitude? Warung ini sebentar lagi hanya akan tinggal nama! Managernya sudah bersiap hengkang dan meninggalkan tempat ini."
Sang penanggung jawab mendengkus. "Kenapa kau tanya-tanya?"
"Om saya sedang mencari toko seperti ini, Pak. Saya rasa, Om saya tidak akan keberatan untuk menjadi pemilik selanjutnya."
Pria bertubuh tambun, dengan kancing-kancing baju yang telah merenggang dari posisinya menatap Aziel dengan wajah remehnya. Kali ini, ia memperhatikan Aziel dengan sangat seksama.
__ADS_1
Dari wajahnya saja, ia sudah bisa menebak bahwa bocah ini masih lah dalam usia sekolah. Wajahnya bisa dibilang sangat bersih dan tampan.
'Sepertinya dia anak orang kaya,' batinnya.
Namun, keningnya berkerut saat melihat apa yang ia pegang sama persis dengan bocah yang ada di pinggir jalan. "Dia itu, kawan kau?"
"Benar, kami sedang mengabdi pada masyarakat di sekitar sini, untuk bersih-bersih."
Sang penanggung jawab itu menganggukan kepala mantap. "Bagus! Jiwa sosial kau ini sepertinya cukup tinggi."
Aziel menanggapi perkiraan yang salah itu dengan cukup tenang. "Kira-kira, berapa biaya yang harus dikeluarkan agar Om saya bisa memiliki ini?"
Sang penanggung jawab masih menilik Aziel ini dengan wajah sedikit ragu. Ia takut, jika Aziel akan sangat terkejut mendengar angka yang akan dia sebutkan.
"Kau yakin, Om-mu bisa membayar semuanya?"
"Tentu!" jawab Aziel dengan mantap.
__ADS_1
"Bilang pada Om kau itu, siapkan dana sebanyak dua ratus juta! Maka warung ini akan menjadi miliknya!" ucap si Penanggung Jawab.
"Beneran cuma segitu, Pak? Kok murah?"