
[ Coba lah kau tebak sendiri! ]
Aziel mengernyitkan kepala menyugar rambut dengan kedua tangannya. Rasa nyeri yang luar biasa terasa di kepalanya. Sepintas bayangan lewat menggambarkan ia terakhir berada di depan makam seorang Arsen.
"Ah, apakah anakku bangun kembali?"
[ Begitu lah. Dia lah yang menyebabkanmu masuk ke tempat ini. ]
"Apakah dia tertangkap karena mencuri?"
[ Hmmm, awal mulanya sih seperti itu. Tapi, sepertinya karakter jumawa yang ada dalam dirimu, melekat padanya. ]
Aziel menghela napas menggenggam jeruji tersebut dengan kedua tangannya. Jeruji ini mengingatkannya pada masa kelam pernah berada di dalam tahanan ketika tertangkap oleh interpol dulu.
"Aziel, apa yang harus Papa lakukan untuk membebaskan tubuh ini?"
[ teeet ]
Aziel sangat hapal dengan suara tanda tersebut. Itu adalah suara peringatan akan kesalahan yang sudah lama tidak ia dengar.
"Kenapa lagi kali ini?"
[ Anakmu tidak melaksanakan salat Magrib dan Isya! Poin amalmu dikurangi! ]
"Lah? Itu kan bukan salah saya?"
[ Ya, salah kamu! Kenapa kamu tidak mendidik anakmu dengan baik semenjak ia hadir di dunia ini? ]
Aziel kembali menggaruk kepalanya dengan kasar.
Beberapa waktu kemudian, Aziel menggoyang-goyangkan gembok yang ada pada bagian pintu. Polisi yang mendengarkan mendekatinya.
"Apa lagi? Mau sahur?" sindir polisi tersebut melirik waktu yang masih menunjukan pukul dua belas malam.
"Saya belum salat, Pak."
"Ya, salat aja sanah!" bentak sang polisi.
"Tapi saya kebelet pipis, Pak. Saya juga belum berwudhu." Kedua tangan Aziel keluar dari jeruji menyatu karena ditangkupkan.
"Heleeeh!" Polisi tersebut terlihat gusar. Akhirnya ia membuka kunci gembok tahanan, menemani Aziel menuju toilet di dalam kantor polisi tersebut.
Setelah itu, ia kembali ke ruang tahanan sementara langsung menunaikan salat isya dan tarawih yang tertinggal. Polisi yang memperhatikannya hanya menggeleng kepala heran akan tingkah laku remaja ini.
"Pak, apa punya Alquran?"
__ADS_1
"Buat apa?"
"Saya mau menghapalnya pak. Malam ini harus menyelesaikan juzz kedua."
Sang polisi terperangah mendengar ucapan pria muda yang tiba-tiba berubah karkater dibanding ketika ia ditangkap tadi. Namun, akhirnya polisi tersebut menyerahkan Alquran kecil yang tersimpan pada rak yang tak jauh darinya.
"Terima kasih, Pak."
Aziel mengambil posisi nyaman dan memulai membaca Al-Baqarah 142 hingga 252. Sebelas ayat itu dibaca dengan lancar, dan irama yang indah. Polisi yang bertugas malam, tiada henti melirik memegang dada mendengar syahdunya suara Aziel dalam melantunkan ayat suci tersebut.
Setelah menyelesaikan, mushaf (Alquran kecil) itu ditutup dan kali ini ia mengulanginya sedari juzz 30, disambung juzz pertama, dan juzz kedua.
"Shadaqallahul 'adzim ...." Aziel mengusap mushaf tadi ke wajahnya dan ia baru sadar di luar sel telah berjejer para pria berseragam bertugas di malam ini.
"Nak, kenapa tadi kamu ugal-ugalan di jalan? Kalau kamu mematuhi lalu lintas, mungkin kamu tidak ditangkap. Orang tuamu mana? Kenapa tidak ada yang datang menjemputmu?" tanya salah satu polisi yang mengusap air matanya ketika Aziel menyelesaikan menyetor hapalan ayatnya.
"Saya yatim piatu, Pak. Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia. Saya hanya sendirian di dunia ini."
Para polisi itu terlihat semakin prihatin terhadap Aziel. "Waaah, kamu pasti sedih hidup sebatang kara? Namun, kenapa kamu bisa membawa motor mewah itu tanpa surat yang jelas?"
"Aaah, itu adalah motor hadiah, Pak."
*
*
*
[ Kamu telah menyelesaikan tiga dari tiga puluh juzz yang harus kamu hapal! ]
[ Namun, ada berita buruk untukmu."
"Apa itu?"
[ Setiap satu jam Aziel bangun, maka masa menambah amalmu akan berkurang satu hari. Tadi, Aziel sudah menghabiskan masa selama sepuluh jam, maka, kamu akan kehilangan sepuluh hari masa hidupmu menumpang pada tubuh anakmu. ]
Aziel tampak tertegun. Ia mulai mencoba menghitung masa yang telah ia habiskan selama menumpang pada tubuh anaknya.
[ Sepertinya, kamu harus mempercepat tugasmu dalam menambah amal kebaikan! Aku tidak bisa memprediksi kapan anakmu akan terbangun lagi! ]
[ Sisa waktu menambah amalmu saat ini tinggal enam puluh hari lagi. ]
"Jadi, aku hanya bisa mengumpulkan amalan dunia tinggal enam puluh hari lagi? Hmmm ... Baik lah ... usai sahur ini, aku harus melakukan sesuatu yang tidak boleh membuat anakku bangun."
*
__ADS_1
*
*
Usai membangunkan Joki, ia disambut pelukan hangat sang rekan satu rumahnya. Namun, Aziel yang sudah terfokus dengan pikirannya, segera mencari makanan yang bisa ia nikmati untuk sahur kali ini. Ternyata, masih kurma dan susu uht saja.
"Gue nggak sempat cari lauk!" ucap Joki yang ogah-ogahan menyantap makakan Rasul itu.
Setelah menghabiskan segelas susunya, Aziel segera membersihkan diri mengganti pakaian muslim dan sarung. "Cepat ganti pakaianmu dan berwudhu! Kita ke masjid! Kamu yang azan!" titah Aziel.
"Hah? Gue?"
*
*
*
Usai melaksanakan salat Subuh berjamaah, Aziel mendapat notifikasi ada dana masuk kembali dari Sistem. Namun, ia tak menghiraukan. Ia mengeluarkan sejumlah uang untuk dibagikan langsung ia berikan pada semua jemaah yang melaksanakan di mesjid pagi ini.
"Lah? Dapat rezeki usai salat subuh?"
"Iya, Pak. Moga berkah. Kalau Bapak tidak berhalangan jangan lupa salat di mesjid ya? Karena, kaum pria memang dianjurkan salat di mesjid," ucap Aziel.
*
*
*
Setelah uang yang ada di tangannya habis, para pasukan yang kembali heran akan perubaham sikap sang Tuan Muda, memilih ambil jarak yang jauh memasang sikap waspada tingkat tinggi.
"Kemari lah? Kenapa kalian menjauh seperti melihat hantu begitu?" Aziel merogoh kantongnya. Kepalanya liar mencari satu orang yang selalu ia percaya.
"Kano!"
Pria bernama Kano mendekat, meski pun ia merasa ragu. Kali ini ia yakin, Aziel yang saat ini hadir, bukan lah Aziel yang tadinya memanggil dia dengan 'Om.'
Aziel menyerahkan satu gepok uang. "Kali ini, saya serahkan padamu! Beli ayam sebanyak lima ratus kilo. Pastikan hari ini kalian sudah mendapatkan koki! Hari ini, saya akan pergi melaksanakan sebuah tugas."
"Tu-tugas apa gerangan, Tuan Muda? Biar kami bantu agar terasa lebih mudah," tawar Kano.
"Ini tugas khusus buat saya saja, tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Ingat, lima ratus kilo ayam. Nanti kalau sudah masak, seperti biasa, kalian bagikan! Sisakan sedikit untuk berbuka nanti!"
Kano mengangguk cepat. Aziel pun memutar tubuhnya. Hari ini, ia mendapat misi besar, melompat ke sebuah negeri yang baru saja mendapat serangan dari negara zionis.
__ADS_1