
Mendengar pertanyaan Aziel barusan, membuat Joki terkekeh. "Lu lagi main drama ya? Ini kan kandang kita."
Wajah Aziel mengernyit dan ia tampak kesakitan. "Ba-badan gue sakit semua," rintihnya. Matanya liar melirik ke segala arah. "Masa ini kita berada di kandang? Ini rumah, bukan kandang."
Tiba-tiba, matanya terbuka lebar. Ia teringat akan sesuatu. "Dandy dan kawan-kawannya habis menghajar gue. Gue pikir udah m4ti." Ia meraba seluruh tubuh yang terasa sakit luar biasa. "Atau, mungkin gue memang sudah m4ti?" Aziel mencubit lengan Joki.
"Aaggh," ringis Joki menepis jemari yang mencubitnya. "Sakit tau nggak? Kalau lu mau mencoba ini sebuah kenyataan atau bukan, lu cubit tubuh lu sendiri!" Joki mencubit lengan Aziel dengan gemas.
"Aaagh! Sakit!" Tangan Joki ditepis kasar dan Aziel bangkit dengan wajah datar.
Ia menatap Joki dengan hunusan tajam. "Kau main-main dengan saya?"
Joki merasa lengannya sedikit pegal. "Tangan lu itu kuat banget! Kayak bukan diri lu yang gue kenal!" Joki mengusap persendian yang ada di lengangnnya.
Aziel bangkit dan masuk ke dalam kamar mengunci diri. Ia mengusap wajah sedikit frustrasi. "Apakah baru saja anakku bangun sesaat?" tanya Aziel kembali.
[ Ya, dia terbangun karena efek sentruman itu. ]
"Kenapa kau sentrum aku?"
[ Karena kau tidak bisa mengendalikan diri. ]
__ADS_1
"Lalu, kenapa tiba-tiba aku muncul lagi?"
[ Karena anakmu tak kuasa menahan rasa sakit yang terjadi pada tubuhnya. Sehingga, ia kembali pingsan dan kemungkinan akan bangun kembali dalam satu waktu. ]
Aziel mengusap pelipisnya beberapa kali. Beberapa waktu kemudian, kedua tangan diusapkan pada wajahnya. Tak lama terdengar kumandang suara azan, langit pun menunjukan rona kemerahan pada ufuk barat.
Ia bangkit sejenak membersihkan diri dalam kamar mandi dan kali ini pemuda itu tampak lebih segar. Ia mengenakan pakaian bersih, kali ini menggunakan peci putih pemberian Ustadz Syahrul dulu.
Ketika membuka pintu, ia menemukan Joki terlihat bingung pada dirinya. "Lah? Ke mana lu?"
"Ayo salat ke mesjid!" ajak Aziel.
"Iya, saya minta maaf. Kamu mau ikut saya ke mesjid?"
Joki melirik tubuhnya yang masih belum berganti pakaian. "Mau tungguin gue mandi dulu?"
"Baik lah, tak masalah," ucap Aziel duduk tenang di atas sofa ruangan lepas yang ada di dalam rumah tersebut.
Beberapa waktu kemudian, kedua remaja tersebut berjalan beriringan menuju mesjid. Joki membuka beberapa obrolan yang membuat Aziel meliriknya.
"Sebenarnya lu ada berapa kepribadian?" tanya Joki.
__ADS_1
"Kenapa kau menanyakan itu?" Aziel menghentikan langkah menatap pemuda kurus yang ada di sampingnya.
Joki terlihat kikuk menggaruk pelipisnya dalam kebingungan. "Habisnya, lu bisa berubah dalam waktu singkat. Padahal, tadi beberapa saat gue merasa ketemu elu yang dulu. Kenapa sekarang balik lagi jadi Aziel rasa orang tua?"
Aziel melanjutkan langkahnya. Sekarang ia memahami apa yang dipikirkan oleh Joki. "Jangan kaget, jika saya berubah-rubah dalam beberapa waktu ke depan. Saya memiliki kepribadian ganda yang saya sendiri tidak dapat mengendalikannya."
Joki melongo mendengar penjelasan Aziel barusan. Dari arah mesjid, suara iqamah sudah terdengar membuat langkah kedua pemuda itu semakin dipercepat.
Bersyukur keduanya masih bisa melaksanakan salat berjamaah. Dan, Ustadz Syahrul memberikan sedikit tausiah singkat dengan tema selalu prasangka baik.
"Dalam Islam istilah untuk berpikir positif biasa disebut husnuzon, yang memiliki arti berpikir positif juga menyampaikan arti optimisme, memegang pendapat yang baik dan berpikir baik tentang orang lain."
"Ketika berbicara tentang berpikir positif, dalam Islam harus dimulai dengan berpikir baik tentang Tuhan itu sendiri. Terdapat hadis dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana dia mengatakan bahwa Allah berfirman,
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)."
"Dalam Alquran, Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang mengunjing sebagian yang lain. Apakah ada sebagian kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat Lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujuraat: 12)
"Kita harus menyadari bahwa tidak seorangpun dari kita yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Jadi kita tidak bisa hanya berfokus pada sisi buruknya dan bersikap sinis terhadapnya. Namun kita bisa melihat kebaikan pada orang tersebut dan selalu mengharapkan hal-hal yang baik dan positif dari mereka."
Semua jemaah mendengar tausiah itu dengan penuh khidmad. Setelah Ustadz Syahrul menutup ceramah tersebut, banyak jamaah berbondong-bondong mendekati Aziel.
__ADS_1