
Walau pun Aziel merasa sedikit gugup saat menatap Kepala Sekolah dalam ruangannya itu, tetapi Sistem telah menjamin keamanannya. "Apa yang menyebabkan Bapak memanggil saya?" Aziel mengulangi pertanyaannya kembali.
Pak Zal yang sudah terperangkap ilusi yang dibuat Aziel, mulai mengambang langit-langit ruangan kantor tersebut. "Ah, kamu? Tadinya mau Bapak ... Bapak ...." Pak Zal menyugar rambutnya. Ia tengah mencoba mengingat sesuatu.
"Kamuuu, tadi itu udah sarapan apa belum?" Kepala sekolah terpaksa mengubah pertanyaannya.
"Ekheeemm ...." Pria paruh baya yang duduk di samping siswa yang mengalami patah tangan itu terlihat kesal karena orang yang diharap untuk menegur siswa yang menyakiti anaknya, ternyata malah memberikan perhatian.
"Oh, Pak Raharja? Anda sudah berada di sini?" tanya Pak Zal semakin bingung.
"Anda jangan bercanda dengan saya, Pak Zal. Kita ini bukan sedang bermain drama!" ucap pria paruh baya yang dipanggil Pak Raharja, itu.
Pak Zal melihat segelas air putih miliknya berada di atas meja. Ia sungguh kebingungan dengan situasi saat ini. Ia kembali mencoba mengingat, akan tetapi tak ada bayangan sama sekali harus bercerita tentang apa.
"Ekheemm ... seperti Pak Zal sedang bingung. Biar saya saja yang bicara!" ucap Pak Raharja.
Aziel segera menatap pria paruh baya itu langsung pada bola matanya. Namun, pria itu memutar kepala dan melirik putra bungsunya ini.
"Saya dengar dari Dandy, tangannya cidera karena ulahmu."
Aziel turut menatap Dandy, dia tidak menjawab, menunggu apa lagi rangkaian kalimat yang akan keluar dari mulut Pak Raharja.
"Kamu tahu tidak, berapa biaya perawatan yang kami keluarkan untuk mengobati tangan anak kami yang patah karena ulahmu ini?" Pak Raharja kali ini menatap lurus pada bola mata Aziel.
[ Sekarang! ]
Aziel menatap dalam pada netra gelap milik Pak Raharja, dia tersentak dan beberapa saat kemudian persis berlaku seperti Pak Zal tadi. Ia tampak kebingungan membuat Dandy yang berada di sampingnya merasa heran.
"Papi kenapa?" Ia mengguncang lengan sang ayah.
__ADS_1
"Ah, Dandy ... kenapa Papi berada di sini?" Ia melirik jam tangan dan sekejap menepuk kening. "Hari ini Papi ada pertemuan penting dengan kepala dinas," ucapnya.
Dia bangkit, tetapi ditahan oleh putranya. "Pi, urusan menghukum anak itu belum selesai! Papi sama Pak Zal ini kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini? Ini lari dari rencana!" Dandy pun menantang mata Aziel.
[ Sekali lagi! ]
Aziel memberikan perintah di dalam pikiran lewat tatapannya itu agar Dandy melupakan segala kejadian saat tangannya patah. Dandy mengangguk dan sekarang tiga orang ini tidak mengingat apa pun.
"Pak, saya permisi ingin kembali ke kelas," ucap Aziel pamit tanpa pikir panjang lagi. Ia keluar menghela napas panjang. Setelah itu, ia kembali ke kelas.
Joki teman sebangkunya langsung menyerobot dengan berbagai pertanyaan. Namun, Aziel memilih diam tidak mengatakan apa-apa.
*
*
*
Aziel memberikan kode agar Joki tidak mengikutinya. Joki menghentikan langkah, saat menyadari Aziel terus menjauh darinya. "Apa dia marah sama gue ya? Apa salah gue?"
[ Ding Ding ]
[ Karena kau sudah menyelesaikan belajar dengan baik, meskipun sedikit huru hara, kali ini kau kuberi bonus. ]
Aziel mendengar ucapan Sistem yang menggema di dalam benaknya.
[ Kau mendapat dana tambahan sebesar Rp5.000.000,- ]
[ Tadi pagi dana yang kau ambil sebesar Rp10.000.000 dari saldo sebesar Rp63.000.000. ]
__ADS_1
[ Jadi, dana yang ada saat ini sebesar Rp58.000.000,- ]
[ Jika kau bisa membuat dana itu habis dalam waktu setengah jam untuk sesuatu yang berkah, maka kau akan aku beri bonus 10x lipat dari dana saat ini. Lalu kau akan ku beri satu motor sport yang hanya ada 120 unit di dunia ini. ]
Aziel terkekeh mendengar penawaran misi dari Sistem. Tentu saja sangat mudah baginya menghabiskan semua itu. Apalagi, mendengar akan mendapatkan sebuah motor dengan unit yang langka.
"Kau tahu Sist? Jika dari dulu aku memilikimu, mungkin aku tak akan pernah mengenal praktek perdagangan organ. Anakku juga tidak akan membenciku semenjak kecil."
[ Misi dimulai dalam waktu tiga detik mulai dari sekarang! ]
"Hah? Sekarang?"
[ Tiga, dua, satu! ]
Aziel tidak diberi kesempatan untuk berkata. Kali ini dia gunakan media tas untuk menarik uang-uang itu. "Semuanya! Keluar lah dari akun gaibku!"
Dalam sekejap, tas itu dipenuhi oleh uang. Aziel berlari menuju mesjid yang sedang dalam pembangunan, mengeruk berapa pun uang yang ia dapatkan. Ia mencari orang yang terlihat bertanggung jawab dalam pembangunan itu.
"Pak, ini buat pembangunan mesjid ini, semoga berkah."
Sang penanggung jawab kebingungan mendapat setumpuk uang tanpa amplop secara tiba-tiba. Namun, belum selesai mengucapkan terima kasih, anak berseragam itu telah jauh berlari.
[ Waktumu sudah berlalu selama lima menit. Dana yang masih bersisa sebanyak 48 juta! ]
Aziel melirik ke kiri dan ke kanan. Ia berlari menuju sebuah warung nasi yang tertulis 'MAKAN GRATIS.' Setengah berlari ia menuju warung itu dan melihat orang-orang lusuh tampak lahap menikmati makanan yang ada di sana.
Aziel mengeruk berapa pun yang ia dapatkan. "Bu, ini buat makanan gratis buat esok dan beberapa waktu ke depan. Semoga berkah."
"Alhamdulillah," ucap wanita pengelolanya. "Eh, tapi di mana dapat uang seba—" Belum usai bertanya, sang pemberi rezeki telah hilang. Ia kebingungan karena mendapat uang yang banyak dari anak yang masih berseragam sekolah.
__ADS_1
"Sepertinya anak itu punya banyak uang," ucap beberapa orang yang memperhatikan Aziel.
Beberapa dari mereka tampak saling kode. Lalu berjalan cepat menuju arah Aziel berlari.